Setelah beberapa tahun berturut-turut meraih laba besar, Bank SMBC Indonesia akhirnya harus rela menerima realitas pahit di tahun 2025. Alih-alih untung, bank ini justru membukukan kerugian bersih sebesar Rp102,12 miliar. Angka itu tercatat tajam kontras dibanding laba bersih konsolidasi yang diraup tahun sebelumnya, yaitu sebesar Rp3,21 triliun.
Padahal, bukan berarti bisnis inti mereka tidak berkembang. Simpanan nasabah dan volume kredit tetap naik sepanjang tahun. Namun, beban operasional yang membengkak serta penurunan laba operasional jadi biang kerok utama tergerusnya profitabilitas bank ini.
Penyebab Utama Kerugian SMBC Indonesia di 2025
Penurunan performa keuangan SMBC Indonesia di tahun 2025 tidak datang begitu saja. Ada beberapa faktor penting yang memicu terjadinya kerugian ini. Semua dimulai dari lonjakan beban operasional dan penurunan pendapatan non-bunga.
1. Impairment Melonjak Lebih dari 100 Persen
Impairment atau kerugian karena penurunan nilai aset menjadi salah satu penyebab utama kerugian bank ini. Pada akhir 2025, pos impairment mencatatkan kenaikan hingga 107,95% secara tahunan menjadi Rp8,08 triliun. Bandingkan dengan angka tahun sebelumnya yang hanya Rp3,89 triliun.
Lonjakan ini menunjukkan adanya risiko kualitas aset yang mulai mengkhawatirkan. Bisa jadi disebabkan oleh portofolio pinjaman yang mulai macet atau aset produktif lainnya yang nilainya turun drastis.
2. Beban Operasional Lainnya Naik Hampir 43 Persen
Selain impairment, total beban operasional lainnya juga naik signifikan. Di tahun 2025, jumlahnya mencapai Rp15,36 triliun, naik 42,38% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp10,79 triliun. Ini termasuk berbagai biaya infrastruktur, teknologi, hingga regulasi yang semakin ketat.
3. Biaya Tenaga Kerja Naik Lebih dari 13 Persen
Beban tenaga kerja juga ikut menyusul. Dari tahun ke tahun, biaya ini naik 13,87% menjadi Rp5,52 triliun. Padahal tahun sebelumnya hanya mencatat Rp4,85 triliun. Lonjakan ini bisa disebabkan oleh ekspansi operasional atau penyesuaian gaji dan tunjangan untuk menjaga kualitas SDM.
Laba Operasional Anjlok, Rugi Non-operasional Meningkat
Laba operasional yang biasanya menjadi indikator kesehatan bisnis inti bank ini juga terpuruk. Di tahun 2025, laba operasional hanya mencapai Rp626,05 miliar, turun drastis 85,92% dibanding tahun sebelumnya yang mencatat Rp4,44 triliun.
Di sisi lain, rugi non-operasional juga terus melebar. Nilainya mencapai Rp344,72 miliar, naik 5,68% dari Rp326,21 miliar di tahun sebelumnya. Artinya, selain tekanan dari bisnis utama, SMBC juga terkena dampak dari aktivitas non-inti yang kurang menguntungkan.
Sebelum pajak pun, laba tahun berjalan hanya menyisakan Rp281,32 miliar. Turun 93,17% dibanding laba sebelum pajak tahun 2024 yang mencapai Rp4,12 triliun. Angka ini menunjukkan betapa besarnya tekanan keuangan yang dialami bank ini di tahun lalu.
Meskipun Rugi, Bisnis Inti Tetap Tumbuh
Meski rugi, bukan berarti semua segi bisnis SMBC Indonesia mandek. Faktanya, dua indikator utama bisnis perbankan mereka masih menunjukkan pertumbuhan positif.
1. Pendapatan Bunga Bersih Naik Hampir 5 Persen
Pendapatan bunga bersih, yang merupakan selisih antara pendapatan bunga dan beban bunga, naik 4,94% menjadi Rp15,99 triliun. Tahun sebelumnya, angka ini baru mencapai Rp15,24 triliun. Ini menunjukkan bahwa bank masih mampu memperoleh pendapatan dari aktivitas pinjam-meminjamnya.
2. Pendapatan Lainnya Naik 15,55 Persen
Selain itu, pendapatan lainnya juga naik cukup baik, yaitu 15,55% menjadi Rp1,13 triliun dari Rp978,70 miliar di tahun sebelumnya. Ini bisa berasal dari fee transaksi, layanan digital, hingga produk investasi yang ditawarkan kepada nasabah.
Pertumbuhan Kredit dan Dana Nasabah Masih Sehat
Salah satu pencapaian positif SMBC Indonesia di tengah kondisi sulit adalah pertumbuhan kredit dan simpanan nasabah yang tetap solid.
1. Penyaluran Kredit Naik 3,43 Persen
Total penyaluran kredit bank ini mencapai Rp175,03 triliun, naik 3,43% dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp169,23 triliun. Ini menunjukkan bahwa permintaan pinjaman dari korporasi maupun individu masih cukup tinggi.
2. Dana Pihak Ketiga Naik 7,98 Persen
Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun juga naik 7,98% menjadi Rp131,00 triliun. Tahun lalu, jumlahnya baru mencapai Rp121,31 triliun. Kenaikan ini menunjukkan bahwa masyarakat masih percaya menitipkan dananya di bank ini.
3. CASA Naik 16,74 Persen
Struktur pendanaan juga semakin efisien. Dana murah atau Current Account and Savings Account (CASA) naik 16,74% menjadi Rp53,22 triliun dari Rp45,58 triliun tahun sebelumnya. Ini penting karena dana murah memberikan margin yang lebih tinggi bagi bank dalam menjalankan bisnisnya.
Perbandingan Kinerja Keuangan SMBC Indonesia: 2024 vs 2025
| Indikator | 2024 | 2025 | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|
| Laba Bersih | Rp3,21 Triliun | -Rp102,12 Miliar | -103,17% |
| Impairment | Rp3,89 Triliun | Rp8,08 Triliun | +107,95% |
| Beban Operasional Lain | Rp10,79 Triliun | Rp15,36 Triliun | +42,38% |
| Beban Tenaga Kerja | Rp4,85 Triliun | Rp5,52 Triliun | +13,87% |
| Pendapatan Bunga Bersih | Rp15,24 Triliun | Rp15,99 Triliun | +4,94% |
| Pendapatan Lainnya | Rp978,70 Miliar | Rp1,13 Triliun | +15,55% |
| Total Kredit | Rp169,23 Triliun | Rp175,03 Triliun | +3,43% |
| DPK | Rp121,31 Triliun | Rp131,00 Triliun | +7,98% |
| CASA | Rp45,58 Triliun | Rp53,22 Triliun | +16,74% |
Apa Arti Kerugian Ini Bagi Prospek SMBC Indonesia?
Kerugian di tahun 2025 bukan berarti SMBC Indonesia sedang dalam krisis. Ini lebih merupakan penyesuaian terhadap tekanan makroekonomi, risiko aset, dan biaya operasional yang meningkat. Apalagi, kinerja bisnis inti seperti kredit dan simpanan masih menunjukkan tren positif.
Namun, bank ini perlu waspada. Lonjakan impairment dan beban operasional harus segera dikelola dengan baik agar tidak terus menggerogoti profitabilitas di masa depan. Terlebih jika kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih.
Kesimpulan
Bank SMBC Indonesia memang mengalami tekanan keuangan yang cukup besar di tahun 2025. Kerugian Rp102,12 miliar menjadi catatan pertama setelah beberapa tahun untung besar. Namun, bukan berarti semua buruk. Pertumbuhan kredit, simpanan, dan pendapatan bunga masih menunjukkan bahwa bisnis inti bank ini tetap solid.
Yang perlu diperhatikan ke depannya adalah bagaimana manajemen dapat mengendalikan beban operasional dan risiko aset agar tidak terus menggerus kinerja keuangan bank.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersumber dari laporan keuangan resmi SMBC Indonesia tahun 2025. Angka-angka dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kebijakan pelaporan dan regulasi yang berlaku.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.











