Rencana pemerintah untuk menerapkan sistem sekolah daring kembali mencuri perhatian publik. Kali ini, kebijakan itu disebut-sebut sebagai langkah antisipatif menghadapi lonjakan harga minyak dunia yang berimbas pada subsidi BBM dalam negeri. Tujuannya jelas: mengurangi penggunaan bahan bakar minyak melalui penghematan transportasi harian pelajar.
Namun, tidak semua pihak sepakat dengan langkah ini. Komisi X DPR RI, yang mengawasi urusan pendidikan, tampaknya belum siap menerima rencana tersebut begitu saja. Beberapa anggota komisi justru menyoroti potensi dampak negatifnya terhadap kualitas pendidikan dan kesejahteraan peserta didik.
Rencana Sekolah Daring dan Pertimbangan Pemerintah
Sebenarnya, ide ini bukanlah hal baru. Selama masa pandemi, sistem pembelajaran jarak jauh sudah diterapkan secara luas. Tapi kali ini, motif utamanya bukan soal kesehatan, melainkan ekonomi. Pemerintah mencoba mengurangi beban anggaran subsidi BBM dengan mengurangi mobilitas harian pelajar.
Langkah ini juga sejalan dengan kebijakan Work From Home (WFH) bagi ASN dan karyawan swasta yang telah lebih dulu diberlakukan. WFH sendiri dirancang agar aktivitas kerja tetap produktif namun penggunaan kendaraan berkurang.
1. Penjelasan Resmi dari Pemerintah
Pemerintah menyampaikan bahwa kebijakan ini masih dalam tahap kajian. Rencananya, pembelajaran daring akan dilakukan secara bergilir atau parsial, bukan full online. Ini dimaksudkan agar tidak mengganggu proses belajar mengajar secara signifikan.
Selain itu, pemerintah juga menegaskan bahwa keputusan ini tidak serta merta akan diterapkan di seluruh wilayah Indonesia. Ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan, termasuk infrastruktur digital dan kondisi sosial daerah tertentu.
2. Alasan Utama di Balik Rencana Ini
Harga minyak mentah global yang fluktuatif membuat APBN terbebani. Subsidi BBM yang besar setiap tahunnya menjadi salah satu pos pengeluaran yang cukup signifikan. Oleh karena itu, pemerintah mencari cara alternatif untuk mengurangi konsumsi BBM secara nasional.
Sektor pendidikan pun menjadi bagian dari strategi ini. Dengan mengurangi frekuensi siswa datang ke sekolah, diharapkan penggunaan kendaraan bermotor berkurang, sehingga subsidi BBM bisa lebih optimal.
3. Penolakan dari Komisi X DPR RI
Meski terdengar logis, rencana ini menuai pro-kontra. Salah satu tokoh penolak adalah Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayanti. Ia menyatakan bahwa pembelajaran daring memiliki risiko besar terhadap kualitas edukasi anak.
Menurutnya, interaksi tatap muka antara guru dan murid sangat penting dalam proses belajar. Terlebih lagi, tidak semua siswa memiliki akses internet yang stabil atau perangkat digital yang memadai.
Dampak Potensial dari Sekolah Daring
Kalau rencana ini benar-benar diterapkan, dampaknya tidak hanya terbatas pada aspek pendidikan. Ada banyak elemen lain yang juga ikut terpengaruh, baik secara langsung maupun tidak langsung.
1. Kualitas Pembelajaran
Belajar daring memang lebih fleksibel, tapi tidak semua materi bisa diserap dengan baik lewat layar. Interaksi sosial antar siswa dan guru juga berperan penting dalam membentuk karakter dan soft skill mereka.
Apalagi, tidak semua orang tua memiliki kemampuan untuk membimbing anak saat belajar di rumah. Ini bisa memperlebar kesenjangan pendidikan antara siswa dari keluarga berbeda latar belakang ekonomi.
2. Infrastruktur Digital
Untuk menjalankan sistem pembelajaran daring secara efektif, dibutuhkan infrastruktur digital yang memadai. Sayangnya, kondisi ini belum merata di seluruh pelosok Indonesia.
Berdasarkan data Kemendikbudristek, masih ada sekitar 20% wilayah di Indonesia yang belum memiliki akses internet stabil. Ini tentu menjadi tantangan besar jika kebijakan ini diterapkan secara luas.
| Faktor | Kondisi Saat Ini |
|---|---|
| Akses Internet Stabil | ±80% wilayah Indonesia |
| Perangkat Digital (Laptop/Komputer) | ±70% kepemilikan rumah tangga |
| Literasi Digital Guru | Sedang dalam peningkatan |
3. Beban Orang Tua
Orang tua juga akan merasakan dampaknya. Dengan anak belajar dari rumah, mereka harus lebih aktif terlibat dalam proses belajar anak. Ini bisa menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi orang tua yang bekerja di luar rumah.
Respons Masyarakat dan Stakeholder Lainnya
Respons masyarakat terhadap rencana ini cukup beragam. Ada yang mendukung karena dianggap sebagai solusi realistis, tapi banyak juga yang skeptis.
Para guru dan tenaga pendidik menyatakan bahwa pembelajaran daring membutuhkan persiapan ekstra. Materi harus disesuaikan agar tetap menarik dan mudah dipahami meski tanpa tatap muka langsung.
Sementara itu, para pelaku usaha kecil di sekitar sekolah seperti penjual makanan, tukang ojek, dan warung kopi mulai khawatir. Jika siswa tidak datang ke sekolah, penghasilan mereka juga akan terpengaruh.
Alternatif Solusi yang Lebih Seimbang
Alih-alih hanya mengandalkan sistem daring, mungkin ada cara lain yang bisa dicoba. Misalnya dengan menerapkan sistem pembelajaran hybrid atau rotasi masuk ke sekolah.
Dengan model ini, jumlah siswa yang datang ke sekolah bisa dibatasi, sehingga penggunaan BBM tetap berkurang tanpa harus mengorbankan kualitas pendidikan secara drastis.
1. Pengaturan Jadwal Masuk Sekolah
Sistem rotasi bisa diterapkan dengan membagi siswa menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok masuk ke sekolah secara bergiliran, misalnya dua hari dalam seminggu.
Ini akan mengurangi frekuensi perjalanan ke sekolah dan tetap memberikan ruang interaksi tatap muka yang diperlukan.
2. Peningkatan Infrastruktur Digital
Investasi di bidang teknologi informasi juga perlu ditingkatkan. Termasuk mempercepat penyebaran jaringan internet di daerah terpencil dan memberikan bantuan perangkat digital kepada siswa kurang mampu.
Program ini bisa dilakukan secara bertahap, agar tidak membebani anggaran negara secara mendadak.
3. Pelibatan Komunitas Lokal
Peran komunitas lokal juga penting. Misalnya dengan melibatkan tokoh masyarakat untuk membantu pengawasan belajar daring di lingkungan sekitar.
Ini bisa menjadi solusi sementara bagi siswa yang tidak memiliki fasilitas digital lengkap di rumah.
Kesimpulan
Rencana pemerintah untuk menerapkan sekolah daring demi menghemat BBM memang memiliki dasar pertimbangan ekonomi yang kuat. Namun, kebijakan ini juga membawa sejumlah risiko, terutama terhadap kualitas pendidikan dan kesejahteraan pelajar.
Komisi X DPR RI pun menyampaikan sikap hati-hati terhadap rencana ini. Mereka menyarankan agar pemerintah lebih dulu melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk melihat kesiapan infrastruktur dan dampak sosial dari kebijakan tersebut.
Solusi terbaik mungkin bukan dengan memilih antara daring atau luring secara mutlak, tapi mencari model pembelajaran yang seimbang dan adaptif terhadap kondisi nyata di lapangan.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersifat terkini hingga tanggal publikasi. Rencana kebijakan pemerintah dapat berubah sewaktu-waktu tergantung situasi dan perkembangan terbaru.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













