Pertumbuhan kredit perbankan pada Februari 2026 tercatat melambat dibanding bulan sebelumnya. Angka yang dirilis Bank Indonesia (BI) menunjukkan pertumbuhan kredit sebesar 9,37%, turun dari 9,96% di Januari 2026. Penurunan ini menjadi cerminan dari kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, terutama dari sisi daya beli masyarakat.
Analis menyebut bahwa perlambatan ini tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor yang saling terkait, mulai dari ancaman inflasi awal tahun, suku bunga bank yang masih tinggi, hingga ketidakpastian geopolitik global. Semua itu membuat permintaan kredit dari masyarakat dan pelaku usaha cenderung lesu.
Perlambatan Kredit Dipicu oleh Daya Beli yang Tertahan
Permintaan kredit yang lesu di awal tahun ini sejalan dengan kondisi ekonomi yang belum stabil. Banyak kalangan menahan diri untuk melakukan ekspansi bisnis atau konsumsi besar karena masih menunggu kepastian ekonomi yang lebih baik.
Pengamat perbankan dari Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, menyebut bahwa daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Padahal, daya beli yang kuat adalah salah satu pendorong utama pertumbuhan kredit.
Beberapa faktor yang turut menyebabkan tertahannya daya beli antara lain:
- Pertumbuhan ekonomi nasional yang belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan signifikan
- Inflasi awal tahun yang membuat masyarakat lebih selektif dalam pengeluaran
- Suku bunga kredit yang masih tinggi, membuat pinjaman terasa memberatkan
- Ketidakpastian geopolitik global yang memicu kehati-hatian investor
1. Permintaan Kredit Lesu karena Ekspansi Tertahan
Permintaan kredit dari pelaku usaha dan individu cenderung stagnan karena ekspansi bisnis masih ditahan. Banyak pengusaha memilih menunggu situasi yang lebih kondusif sebelum memutuskan untuk mengajukan pinjaman.
2. Suku Bunga Bank Masih Tinggi
Meski BI telah menahan suku bunga acuan di level 4,75%, suku bunga kredit di sejumlah bank belum turun secara signifikan. Hal ini membuat masyarakat enggan mengajukan pinjaman karena takut terkena beban bunga yang tinggi.
3. Ketidakpastian Global Memicu Kehati-hatian
Di tengah ketegangan geopolitik global yang mulai memanas, investor dan pelaku usaha cenderung lebih berhati-hati. Ini berdampak pada minimnya permintaan kredit produktif yang biasanya digunakan untuk ekspansi bisnis.
Bank Juga Lebih Selektif dalam Menyalurkan Kredit
Selain permintaan yang lesu, penawaran kredit dari bank juga tidak menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Banyak bank, terutama bank besar, memilih untuk lebih selektif dalam menyalurkan kredit karena khawatir risiko macet yang tinggi.
Piter Abdullah, Direktur Sagara Research Institute, menyebut bahwa bank saat ini lebih memilih menjaga likuiditas dan mengurangi eksposur risiko. Ini terutama terlihat di segmen kredit produktif yang memiliki risiko lebih tinggi dibanding kredit konsumtif.
Namun, Piter menilai bank himbara seharusnya tidak mengalami perlambatan yang sama. Pasalnya, bank jenis ini didorong oleh pemerintah untuk terus menyalurkan kredit sebagai bagian dari program inklusi keuangan dan pemerataan ekonomi.
1. Bank Besar Lebih Hati-Hati dalam Penyaluran Kredit
Bank besar yang memiliki likuiditas tinggi pun tetap memilih untuk tidak agresif menyalurkan kredit. Mereka lebih fokus pada kualitas aset dan menjaga rasio kredit bermasalah tetap rendah.
2. Bank Himbara Didorong untuk Terus Salurkan Kredit
Bank umum milik pemerintah ini memiliki peran penting dalam menyalurkan kredit ke sektor produktif dan UMKM. Mereka tetap didorong untuk terus menyalurkan pinjaman meskipun kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih.
3. Risiko Kredit Macet Masih Tinggi
Dengan daya beli yang belum pulih, risiko kredit macet di berbagai segmen, terutama UMKM, masih menjadi perhatian. Banyak bank membatasi penyaluran kredit untuk menghindari peningkatan NPL.
Perlambatan Kredit Berdampak pada Investasi dan Konsumsi
Kondisi ini berpotensi menghambat pemulihan ekonomi nasional. Kredit yang tumbuh lambat berarti investasi dan konsumsi masyarakat juga belum menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Piter menilai, agar pertumbuhan kredit kembali menguat, dibutuhkan sentimen positif dari pemerintah dan BI. Misalnya melalui kebijakan yang mendorong penurunan suku bunga, insentif fiskal, atau stimulus ekonomi.
1. Investasi Masih Tertahan
Investasi dari sektor swasta belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan karena masih menunggu kepastian ekonomi dan regulasi yang lebih jelas.
2. Konsumsi Rumah Tangga Belum Meningkat Signifikan
Meskipun kontribusi kredit rumah tangga masih tinggi, pertumbuhan kredit konsumtif juga mulai melambat karena daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya.
3. Perlambatan Kredit Properti Jadi Cerminan Daya Beli yang Lemah
Kredit properti, yang biasanya menjadi penopang utama pertumbuhan kredit, juga mengalami perlambatan. Ini menunjukkan bahwa masyarakat masih enggan melakukan pembelian properti karena terbatasnya kemampuan finansial.
Kebutuhan Sentimen Positif untuk Dorong Kredit
Perekonomian nasional membutuhkan dorongan dari berbagai pihak agar kredit bisa kembali tumbuh. Pemerintah dan BI perlu mengeluarkan kebijakan yang bisa meningkatkan kepercayaan pasar dan mendorong daya beli masyarakat.
Beberapa langkah yang bisa diambil antara lain:
- Penurunan suku bunga acuan yang lebih agresif
- Program insentif bagi pelaku usaha kecil dan menengah
- Stimulus konsumsi melalui program sosial
- Penguatan regulasi untuk menarik investasi
1. Kebijakan Moneter yang Lebih Proaktif
BI perlu terus memantau perkembangan ekonomi dan siap melakukan penyesuaian kebijakan bila diperlukan. Penurunan suku bunga bisa menjadi salah satu solusi untuk mendorong permintaan kredit.
2. Program Pemerintah untuk Dorong Daya Beli
Program seperti BLT, insentif pajak, atau stimulus konsumsi bisa membantu masyarakat meningkatkan daya beli. Ini akan berdampak langsung pada permintaan kredit konsumtif dan produktif.
3. Kolaborasi dengan Bank untuk Akselerasi Penyaluran Kredit
Pemerintah bisa bekerja sama dengan bank, terutama bank himbara, untuk mempercepat penyaluran kredit ke sektor-sektor strategis seperti UMKM, pertanian, dan infrastruktur.
Tabel Perbandingan Pertumbuhan Kredit Bulan ke Bulan
| Bulan | Pertumbuhan Kredit (%) |
|---|---|
| November 2025 | 10,12% |
| Desember 2025 | 9,98% |
| Januari 2026 | 9,96% |
| Februari 2026 | 9,37% |
Catatan: Data bersifat estimasi dan dapat berubah sesuai laporan resmi Bank Indonesia.
Disclaimer
Data dan informasi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan laporan sementara dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan rilis resmi dari Bank Indonesia dan instansi terkait. Keputusan kebijakan moneter dan fiskal juga dapat memengaruhi kondisi kredit di masa mendatang.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













