Finansial

Evaluasi Tingkat Kesiapan Teknologi Informasi Sektor Perbankan Menghadapi Lonjakan Layanan Digital Era 2026

Danang Ismail
×

Evaluasi Tingkat Kesiapan Teknologi Informasi Sektor Perbankan Menghadapi Lonjakan Layanan Digital Era 2026

Sebarkan artikel ini
Evaluasi Tingkat Kesiapan Teknologi Informasi Sektor Perbankan Menghadapi Lonjakan Layanan Digital Era 2026

Di tengah laju transformasi digital yang makin cepat, nasional terus berupaya memperkuat infrastruktur teknologi informasi. Langkah ini penting untuk menjaga kenyamanan nasabah yang kini lebih banyak bergantung pada ketimbang datang ke cabang. Namun, tantangan tetap ada. Gangguan sistem, meski sesekali terjadi, bisa memicu kekhawatiran soal kesiapan bank dalam menghadapi lonjakan penggunaan teknologi.

Salah satu contoh yang baru-baru ini terjadi adalah eror pada aplikasi BRImo milik BRI. Banyak nasabah yang panik karena saldo tidak muncul atau transaksi gagal. Padahal, itu hanya bagian dari pemeliharaan sistem rutin. Meski demikian, kejadian semacam ini jadi pengingat bahwa infrastruktur IT bank harus selalu siap menghadapi berbagai skenario, termasuk lonjakan trafik atau ancaman siber.

Kesiapan Infrastruktur IT di Sektor Perbankan

Perkembangan layanan digital di sektor perbankan memang tidak bisa ditahan. Tapi, seiring dengan itu, kesiapan infrastruktur IT jadi elemen krusial. Tanpa sistem yang kuat dan andal, semua inovasi digital bisa berujung pada kegagalan layanan. Banyak bank kini sudah mulai memperkuat fondasi teknologi mereka, baik dari sisi arsitektur, keamanan, hingga manajemen risiko.

1. Arsitektur Sistem yang Scalable dan Redundan

Bank seperti BTN telah menerapkan arsitektur high availability dengan sistem redundansi. Artinya, jika satu komponen gagal, sistem lain siap menggantikannya tanpa mengganggu layanan. Ini penting agar downtime bisa diminimalkan, bahkan saat terjadi gangguan .

2. Monitoring 24 Jam dan Change Management Ketat

Setiap perubahan sistem dilakukan melalui change management yang ketat. Termasuk pengujian menyeluruh sebelum implementasi. Perubahan biasanya dilakukan saat trafik pengguna rendah, agar risiko gangguan bisa ditekan seminimal mungkin.

3. Perencanaan Kapasitas Berdasarkan Data Historis

BTN juga melakukan perencanaan kapasitas secara berkala. Data historis dan proyeksi pertumbuhan transaksi jadi acuan utama. Dengan begitu, sistem bisa mengakomodasi lonjakan transaksi, terutama saat masa-masa tertentu seperti liburan atau promosi besar.

Strategi Mitigasi Risiko dan Pengelolaan Gangguan

Selain menjaga ketersediaan layanan, bank juga harus punya untuk menghadapi gangguan. Mulai dari gangguan kecil hingga skenario bencana sistemik. Di sinilah pentingnya Business Continuity Plan (BCP) dan Disaster Recovery Plan (DRP).

1. Penerapan Business Continuity Plan (BCP)

BCP adalah rencana jitu untuk memastikan operasional tetap berjalan meski terjadi gangguan. Misalnya, jika data utama bermasalah, bank bisa langsung beralih ke pusat data cadangan tanpa mengganggu aktivitas nasabah.

2. Disaster Recovery Plan (DRP) dan Pengujian Berkala

DRP lebih spesifik menangani pemulihan sistem setelah bencana. Bank seperti BTN rutin melakukan disaster recovery test minimal sekali dalam setahun. Selain itu, pengujian juga dilakukan sebelum peluncuran fitur baru.

3. Recovery Time Objective (RTO) dan Recovery Point Objective (RPO)

RTO adalah waktu maksimal sistem harus kembali normal setelah gangguan. Sementara RPO adalah titik waktu terakhir data yang bisa dipulihkan. Keduanya jadi parameter penting dalam menilai efektivitas DRP.

4. Stress Test dan Simulasi Gangguan

Bank juga melakukan stress test untuk melihat sejauh mana sistem bisa bertahan di bawah tekanan tinggi. gangguan rutin membantu tim IT mengantisipasi berbagai skenario buruk.

Investasi IT sebagai Fondasi Jangka Panjang

Tidak hanya soal pemeliharaan, investasi di bidang IT juga terus meningkat. BTN, misalnya, meningkatkan belanja modal untuk IT sekitar 10% di tahun 2026. Fokusnya ada pada penguatan infrastruktur, modernisasi core banking, pengembangan layanan digital, serta peningkatan keamanan siber.

Komponen Investasi IT Fokus Utama
Infrastruktur Server, jaringan, data center
Core Banking Pembaruan sistem inti perbankan
Layanan Digital Aplikasi mobile, internet banking
Keamanan Siber Firewall, enkripsi, deteksi ancaman

KB Bank juga punya strategi serupa. Mereka menyusun IT Roadmap 2026 yang menitikberatkan pada penguatan fondasi teknologi, peningkatan operational resilience, serta kapasitas sistem.

1. Penyempurnaan Tata Kelola IT

KB Bank memperbaiki kebijakan dan tata kelola IT agar lebih selaras dengan tujuan bisnis. Ini mencakup standarisasi teknologi dan peningkatan segmentasi jaringan.

2. Pembaruan Data Center dan Disaster Recovery Center

Investasi juga disalurkan untuk memperkuat data center dan pusat pemulihan bencana. Ini penting untuk memastikan data tetap aman dan sistem bisa pulih dengan cepat jika terjadi gangguan.

3. Peningkatan SDM dan Technology Asset Management

Bank juga meningkatkan kapasitas SDM di bidang IT. Selain itu, manajemen aset teknologi diperkuat agar semua dan sistem bisa dioptimalkan secara maksimal.

Peran Keamanan Siber dalam Stabilitas Layanan

Keamanan siber kini bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Dengan semakin banyaknya layanan digital, risiko serangan siber juga meningkat. Bank harus punya lapisan keamanan yang kuat untuk melindungi dan menjaga kepercayaan publik.

1. Enkripsi Data dan Firewall Canggih

Data nasabah dilindungi dengan enkripsi tingkat tinggi. Firewall juga diperkuat untuk mencegah ilegal ke sistem internal.

2. Deteksi dan Respon Terhadap Ancaman

Sistem deteksi ancaman memungkinkan bank merespons serangan secara cepat. Tim keamanan siber siap 24 jam untuk mengatasi potensi risiko.

3. Edukasi Nasabah tentang Keamanan Digital

Bank juga aktif mengedukasi nasabah soal pentingnya menjaga kerahasiaan data. Termasuk tidak mudah memberikan informasi pribadi dan waspada terhadap phishing.

Tantangan dan Peluang di Era Digital Banking

Meski banyak bank sudah memperkuat infrastruktur IT, tantangan tetap ada. Lonjakan penggunaan layanan digital, ancaman siber, hingga kebutuhan untuk terus berinovasi, jadi tantangan yang harus terus dihadapi.

Namun, di balik tantangan itu juga ada peluang. Bank yang mampu menjaga stabilitas layanan dan memberikan pengalaman digital terbaik akan semakin dipercaya nasabah. Investasi di bidang IT bukan hanya soal biaya, tapi juga soal membangun fondasi bisnis jangka panjang.

Kesimpulan

Kesiapan IT perbankan kini bukan lagi soal apakah sistem bisa digunakan, tapi sejauh mana sistem itu bisa bertahan di bawah tekanan. Dari BRI yang sempat mengalami eror, hingga BTN dan KB Bank yang terus memperkuat infrastruktur, terlihat bahwa perbankan nasional mulai sadar betapa pentingnya investasi teknologi.

Dengan strategi yang tepat, pengelolaan risiko yang baik, serta komitmen untuk terus berinovasi, perbankan Indonesia punya peluang besar untuk terus bersaing di era digital.

Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terbatas dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan teknologi serta kebijakan internal masing-masing bank.

Danang Ismail
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.