Investasi

CIMB Finance Catat Dana LCGC Capai Rp18 Miliar pada Januari 2026

Rista Wulandari
×

CIMB Finance Catat Dana LCGC Capai Rp18 Miliar pada Januari 2026

Sebarkan artikel ini
CIMB Finance Catat Dana LCGC Capai Rp18 Miliar pada Januari 2026

Permintaan pembiayaan kendaraan LCGC (Low Cost Green Car) di PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) tercatat melambat di awal tahun 2026. Angka pembiayaan baru untuk segmen ini hanya mencapai Rp18 miliar pada Januari 2026, turun tajam dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan ini mencerminkan dinamika pasar otomotif nasional yang tengah mengalami pergeseran. Bukan karena kurangnya minat, melainkan karena semakin banyak yang mulai beralih ke opsi yang lebih ramah lingkungan dan harganya kian terjangkau.

Perlambatan Pembiayaan LCGC di Awal 2026

Ristiawan Suherman, Presiden Direktur CNAF, menjelaskan bahwa realisasi pembiayaan LCGC pada Januari 2026 turun 76,92% secara tahunan dari angka Rp78 miliar di Januari 2025. Kontribusi segmen ini terhadap total penyaluran baru hanya sebesar 3,2%.

Dari sisi portofolio, LCGC masih memegang porsi 7,5% dari total CNAF yang mencapai Rp13,5 triliun. Meski demikian, proporsi ini menunjukkan bahwa LCGC tetap menjadi segmen yang relevan dalam strategi pembiayaan kendaraan CNAF.

Penurunan ini sejalan dengan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang mencatat penjualan wholesales LCGC juga anjlok 22% secara tahunan. Artinya, bukan hanya CNAF yang merasakan dampaknya, tapi seluruh industri pembiayaan kendaraan.

Faktor-Faktor Penyebab Penurunan Pembiayaan

  1. Pergeseran preferensi konsumen ke mobil listrik
    Semakin banyaknya pilihan mobil listrik yang harganya kompetitif membuat konsumen beralih dari LCGC ke kendaraan berbasis listrik.

  2. Ketersediaan unit yang terbatas
    Beberapa model LCGC mengalami kendala pasokan unit, terutama di beberapa wilayah, sehingga membatasi permintaan pembiayaan.

  3. Kebijakan selektivitas
    CNAF menerapkan prinsip lebih ketat dalam menyalurkan pembiayaan untuk menghindari risiko kredit macet, terutama di segmen yang sensitif terhadap risiko.

Strategi CNAF untuk Meningkatkan Pembiayaan LCGC

Meski menghadapi tantangan, CNAF tidak tinggal diam. Beberapa telah dirancang untuk menjaga eksistensi segmen LCGC di tengah persaingan pasar.

  1. Memperkuat kolaborasi dengan ATPM dan dealer grup
    CNAF terus menjalin kerja sama dengan Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) dan jaringan dealer untuk memastikan ketersediaan unit kendaraan LCGC bagi nasabah.

  2. Fokus pada cross selling melalui Bank CIMB Niaga
    Sebagai bagian dari grup CIMB, CNAF memanfaatkan basis nasabah bank induk untuk menawarkan pembiayaan kendaraan secara lebih efektif.

  3. Digitalisasi proses
    CNAF mengedepankan kecepatan dan kemudahan dalam proses pengajuan pembiayaan. Digitalisasi membantu menjangkau lebih banyak calon nasabah dengan waktu respon yang lebih cepat.

Risiko Kredit dan Mitigasi yang Dilakukan

Rasio Non-Performing Financing (NPF) untuk segmen LCGC saat ini berada di atas 2%. Meski masih dalam ambang batas wajar menurut regulasi (maksimal 5%), CNAF tetap waspada.

Untuk itu, CNAF menerapkan langkah-langkah mitigasi risiko, di antaranya:

  • Selektivitas ketat dalam calon nasabah
  • Evaluasi histori kredit yang lebih mendalam
  • Penyesuaian skema pembiayaan sesuai kapasitas

Langkah ini diambil guna menjaga kualitas portofolio dan mencegah lonjakan NPF di masa mendatang.

Potensi Pasar LCGC di Tengah Persaingan Mobil Listrik

Meski pasar diguncang oleh hadirnya mobil listrik murah, CNAF tetap optimistis. LCGC masih memiliki daya tarik, terutama bagi konsumen pertama yang mencari mobil dengan harga terjangkau.

Ristiawan menilai bahwa LCGC masih memiliki peluang positif, asalkan bisa menyesuaikan diri dengan kebutuhan konsumen saat ini. CNAF pun terus mengevaluasi strategi agar tetap relevan di pasar yang dinamis.

Proyeksi Pembiayaan LCGC Sepanjang 2026

CNAF memproyeksikan bahwa pembiayaan LCGC sepanjang 2026 akan tetap berada di jalur positif. Meski pertumbuhannya cenderung melandai, segmen ini masih menjadi pilihan utama bagi pembeli mobil pertama.

Berikut adalah proyeksi pembiayaan LCGC CNAF di awal 2026:

Bulan Pembiayaan LCGC (Rp) Kontribusi terhadap Total (%)
Januari 18 miliar 3,2%
Februari (diperkirakan)
Maret (diperkirakan)

Catatan: Data bersifat estimasi dan dapat berubah tergantung kondisi pasar.

Respons APPI terhadap Penurunan Penjualan LCGC

Asosiasi (APPI) juga mencatat fenomena yang sama. Suwandi Wiratno, Ketua Umum APPI, menyatakan bahwa penurunan LCGC lebih mencerminkan pergeseran minat konsumen ke mobil listrik.

“Kalau dibilang turun, ya harus lihat mana yang naik. Mobil listrik yang naik. Artinya, ini bukan penurunan karena tidak diminati, tapi karena ada pergeseran pasar,” ujar Suwandi.

Dia mencontohkan mobil Toyota Veloz Hybrid yang dirilis akhir 2025 dan langsung laris manis. Harga mobil listrik saat ini juga sudah bersaing dengan LCGC, menjadikannya pilihan alternatif yang menarik.

Kesimpulan

Meski menghadapi tekanan dari pasar mobil listrik, segmen LCGC masih memiliki ruang di hati konsumen Indonesia. CNAF pun tetap optimis dan terus menyesuaikan strategi agar tetap relevan.

Dengan kombinasi kolaborasi industri, digitalisasi, dan mitigasi risiko yang ketat, CNAF berharap bisa menjaga konsistensi penyaluran pembiayaan LCGC sepanjang 2026.

Disclaimer: Data dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada dinamika pasar otomotif dan kebijakan regulator.

Rista Wulandari
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.