Heartopia sempat menjadi salah satu game simulasi kehidupan yang paling dinanti setelah dirilis secara global pada 7 Januari lalu. Popularitasnya melonjak cepat, bahkan dalam waktu kurang dari seminggu sudah mencatat lebih dari 10 juta unduhan. Angka itu menunjukkan betapa besarnya antusiasme pemain terhadap konsep cozy life yang ditawarkan.
Sayangnya, kepopuleran itu tak berlangsung lama. Beberapa kontroversi mulai bermunculan. Mulai dari sistem gacha yang dianggap terlalu agresif hingga penggunaan AI generatif dalam proses produksi konten. Terbaru, game ini kembali menjadi pusat perhatian karena dituduh menyertakan konten yang dinilai rasis.
Sebuah cutscene dalam game memicu reaksi keras dari komunitas. Adegan tersebut dianggap mengandung stereotip negatif terhadap kelompok tertentu, khususnya yang berkulit gelap. Rekaman cuplikan adegan itu pun menyebar luas di berbagai platform media sosial, memancing berbagai respons dari para pemain.
Awal Mula Kontroversi
Semua bermula pada tanggal 4 Maret, ketika sebuah video cuplikan cutscene dari Heartopia mulai viral. Dalam adegan tersebut, salah satu karakter non-player (NPC) yang memiliki kulit gelap tiba-tiba memakan jamur misterius. Setelah mengonsumsinya, karakter tersebut mengalami perubahan perilaku yang cukup ekstrem.
Perilaku karakter tersebut antara lain:
- Bergerak secara tidak terkendali
- Mengeluarkan suara yang menyerupai monyet
- Bertindak layaknya seekor monyet
Banyak pemain langsung merasa tidak nyaman. Mereka menilai bahwa adegan tersebut mengandung pesan yang ofensif dan memperkuat stereotip rasis terhadap orang kulit hitam. Dalam sejarah panjang rasisme, penggambaran manusia kulit hitam sebagai monyet sering digunakan sebagai alat dehumanisasi.
Adegan itu pun dianggap tidak pantas, terutama karena Heartopia memiliki rating usia 9+. Artinya, game ini ditujukan untuk anak-anak dan remaja awal. Banyak orang tua mulai mempertanyakan kebijakan developer dalam menyematkan konten seperti itu.
Reaksi Komunitas Pemain
Respons dari komunitas pemain pun datang cepat dan cukup keras. Di berbagai forum dan media sosial, banyak pemain yang menyuarakan ketidaknyamanan mereka atas konten tersebut. Beberapa di antaranya bahkan meminta agar adegan itu segera dihapus atau direvisi.
Selain itu, banyak juga yang mempertanyakan kesadaran developer dalam membuat konten. Apakah mereka benar-benar tidak menyadari potensi ofensif dari adegan tersebut? Atau justru sengaja disematkan sebagai bagian dari narasi?
Beberapa pemain juga menyoroti bahwa Heartopia menggunakan AI untuk menghasilkan konten. Ini memunculkan pertanyaan baru: apakah adegan kontroversial itu dihasilkan oleh AI tanpa pengawasan manusia yang cukup?
Yang lebih mengkhawatirkan, beberapa komunitas kecil bahkan mulai melakukan boycott terhadap game ini. Meski jumlahnya belum signifikan, gerakan ini bisa berkembang jika tidak segera ditangani dengan baik oleh tim developer.
Isu Tambahan: Representasi Jamur yang Bermasalah
Selain masalah rasial, adegan jamur itu juga menuai kritik dari segi representasi. Banyak pemain menilai bahwa cara karakter memakan jamur dan langsung mengalami halusinasi sangat mirip dengan penggunaan narkoba.
Padahal, Heartopia dipasarkan sebagai game cozy life yang aman dan menyenangkan. Banyak orang tua yang membiarkan anak-anak mereka bermain game ini karena menganggapnya ringan dan tidak mengandung konten dewasa.
Namun, adegan tersebut justru menampilkan karakter yang tampak kehilangan kendali setelah mengonsumsi jamur. Ini dianggap tidak sesuai dengan target audiens utama game.
Beberapa pemain juga mempertanyakan apakah developer sengaja menyematkan pesan tersembunyi dalam adegan tersebut. Meskipun belum ada bukti kuat, isu ini tetap menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan komunitas.
Respons Resmi dari Developer
Hingga kini, respon resmi dari developer Heartopia masih terbilang minim. Hanya ada pernyataan singkat yang menyatakan bahwa mereka sedang “meninjau ulang” konten dalam game. Namun, hingga saat ini belum ada langkah konkret yang diambil.
Banyak pemain yang menuntut klarifikasi lebih lanjut. Mereka ingin tahu apakah adegan tersebut akan dihapus, diedit, atau malah dipertahankan. Sebagian juga menuntut permintaan maaf yang jelas dari pihak developer.
Belum adanya sikap tegas turut memperburuk situasi. Semakin lama diam, semakin besar kemungkinan kepercayaan pemain kepada brand Heartopia akan menurun.
Dampak Terhadap Reputasi Game
Kontroversi ini tentu berdampak pada reputasi Heartopia. Game yang tadinya disambut hangat kini harus menghadapi badai kritik. Rating di berbagai platform pun mulai menurun seiring dengan banyaknya ulasan negatif.
Apalagi, Heartopia baru saja merilis update besar yang diharapkan bisa menarik lebih banyak pemain. Namun, kontroversi ini justru membuat banyak pemain mundur sebelum sempat mencicipi fitur-fitur barunya.
Selain itu, isu ini juga berpotensi mempengaruhi mitra bisnis dan kolaborator. Banyak brand biasanya enggan bekerja sama dengan game yang sedang bermasalah publik.
Pelajaran Penting untuk Industri Gaming
Kontroversi Heartopia ini sebenarnya bukan kasus pertama dalam industri gaming. Banyak studio besar juga pernah tersandung isu serupa, baik soal rasisme, representasi gender, maupun konten sensitif lainnya.
Yang penting adalah bagaimana developer belajar dari kesalahan. Respons cepat dan transparan bisa meminimalkan dampak negatif. Sebaliknya, sikap pasif hanya akan memperparah situasi.
Bagi developer indie maupun AAA, penting untuk selalu memperhatikan konteks sosial dan budaya dari konten yang dibuat. Terlebih lagi jika game ditujukan untuk audiens global yang memiliki latar belakang beragam.
Tips untuk Developer agar Menghindari Konten Ofensif
- Lakukan audit konten secara rutin
- Libatkan tim beragam dalam proses kreatif
- Gunakan panduan etika dalam produksi game
- Bangun saluran komunikasi terbuka dengan komunitas
- Siapkan protokol tanggap darurat untuk isu sensitif
Kesimpulan
Heartopia memang sempat menjadi andalan genre cozy life simulation. Namun, kontroversi yang sedang terjadi saat ini bisa menjadi titik balik besar bagi masa depan game ini. Baik dalam hal reputasi maupun performa di pasar.
Yang terpenting sekarang adalah bagaimana developer menangani situasi ini. Apakah mereka akan mengambil langkah bijak atau justru memilih diam yang akhirnya merugikan semua pihak.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini didasarkan pada kejadian hingga tanggal 5 April 2025. Situasi dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan dari pihak developer.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













