Grafis video game yang makin canggih bikin pengalaman bermain makin realistis. Tapi di balik keseruan itu, ada sisi gelapnya. Banyak orang, terutama yang awam, mulai sulit membedakan antara adegan game dan kejadian nyata. Game seperti War Thunder atau Arma bahkan sering dianggap sebagai rekaman asli pertempuran.
Nah, kini pemerintah Amerika Serikat lewat Gedung Putih tampaknya memanfaatkan fenomena ini untuk tujuan politik. Mereka bikin konten propaganda yang menggabungkan gameplay Call of Duty dengan rekaman serangan militer sungguhan. Hasilnya? Konten yang bikin bingung sekaligus kontroversial.
Video Propaganda yang Menggabungkan Game dan Perang
Gedung Putih memposting video di media sosial yang mencampurkan adegan dari Call of Duty Modern Warfare III (2023) dengan rekaman serangan udara AS ke target di sekitar Iran. Dalam video itu, terlihat pemain memanggil MGB (Mass Guided Bombs) di map Afghanistan yang telah diremaster. Adegan itu kemudian disisipkan dengan rekaman asli serangan udara AS.
Yang mengejutkan, video editor menambahkan UI khas Call of Duty. Mulai dari minimap hingga notifikasi XP setelah menghancurkan target. Ini seperti menggambarkan serangan nyata sebagai bagian dari permainan video.
Caption dari postingan tersebut juga cukup mencolok: “Courtesy of the Red, White & Blue.” Slogan patriotik ini mencoba menampilkan serangan militer AS sebagai aksi heroik. Tapi banyak orang merasa cara ini terlalu berlebihan dan tidak pantas.
Reaksi Publik terhadap Pendekatan Ini
Banyak netizen dan aktivis mengecam pendekatan propaganda ini. Mereka menganggap ini sebagai bentuk penggambaran perang yang terlalu disederhanakan. Perang yang menewaskan orang-orang diubah menjadi konten bergaya game, seolah-olah itu semua hanya permainan.
Beberapa pihak juga khawatir bahwa pendekatan ini bisa mempengaruhi pandangan anak muda tentang perang. Terutama yang belum tahu banyak tentang konsekuensi nyata dari konflik bersenjata. Mereka bisa saja menganggap perang sebagai sesuatu yang seru dan tidak berbahaya.
Sejarah Pendekatan Gedung Putih dengan Budaya Gaming
Ini bukan pertama kalinya Gedung Putih menggunakan budaya pop gaming untuk menjangkau generasi muda. Pada Oktober 2025, tim media sosial pemerintahan Donald Trump pernah menggunakan AI untuk menampilkan Trump sebagai karakter Master Chief dari game Halo. Lengkap dengan armor Spartan dan pose hormat pada bendera AS.
Pendekatan ini memang efektif menarik perhatian generasi milenial dan Gen Z. Tapi juga menuai kritik karena dianggap terlalu santai dalam menyampaikan pesan politik. Terlebih jika pesan itu berkaitan dengan isu serius seperti perang.
Dampak dari Pendekatan Visual yang Terlalu Realistis
-
Desensitisasi terhadap kekerasan
Saat perang digambarkan seperti game, risiko desensitisasi meningkat. Orang bisa mulai menganggap kekerasan sebagai hal yang biasa dan tidak serius. -
Kebingungan antara fiksi dan kenyataan
Terutama bagi anak muda, sulit membedakan antara adegan game dan rekaman nyata. Ini bisa mempengaruhi cara mereka memahami konflik dunia nyata. -
Normalisasi militerisme
Dengan menyajikan serangan militer sebagai “gameplay,” ada risiko bahwa militerisme dianggap hal yang positif dan heroik.
Perbandingan Pendekatan Media Sosial Gedung Putih
| Tahun | Pendekatan | Platform | Reaksi Publik |
|---|---|---|---|
| 2025 | Trump sebagai Master Chief (Halo) | Twitter, Instagram | Dibilang kreatif tapi terlalu dramatis |
| 2026 | Call of Duty dan serangan nyata Iran | Twitter, TikTok | Dikecam karena dianggap mempermainkan perang |
Mengapa Ini Bisa Terjadi?
-
Target audiens muda
Generasi muda lebih banyak mengonsumsi konten digital dan gaming. Jadi pemerintah mencoba menjangkau mereka lewat media yang mereka kenal. -
Efektivitas visual
Video bergaya game lebih menarik dan mudah viral. Ini membuat pesan bisa menyebar cepat, meski kontennya kontroversial. -
Kurangnya regulasi
Tidak ada aturan jelas soal batasan konten propaganda di media sosial. Ini membuat pemerintah bisa bebas berekspresi, meski kontennya diragukan etikanya.
Tips untuk Mengenali Propaganda Visual
-
Perhatikan sumber konten
Selalu cek apakah konten berasal dari akun resmi pemerintah atau media terpercaya. -
Cari tahu konteks asli
Jangan langsung percaya tampilan visual. Cari tahu konteks di balik gambar atau video tersebut. -
Kritisi pesan yang disampaikan
Tanyakan apakah pesan itu mencoba memanipulasi emosi atau menyederhanakan isu kompleks.
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini didasarkan pada konten media sosial yang tersebar hingga Maret 2026. Karena situasi politik dan kebijakan media sosial bisa berubah sewaktu-waktu, beberapa detail atau pendekatan bisa saja berbeda di masa depan.
Penutup
Penggunaan gameplay Call of Duty dalam propaganda perang oleh Gedung Putih memunculkan banyak pertanyaan. Apakah ini langkah cerdas untuk menjangkau generasi muda? Atau justru cara yang berbahaya dalam menyebarkan pesan politik?
Yang jelas, batas antara hiburan dan realitas kian tipis. Terutama saat alat hiburan seperti game digunakan sebagai sarana politik. Masyarakat perlu lebih waspada dan kritis terhadap konten yang mereka lihat di media sosial. Karena di balik tampilan keren dan interaktif, bisa saja tersembunyi pesan yang tidak selalu jujur atau etis.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.












