Pergerakan harga saham big banks Rabu (1/4/2026) menunjukkan pola yang beragam. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatatkan penguatan. Di sisi lain, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) stagnan, sementara PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) kembali melemah.
Dinamika ini terjadi meski sepanjang sesi pagi, keempat saham sempat menguat bersamaan. Perbedaan arah pada sesi penutupan menunjukkan bahwa sentimen pasar mulai terpecah. Investor tampaknya mulai memilah saham berdasarkan fundamental dan ekspektasi ke depan.
Faktor yang Mendorong Penguatan Saham BBCA dan BBRI
Pergerakan saham bank besar tidak lepas dari rilis kinerja terbaru. Di bulan Februari 2026, seluruh big banks telah merilis laporan laba. Hasilnya cukup menggembirakan, terutama bagi investor jangka panjang yang memperhatikan konsistensi kinerja.
1. Laba Februari 2026 Big Banks Tetap Positif
| Emiten | Laba Februari 2026 | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|
| BBCA | Rp 9,2 triliun | 2,81% |
| BBRI | Rp 7,73 triliun | 17,05% |
| BMRI | Rp 8,9 triliun | 16,7% |
| BBNI | Rp 3,41 triliun | 3,67% |
Data menunjukkan bahwa BBCA tetap menjadi bank dengan laba tertinggi, meski pertumbuhannya moderat. Sementara BBRI mencatatkan kenaikan dua digit, menunjukkan pemulihan kinerja yang solid.
2. Saham Ditutup dengan Sentimen Positif
BBCA ditutup di level Rp 6.500 per saham, naik 0,78%. Saham ini sempat menyentuh Rp 6.650 di awal perdagangan. BBRI ditutup di Rp 3.350, naik 0,60%, meski sempat menyentuh Rp 3.440 lebih awal.
Kenaikan ini menunjukkan bahwa investor masih memandang positif kinerja kedua bank meski ada koreksi di tengah sesi. Investor jangka pendek mungkin mengambil keuntungan, tetapi minat beli tetap tinggi di level harga saat ini.
Penyebab Stagnasi dan Koreksi Saham BMRI dan BBNI
Tidak semua saham bank besar mengikuti tren penguatan. BMRI dan BBNI justru menunjukkan pergerakan yang kurang menggembirakan.
1. BMRI Stagnan di Level Rp 4.720
Saham BMRI tidak mengalami perubahan harga dibandingkan penutupan sebelumnya. Ini bisa menunjukkan bahwa investor sedang menahan diri menunggu isyarat baru, baik dari manajemen maupun kondisi makro ekonomi.
2. BBNI Melemah 1,06%
BBNI ditutup di level Rp 3.720 per saham. Meski laba bank ini naik, investor tampaknya belum sepenuhnya percaya bahwa kenaikan tersebut cukup kuat untuk menggerakkan harga ke level lebih tinggi.
Pengaruh Nilai Tukar Rupiah terhadap Saham Bank
Head Research of Korea Investment and Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, menyebutkan bahwa nilai tukar rupiah memiliki pengaruh langsung terhadap saham bank besar. Fluktuasi rupiah bisa memicu capital outflow, terutama jika nilai tukarnya melemah secara signifikan.
1. Rupiah Menguat 0,34% ke Level Rp 16.983 per USD
Pada Selasa (31/3), rupiah sempat melemah ke level Rp 17.041 per dolar AS. Namun pada Rabu (1/4), rupiah kembali menguat. Penguatan ini menjadi penopang positif bagi saham big banks.
2. Risiko Jika Rupiah Tembus Level 17.000
Jika rupiah terus melemah dan bertahan di atas level 17.000, risiko inflasi impor akan meningkat. Ini bisa memicu kenaikan BI Rate, yang pada gilirannya akan memperlambat pertumbuhan kredit dan menaikkan rasio NPL.
Strategi Investasi Saham Big Banks Jangka Panjang
Meski ada volatilitas jangka pendek, Wafi menilai bahwa fundamental big banks masih solid. Saham-saham ini tetap menarik untuk diakumulasi dalam jangka panjang.
1. Fokus pada Kinerja Dasar
Investor sebaiknya tidak terlalu terpengaruh oleh fluktuasi harian. Lebih baik memperhatikan pertumbuhan laba, rasio kesehatan bank, dan strategi bisnis jangka panjang.
2. Waspadai Sentimen Global
Sentimen global juga berpengaruh besar, terutama terhadap saham-saham yang memiliki eksposur asing. Investor perlu memantau perkembangan ekonomi global dan kebijakan bank sentral dunia.
Disclaimer
Data dan informasi dalam artikel ini bersifat sementara dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan pasar dan kondisi makro ekonomi. Keputusan investasi sebaiknya diambil setelah melakukan analisis mandiri atau berkonsultasi dengan ahli keuangan.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













