Permintaan pembiayaan syariah di sektor multifinance masih menyimpan potensi besar, terutama di bidang produktif dan kebutuhan dasar masyarakat. Meski daya beli masyarakat terus menghadapi tekanan, permintaan terhadap skema pembiayaan yang sesuai dengan nilai-nilai syariah tetap menunjukkan ketahanan. Kondisi ini membuka peluang sekaligus tantangan bagi perusahaan pembiayaan untuk berinovasi dan menyesuaikan diri.
Pertumbuhan pembiayaan syariah memang tidak bisa diharapkan melambung tinggi dalam kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Namun, dengan pendekatan yang tepat, sektor ini bisa menjadi andalan baru dalam memperkuat kinerja multifinance secara keseluruhan.
Potensi dan Tantangan Pembiayaan Syariah di Tengah Perlambatan Ekonomi
Permintaan masyarakat terhadap pembiayaan syariah saat ini lebih terarah pada kebutuhan produktif. Misalnya, kendaraan untuk mendukung aktivitas kerja atau modal usaha kecil menengah. Permintaan untuk pembiayaan ibadah seperti haji dan umrah masih ada, tetapi tidak secepat sektor produktif.
-
Permintaan lebih selektif
Masyarakat kini lebih memilih produk pembiayaan yang langsung memberikan manfaat nyata, bukan hanya status. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi perusahaan pembiayaan syariah untuk mengembangkan produk yang lebih relevan. -
Daya beli yang tertekan
Kelas menengah yang tergerus membuat permintaan lebih ketat. Perusahaan harus bisa menyesuaikan skema agar lebih fleksibel dan terjangkau.
Strategi Jitu Meningkatkan Kinerja Multifinance Lewat Pembiayaan Syariah
Untuk memanfaatkan peluang ini, perusahaan pembiayaan perlu merombak pendekatannya. Bukan hanya soal produk, tetapi juga cara menjangkau dan mendidik konsumen.
1. Menyesuaikan Tenor dan Skema Pembiayaan
Skema pembiayaan syariah harus bisa disesuaikan dengan kemampuan konsumen. Misalnya, tenor yang lebih pendek untuk produk produktif, atau opsi pembayaran yang fleksibel.
- Produk mikro syariah
Cocok untuk usaha kecil yang butuh modal cepat. - Pembiayaan kendaraan produktif
Dengan tenor yang disesuaikan agar tidak memberatkan.
2. Meningkatkan Asesmen Risiko
Pemberian pembiayaan harus didukung oleh sistem penilaian risiko yang akurat. Ini penting agar tidak terjadi over-leverage di kalangan konsumen.
- Evaluasi kemampuan bayar secara berkala
- Gunakan data digital untuk mempercepat proses analisis
- Terapkan sistem early warning untuk mencegah kredit macet
3. Edukasi Konsumen
Banyak masyarakat masih kurang paham tentang pembiayaan syariah. Edukasi yang tepat bisa meningkatkan kepercayaan dan minat masyarakat.
- Sosialisasi produk melalui komunitas lokal
- Kolaborasi dengan lembaga pendidikan keuangan
- Konten edukasi di media sosial dan aplikasi digital
Proyeksi Pertumbuhan Pembiayaan Syariah di 2026
Proyeksi pertumbuhan industri pembiayaan syariah pada tahun 2026 menunjukkan tren positif meski tetap moderat. Namun, dalam jangka menengah, pembiayaan syariah berpotensi pulih lebih cepat dibandingkan konvensional.
| Indikator | 2025 | Proyeksi 2026 |
|---|---|---|
| Piutang Pembiayaan Syariah | Rp30,84 triliun | ±Rp34 triliun |
| Aset Perusahaan Pembiayaan Syariah | Rp36,55 triliun | ±Rp38 triliun |
| Pertumbuhan YoY | 12,43% | ±10-12% |
Catatan: Data bersifat estimasi dan dapat berubah tergantung kondisi makro ekonomi.
Salah satu alasan optimisme terhadap pembiayaan syariah adalah model bisnisnya yang berbasis aset riil dan prinsip berbagi risiko. Dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu, pendekatan ini dianggap lebih stabil dan adaptif.
Peran OJK dalam Pengembangan Pembiayaan Syariah
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga terus bergerak untuk mendukung pengembangan sektor ini. Salah satunya dengan menyusun roadmap Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM dan LJK Lainnya (PVML) Syariah pada tahun 2026.
1. Penyusunan Roadmap PVML Syariah
Tujuan dari roadmap ini adalah untuk mendorong pengembangan dan penguatan tata kelola, manajemen risiko, serta inovasi produk di sektor syariah.
- Meningkatkan kapasitas lembaga
- Mendorong kolaborasi antar-pihak
- Menyediakan regulasi yang mendukung inovasi
2. Pertumbuhan Aset PVML Syariah
Aset PVML syariah pada akhir 2025 mencapai Rp119,35 triliun, naik 9,75% secara tahunan. Angka ini menyumbang sekitar 11,32% dari total aset PVML secara keseluruhan.
| Tahun | Aset PVML Syariah | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|
| 2024 | Rp108,75 triliun | – |
| 2025 | Rp119,35 triliun | 9,75% |
| 2026 (proyeksi) | ±Rp130 triliun | ±9-10% |
Disclaimer: Data di atas bersifat estimasi dan dapat berubah tergantung regulasi dan kondisi pasar.
Inovasi Produk dan Teknologi untuk Meningkatkan Efisiensi
Perusahaan pembiayaan syariah juga perlu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi operasional dan menjangkau lebih banyak konsumen.
1. Digitalisasi Proses Pembiayaan
Dengan digitalisasi, proses pengajuan hingga pencairan dana bisa lebih cepat dan transparan.
- Aplikasi mobile untuk pengajuan
- Verifikasi otomatis berbasis AI
- Dashboard real-time untuk monitoring
2. Kolaborasi dengan Fintech Syariah
Kemitraan dengan fintech syariah bisa memperluas jangkauan pasar dan mempercepat proses layanan.
- Pengembangan produk bersama
- Pemanfaatan data dan infrastruktur digital
- Peningkatan inklusi keuangan
Kesimpulan
Pembiayaan syariah memiliki potensi besar untuk menjadi pendorong kinerja multifinance di tengah tekanan ekonomi. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada strategi yang tepat. Mulai dari penyesuaian produk, peningkatan asesmen risiko, hingga edukasi konsumen.
Dengan dukungan regulasi dari OJK dan inovasi teknologi, sektor ini bisa tumbuh lebih stabil dan berkelanjutan. Yang terpenting, pendekatan harus tetap berpijak pada prinsip syariah dan manfaat nyata bagi masyarakat.
Disclaimer: Data dan proyeksi dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi makro ekonomi, regulasi, dan dinamika pasar.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













