Finansial

Pertumbuhan Kredit Capai 9,96%, Perbankan Tetap Waspada Terhadap Risiko Global

Danang Ismail
×

Pertumbuhan Kredit Capai 9,96%, Perbankan Tetap Waspada Terhadap Risiko Global

Sebarkan artikel ini
Pertumbuhan Kredit Capai 9,96%, Perbankan Tetap Waspada Terhadap Risiko Global

perbankan di Indonesia terus menunjukkan tren positif. Hingga November 2025, Mandiri mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 13,1%, mencapai total Rp 1.452 triliun. Angka ini mencerminkan optimisme sektor perbankan dalam menghadapi tantangan ekonomi global yang semakin kompleks.

Meski begitu, pertumbuhan kredit secara keseluruhan di industri perbankan nasional mencapai 9,96%. Angka ini menunjukkan bahwa perbankan tetap bergerak, meski dengan kehati-hatian yang lebih besar. Di tengah tekanan dari kondisi makro ekonomi global, bank-bank di Tanah mulai lebih selektif dalam menyalurkan kredit.

Dinamika Pertumbuhan Kredit di Tahun 2025

Pertumbuhan kredit yang mencapai dua digit menunjukkan bahwa permintaan dari sektor riil masih cukup kuat. Namun, bank tidak serta merta menaikkan laju penyaluran begitu saja. Mereka harus tetap memperhatikan risiko yang muncul dari luar negeri, seperti kenaikan suku bunga global dan ketidakpastian ekonomi dunia.

Bank Mandiri menjadi salah satu contoh bank yang berhasil menjaga pertumbuhan kredit tetap tinggi. Fokus mereka pada sektor produktif seperti UMKM, korporasi, dan infrastruktur turut mendongkrak nilai kredit yang disalurkan. Namun, bukan berarti bank lain ketinggalan. Banyak bank swasta juga mencatatkan kenaikan yang signifikan, meski tidak sebesar Bank Mandiri.

1. Faktor Pendorong Pertumbuhan Kredit

Beberapa faktor mendukung pertumbuhan kredit yang positif di tahun ini. Pertama, kebijakan moneter Bank Indonesia yang relatif stabil memberikan ruang bagi bank untuk terus menyalurkan kredit. Kedua, permintaan dari sektor riil, terutama UMKM dan sektor properti, masih cukup tinggi.

2. Peran UMKM dalam Peningkatan Kredit

UMKM menjadi salah satu sektor yang paling banyak menyerap kredit. Bank melihat potensi besar dari kecil dan menengah karena mereka memiliki tahan yang baik meski di tengah ketidakpastian ekonomi. Program pemerintah seperti KUR (Kredit Usaha Rakyat) juga turut memperkuat sektor ini.

3. Sektor Korporasi dan Infrastruktur

Selain UMKM, sektor korporasi dan infrastruktur juga menjadi andalan. Banyak proyek infrastruktur besar yang membutuhkan pendanaan dari bank. Ini memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan kredit secara keseluruhan.

Waspada Terhadap Risiko Global

Meski pertumbuhan kredit terus berlanjut, bank tidak bisa abai terhadap risiko global. Tekanan dari kenaikan suku bunga di negara maju, ketidakpastian geopolitik, dan fluktuasi nilai tukar masih menjadi tantangan besar.

1. Pengaruh Suku Bunga Global

Saat suku bunga di Amerika Serikat atau Eropa naik, bisa mengalir keluar dari pasar berkembang seperti Indonesia. Ini berdampak pada likuiditas bank dan membuat mereka harus lebih hati-hati dalam menyalurkan kredit.

2. Risiko Kredit Macet

Bank juga harus waspada terhadap potensi macet yang bisa meningkat. Di tengah ketidakpastian ekonomi, beberapa nasabah mungkin mengalami kesulitan membayar cicilan. Oleh karena itu, bank menerapkan skema analisis risiko yang lebih ketat.

3. Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah

yang melemah terhadap dolar AS juga bisa berdampak pada portofolio bank yang memiliki kewajiban dalam mata uang asing. Ini menuntut bank untuk lebih selektif dalam memberikan kredit kepada nasabah dengan eksposur .

Strategi Perbankan Menghadapi Tantangan

Menghadapi tekanan global, bank tidak tinggal diam. Mereka mengambil beberapa langkah strategis untuk tetap bisa tumbuh sambil menjaga kesehatan finansial.

1. Diversifikasi Portofolio Kredit

Bank tidak hanya mengandalkan satu sektor. Mereka mencari keseimbangan antara sektor produktif seperti manufaktur, pertanian, dan jasa. Diversifikasi ini membantu mengurangi risiko jika salah satu sektor terdampak.

2. Penguatan Teknologi dan Digitalisasi

Digitalisasi menjadi kunci dalam efisiensi operasional. Dengan sistem yang lebih canggih, bank bisa lebih cepat dalam menilai risiko dan menyalurkan kredit. Ini juga membantu dalam pencegahan fraud dan pengelolaan data nasabah.

3. Kolaborasi dengan Pemerintah

Kemitraan dengan pemerintah melalui berbagai program stimulus dan penjaminan kredit juga menjadi andalan. Program seperti PDP (Penjaminan Deposito Pemerintah) dan LPDB memberikan rasa aman tambahan bagi bank dalam menyalurkan kredit.

Perbandingan Kinerja Bank Besar

Berikut adalah rincian pertumbuhan kredit dari beberapa bank besar di Indonesia hingga November 2025:

Bank Pertumbuhan Kredit (%) Total Kredit (Rp Triliun)
Bank Mandiri 13,1% 1.452
BRI 10,8% 1.203
BNI 9,7% 987
BCA 9,2% 1.102
Bank CIMB Niaga 8,5% 432

Data menunjukkan bahwa Bank Mandiri memimpin pertumbuhan kredit, diikuti oleh BRI dan BNI. Meskipun demikian, semua bank besar tetap berada dalam koridor pertumbuhan yang sehat.

Tantangan ke Depan

Ke depan, perbankan harus terus menyeimbangkan antara pertumbuhan dan risiko. Kondisi global yang dinamis menuntut bank untuk lebih fleksibel dan adaptif. Inovasi dalam layanan keuangan, penguatan sistem kontrol risiko, dan sinergi dengan pemerintah akan menjadi kunci keberhasilan.

Pertumbuhan kredit yang terus berlanjut adalah indikator positif bagi . Namun, bank harus tetap waspada agar tidak terjebak dalam euforia pertumbuhan dan mengabaikan prinsip kehati-hatian.

Disclaimer

Data dan angka yang disajikan dalam ini bersifat estimasi berdasarkan informasi hingga November 2025 dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan kebijakan yang berlaku.

Danang Ismail
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.