Pertumbuhan pembiayaan BCA Syariah pada kuartal pertama 2026 mencatatkan kenaikan yang cukup signifikan. Dengan total penyaluran mencapai Rp 13,2 triliun, bank ini berhasil menorehkan pertumbuhan sebesar 20,2% year-on-year (yoy). Angka ini menunjukkan momentum positif yang dirasakan oleh bank syariah milik Bank Central Asia (BCA) tersebut, terutama di tengah dinamika ekonomi yang terus bergerak.
Kenaikan tersebut didukung oleh performa segmen konsumer yang menunjukkan lonjakan luar biasa. Pada periode yang sama, pembiayaan konsumer naik hingga 55,9% secara tahunan. Salah satu pendorong utamanya adalah produk murabahah emas yang mengalami lonjakan permintaan dari nasabah. Minat terhadap produk ini terus meningkat seiring dengan kepercayaan masyarakat terhadap instrumen syariah yang dinilai lebih aman dan sesuai dengan nilai-nilai keagamaan.
1. Segmen Konsumer Jadi Pendorong Utama
Peningkatan permintaan terhadap pembiayaan konsumer terutama disebabkan oleh meningkatnya minat terhadap produk murabahah emas. Produk ini memungkinkan nasabah untuk membeli emas secara tunai melalui mekanisme syariah, yang kemudian bisa diambil dalam bentuk fisik. Tren ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin memahami dan mempercayai produk syariah sebagai alternatif investasi maupun simpanan berharga.
Selain itu, kenaikan jumlah nasabah yang memanfaatkan layanan digital BCA Syariah juga berkontribusi pada pertumbuhan ini. Aplikasi yang semakin user-friendly dan proses pengajuan yang cepat membuat nasabah lebih nyaman bertransaksi secara digital. Ini membuka peluang lebih besar bagi bank untuk menjangkau segmen masyarakat yang lebih luas, terutama generasi muda yang lebih familiar dengan teknologi.
2. Portofolio Pembiayaan Masih Didominasi Segmen Komersial
Meski segmen konsumer tumbuh pesat, porsi terbesar dalam portofolio pembiayaan BCA Syariah masih dikuasai oleh segmen komersial. Secara persentase, pembiayaan komersial menyumbang 73,3% dari total portofolio, dengan nilai mencapai Rp 9,7 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa BCA Syariah tetap menjadi pilihan utama pelaku usaha dalam memenuhi kebutuhan modal kerja dan investasi.
Pembiayaan komersial ini mencakup berbagai bentuk, seperti murabahah untuk pembelian barang dagangan, ijarah untuk penyewaan aset, hingga mudharabah untuk kerja sama usaha. Segmen ini tetap menjadi tulang punggung karena memberikan kontribusi pendapatan yang stabil dan berkelanjutan bagi bank.
3. Penguatan Layanan Digital dan Produk Baru
Salah satu faktor kunci di balik pertumbuhan pembiayaan adalah penguatan layanan digital. BCA Syariah terus mengembangkan aplikasi mobile dan platform online agar lebih mudah digunakan dan memiliki fitur lengkap. Dengan demikian, nasabah bisa mengajukan pembiayaan, mengecek status, hingga melakukan pembayaran secara mandiri dan real-time.
Di sisi lain, BCA Syariah juga terus memperkenalkan produk-produk baru yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Misalnya, produk pembiayaan emas yang fleksibel dan mudah diakses, serta layanan tabungan haji yang semakin diminati. Pada Februari 2026, jumlah rekening tabungan haji mencapai 13.682 unit, menunjukkan bahwa bank ini mampu menangkap peluang di segmen pasar yang spesifik.
Perbandingan Pertumbuhan Pembiayaan BCA Syariah (Kuartal I 2025 vs 2026)
| Segmen | Kuartal I 2025 | Kuartal I 2026 | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|---|
| Konsumer | Rp 4,2 T | Rp 6,6 T | 55,9% |
| Komersial | Rp 8,3 T | Rp 9,7 T | 16,9% |
| Total | Rp 11 T | Rp 13,2 T | 20,2% |
Catatan: Data bersifat estimasi dan dapat berubah sesuai laporan resmi BCA Syariah.
4. Transformasi Menjadi Bank Devisa
Langkah strategis lainnya yang diambil oleh BCA Syariah adalah transformasi menjadi bank devisa. Bank ini sedang mengembangkan fitur transaksi dalam valuta asing (valas) untuk memenuhi kebutuhan nasabah yang memiliki aktivitas bisnis internasional. Ini menjadi langkah penting dalam memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan daya saing di tengah persaingan industri perbankan syariah yang semakin ketat.
Dengan adopsi teknologi dan inovasi produk yang tepat sasaran, BCA Syariah terbukti mampu menjaga momentum pertumbuhan meski di tengah tantangan ekonomi makro yang dinamis. Langkah-langkah ini juga sejalan dengan visi bank untuk menjadi bank syariah terdepan yang mampu memberikan solusi keuangan holistik bagi nasabahnya.
5. Tantangan dan Peluang ke Depan
Meskipun pencapaian kuartal I-2026 sangat positif, BCA Syariah tetap menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah persaingan yang semakin ketat dari bank syariah lainnya yang juga terus mengembangkan produk dan layanan digital. Selain itu, fluktuasi ekonomi global dan kebijakan moneter BI juga bisa berdampak pada kinerja pembiayaan ke depannya.
Namun, peluang masih terbuka lebar. Dengan basis nasabah yang terus bertambah dan produk yang semakin beragam, BCA Syariah memiliki potensi untuk terus tumbuh di kuartal-kuartal berikutnya. Apalagi, dengan penguatan digital dan fokus pada layanan yang customer-centric, bank ini siap menghadapi tantangan sekaligus memanfaatkan peluang baru di masa depan.
Disclaimer: Data yang disajikan bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan laporan resmi dari BCA Syariah. Informasi ini tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi keuangan atau investasi.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













