PermataBank (BNLI) tengah mengarahkan fokus pada pertumbuhan yang berkelanjutan daripada mengejar target kenaikan kelas ke KBMI IV secara agresif. Meski demikian, bank yang saat ini berada di kelompok KBMI III ini tetap membuka peluang untuk naik kelas jika memang sudah mencapai ambang batas permodalan yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Langkah strategis ini diambil karena naik kelas ke KBMI IV bukan sekadar soal pencapaian angka modal inti. Lebih dari itu, itu adalah cerminan dari kinerja bank yang stabil, manajemen risiko baik, serta pertumbuhan bisnis yang sehat. Dalam pandangan manajemen, naik kelas harus terjadi secara alami, bukan dipaksakan.
Strategi PermataBank Menuju KBMI IV
1. Fokus pada Pertumbuhan Berkelanjutan
PermataBank tidak ingin terburu-buru naik kelas. Bank lebih memilih memperkuat fondasi bisnisnya agar mampu tumbuh secara konsisten. Pendekatan ini dianggap lebih aman dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
2. Memperkuat Modal Inti Secara Alami
Target modal inti untuk masuk ke KBMI IV adalah di atas Rp 70 triliun. Saat ini, posisi modal inti PermataBank berada di angka Rp 54,63 triliun. Bank berencana menaikkan angka ini melalui peningkatan laba yang sehat dan optimalisasi struktur permodalan.
3. Menjaga Kualitas Aset dan Likuiditas
Selain modal inti, kualitas aset juga menjadi parameter penting. PermataBank terus memperhatikan rasio kredit macet dan melakukan manajemen risiko yang ketat agar tetap layak untuk naik kelas.
Kondisi Keuangan PermataBank Akhir Tahun Lalu
| Komponen | Nilai (Rp Triliun) | Keterangan |
|---|---|---|
| Modal Inti | 54,63 | Naik dari 50,99 tahun sebelumnya |
| Laba Bersih | 3,59 | Tumbuh 0,59% YoY |
| Total Aset | 268,34 | Naik 3,58% YoY |
| Total Pembiayaan | 163,33 | Naik 5,46% YoY |
| Dana Pihak Ketiga (DPK) | 192,81 | Naik 3,93% YoY |
Dinamika Pendanaan dan Pembiayaan
PermataBank mencatat pertumbuhan positif pada dana murah. Giro naik 20,26% menjadi Rp 73,69 triliun dan tabungan naik 19,96% menjadi Rp 49,48 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa nasabah semakin percaya menempatkan dana di bank ini.
Sementara itu, deposito yang biasanya dianggap sebagai dana mahal justru mengalami penurunan sebesar 16,10% menjadi Rp 69,64 triliun. Penurunan ini bisa jadi indikasi bahwa bank lebih fokus pada pengelolaan dana murah yang lebih efisien.
Tantangan di Balik Pertumbuhan
Meski pertumbuhan dana murah positif, pendapatan bunga bersih (NII) bank justru sedikit terkoreksi. NII turun 1,97% menjadi Rp 10,02 triliun. Penyebabnya adalah turunnya pendapatan bunga sebesar 1,04% dan naiknya beban bunga sebesar 0,33%.
Selain itu, beban impairment juga naik dari Rp 1,53 triliun menjadi Rp 1,79 triliun. Lonjakan ini memberi tekanan pada laba operasional yang hanya naik tipis 0,57% menjadi Rp 4,62 triliun.
Target Regulator dan Ambisi Bank
OJK memiliki target agar jumlah bank di KBMI IV bisa mencapai sepuluh bank pada 2027. Ini merupakan bagian dari upaya memperkuat sistem perbankan nasional dan mendukung stabilitas makroekonomi.
PermataBank menyambut baik arahan tersebut. Namun, bank tidak ingin terlihat terburu-buru. Kenaikan kelas harus didukung oleh kinerja yang solid, bukan hanya pencapaian angka.
Potensi Dampak bagi Stakeholder
Naik kelas ke KBMI IV bukan hanya soal prestise bagi bank. Ini juga membawa dampak nyata bagi berbagai pihak:
1. Nasabah
Nasabah bisa merasakan peningkatan kualitas layanan, kepercayaan terhadap bank meningkat, serta akses ke produk-produk finansial yang lebih luas.
2. Investor
Investor akan melihat potensi dividen yang lebih besar dan prospek pertumbuhan yang lebih stabil. Ini bisa meningkatkan minat beli saham BNLI di pasar modal.
3. Regulator
Bagi OJK, semakin banyak bank di kategori KBMI IV berarti semakin kuat sistem perbankan nasional. Ini juga membantu dalam pengawasan dan mitigasi risiko sistemik.
Roadmap Menuju KBMI IV
1. Tingkatkan Efisiensi Operasional
Bank harus terus menekan biaya operasional dan meningkatkan produktivitas tim. Ini penting agar margin keuntungan tetap sehat.
2. Perluas Basis Nasabah
Memperbanyak nasabah baru, terutama dari segmen ritel dan mikro, menjadi kunci pertumbuhan dana murah yang berkelanjutan.
3. Optimalkan Digital Banking
Transformasi digital bukan opsi lagi, tapi keharusan. PermataBank harus memastikan platform digital mereka user-friendly dan aman.
4. Tingkatkan Kualitas SDM
SDM yang kompeten sangat dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan. Pelatihan dan pengembangan karyawan harus terus digiatkan.
5. Jaga Kesehatan Permodalan
Bank harus terus memperkuat struktur modalnya, baik dari sisi Tier 1 maupun Tier 2, agar siap naik kelas kapan pun saatnya tiba.
Kesimpulan
PermataBank saat ini memilih jalur yang lebih hati-hati dalam mengejar target naik kelas ke KBMI IV. Fokus pada pertumbuhan berkelanjutan, peningkatan kualitas aset, serta optimalisasi pendanaan menjadi prioritas utama. Langkah ini dinilai lebih bijak daripada terburu-buru demi mencapai target regulator.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersumber dari laporan resmi PermataBank dan OJK per Desember 2025. Informasi ini bisa berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan kinerja bank dan kebijakan regulator.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













