Nasional

Emas Naik Tajam Seiring Meningkatnya Ketegangan Diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran

Retno Ayuningrum
×

Emas Naik Tajam Seiring Meningkatnya Ketegangan Diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran

Sebarkan artikel ini
Emas Naik Tajam Seiring Meningkatnya Ketegangan Diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran

Harga emas kembali melonjak di tengah ketegangan geopolitik yang memanas antara Serikat dan . Lonjakan ini terjadi setelah AS dan Israel dilaporkan melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran, memicu kekhawatiran akan terjadinya konflik regional yang lebih luas. Investor pun langsung mencari aset aman, salah satunya emas, yang secara historis selalu jadi pilihan utama di masa ketidakpastian.

Pada perdagangan Senin, 2 Maret , harga emas spot naik 1,2% menjadi USD5.339,78 per ons. Bahkan sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi USD5.419,32 per ons, angka tertinggi sejak akhir Januari lalu. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS melonjak hingga 2% mencapai USD5.353,86. Lonjakan ini menunjukkan betapa kuatnya tarik emas sebagai instrumen ketika situasi global memanas.

Permintaan Emas Meningkat Akibat Ketegangan Geopolitik

Lonjakan harga emas ini tidak lepas dari eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Serangkaian serangan militer oleh AS dan Israel terhadap Iran, termasuk pemboman infrastruktur penting dan pelaporan kematian Ayatollah Ali Khamenei, memperburuk suasana. Investor langsung mengambil langkah antisipatif dengan memindahkan dana ke aset-aset aman seperti emas.

Selain itu, ada kekhawatiran bahwa konflik ini bisa mengganggu jalur pengiriman minyak global, khususnya Selat Hormuz. Gangguan di jalur strategis ini bisa berdampak pada pasokan energi global, yang pada gilirannya mendorong mentah dan memicu inflasi. Dalam kondisi seperti ini, emas menjadi pelindung dari erosi nilai mata .

Dampak di Pasar Keuangan Global

Guncangan geopolitik ini juga memicu reaksi cepat di . Saham-saham sempat anjlok di awal perdagangan, sementara harga minyak mentah melonjak tajam. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa emas akan terus diminati sebagai instrumen penyimpan nilai.

Menurut analis dari ING, kenaikan harga minyak dan ekspektasi inflasi yang lebih tinggi akan terus memberi tekanan positif pada harga emas. Selain itu, imbal hasil riil yang terkendali juga menjadi faktor pendukung permintaan emas. Dengan semua faktor ini, tidak heran jika investor lebih memilih bermain aman dengan membeli emas.

Pandangan Ahli terhadap Pergerakan Emas

Michael Brown, ahli strategi riset senior di Pepperstone, menyatakan bahwa ketidakpastian yang tinggi membuat penetapan harga risiko menjadi sangat sulit. Investor pun akhirnya memilih pendekatan “kurangi risiko sekarang, tanyakan kemudian” sebagai strategi utama. Ini menjelaskan mengapa emas langsung diserbu investor begitu situasi memanas.

Brown juga menilai bahwa kenaikan emas ke level USD5.400 per ons dan rekor sebelumnya di USD5.595 per ons menunjukkan bahwa masih ada ruang untuk naik lebih lanjut. Bahkan, ia memperkirakan emas bisa menyentuh level USD6.000 per ons menjelang akhir tahun.

Pernyataan Pejabat AS soal Durasi Konflik

Menteri Perang AS Pete Hegseth menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran tidak akan berlangsung lama dan tidak akan berujung pada “perang tanpa akhir.” Ia menegaskan bahwa tujuan utama adalah menghancurkan rudal, angkatan laut, serta infrastruktur keamanan Iran.

Presiden Donald Trump juga memberikan pernyataan bahwa pemerintahannya telah memperkirakan konflik ini akan berlangsung sekitar empat hingga lima minggu. Namun, ia menambahkan bahwa AS memiliki kapabilitas untuk memperpanjang operasi jika diperlukan.

Proyeksi Jangka Panjang dan Faktor Penopang Emas

Meskipun ada kekhawatiran bahwa ketegangan bisa mereda dan memicu penurunan harga emas, analis dari ING tetap optimis. Mereka menilai bahwa faktor struktural seperti pembelian emas oleh bank sentral dan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Federal Reserve akan terus menopang harga emas.

Sejauh ini, emas sudah naik hampir 25% sepanjang tahun ini. Lonjakan ini didorong oleh kombinasi risiko geopolitik, permintaan bank sentral, dan optimisme terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar di masa depan. Semua faktor ini menjadikan emas sebagai aset yang tetap menarik meskipun situasi global berubah-ubah.

Perbandingan Kinerja Logam Mulia Lainnya

Sementara emas melonjak, lainnya justru mengalami tekanan. Perak turun 6,7% menjadi USD87,5795 per ons. Platinum juga terkoreksi 2,1% ke level USD2.324,65 per ons. Hal ini menunjukkan bahwa investor lebih memilih emas sebagai pilihan utama di tengah ketidakpastian.

Di pasar tembaga, Kontrak Berjangka Tembaga Patokan di London Metal Exchange naik tipis 0,3% menjadi USD13.343,50 per ton. Namun, Kontrak Berjangka Tembaga AS justru turun 1,5% ke USD5,9690 per pon. Ini menunjukkan bahwa investor lebih memilih aset yang dianggap lebih aman dan stabil.

Logam Mulia Harga (USD per ons) Perubahan (%)
Emas 5.339,78 +1,2%
Perak 87,58 -6,7%
Platinum 2.324,65 -2,1%

Penutup

Lonjakan harga emas di tengah ketegangan AS-Iran menunjukkan bahwa investor masih memandang emas sebagai pelabuhan aman utama di tengah badai geopolitik. Dengan ekspektasi inflasi yang terus meningkat dan kebijakan moneter yang lebih longgar di masa depan, emas diproyeksikan akan terus menjadi sorotan.

Namun, perlu diingat bahwa data dan situasi geopolitik bisa berubah sewaktu-waktu. Oleh karena itu, informasi dalam artikel ini hanya bersifat referensi dan bukan sebagai saran investasi. Selalu lakukan analisis mandiri sebelum membuat keputusan finansial.

Retno Ayuningrum
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.