Setelah libur panjang Lebaran, aktivitas pasar modal kembali bergulir dengan dinamis. Rabu (25/3/2026) menjadi hari pertama perdagangan pasca-libur, dan sejumlah saham big banks langsung menunjukkan respons positif. Di sesi pertama, beberapa saham bank besar mencatatkan kenaikan, memberi sinyal bahwa sentimen pasar mulai membaik.
Pergerakan ini terjadi seiring optimisme terhadap peningkatan likuiditas pasca-THR yang beredar di masyarakat. Investor tampak mulai kembali aktif, dan beberapa saham blue-chip, terutama dari sektor perbankan, menjadi pilihan utama.
Pergerakan Saham Big Banks di Sesi I
Sesi perdagangan pertama Rabu siang menunjukkan bahwa tidak semua saham bank bergerak searah. Ada yang naik, stagnan, hingga terkoreksi. Perbedaan ini mencerminkan bagaimana masing-masing emiten menanggapi kondisi makro dan ekspektasi investor.
1. Bank Mandiri Memimpin Penguatan
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi salah satu penguatan terbaik di antara saham big banks. Saham ini naik 2,33% ke level Rp 4.840 per saham. Peningkatan ini terlihat stabil sejak pagi hari dan terus berlanjut hingga tengah hari.
2. BCA Ikut Menguat, Meski Sempat Tertekan
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga mencatatkan kenaikan sebesar 0,74% ke posisi Rp 6.825. Di awal perdagangan, saham ini sempat terkoreksi ke level Rp 6.675, namun berhasil pulih dan menutup sesi I di zona hijau.
3. BBRI Stagnan, Koreksi Bulanan Masih Terasa
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) bergerak stagnan di level Rp 3.480, sama seperti penutupan sebelum libur Lebaran. Dalam sebulan terakhir, saham ini sudah terkoreksi sebesar 10,08%, menunjukkan bahwa tekanan jual masih cukup tinggi.
4. BBNI Melemah Pasca Ex-Dividend
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) justru mengalami tekanan di sesi I. Saham ini turun 7,74% ke level Rp 4.050. Penurunan ini terjadi karena BBNI memasuki hari pertama ex-date dividen, yang biasanya menyebabkan koreksi harga saham.
Faktor Pendorong Penguatan Saham Bank
Penguatan sejumlah saham bank besar ini tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor yang memicu sentimen positif di awal perdagangan pasca-Lebaran.
1. Likuiditas Pasca-THR
THR yang diterima masyarakat berpotensi meningkatkan perputaran uang dan konsumsi. Hal ini bisa berdampak langsung pada sektor perbankan melalui peningkatan aktivitas transaksi dan tabungan.
2. Buyback Saham oleh Emiten
Sejumlah bank besar dikabarkan akan melakukan buyback saham. Langkah ini dianggap sebagai bentuk optimisme manajemen terhadap kinerja emiten mereka, sekaligus bisa menopang harga saham agar tidak terlalu volatil.
3. Proyeksi Kinerja yang Stabil
Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, memperkirakan bahwa sektor perbankan akan kembali menunjukkan performa solid di kuartal II 2026. Fundamental perbankan yang kuat menjadi dasar optimisme ini.
Perbandingan Kinerja Saham Big Banks di Sesi I
Berikut adalah ringkasan pergerakan saham big banks di sesi pertama perdagangan Rabu (25/3/2026):
| Saham | Kode | Harga Penutupan Sebelum Lebaran | Harga Sesi I (25/3/2026) | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|---|
| Bank Mandiri | BMRI | Rp 4.730 | Rp 4.840 | +2,33% |
| Bank Central Asia | BBCA | Rp 6.775 | Rp 6.825 | +0,74% |
| Bank Rakyat Indonesia | BBRI | Rp 3.480 | Rp 3.480 | 0% |
| Bank Negara Indonesia | BBNI | Rp 4.390 | Rp 4.050 | -7,74% |
Potensi Saham Bank di Kuartal II
Dengan mulai aktifnya investor kembali ke pasar, saham bank besar berpotensi menjadi pilihan utama. Apalagi, sektor ini memiliki likuiditas tinggi dan fundamental yang relatif stabil.
Namun, bukan berarti semua saham bank bisa langsung dijadikan pilihan investasi. Perlu memperhatikan beberapa hal, seperti:
- Kebijakan dividen
- Rencana buyback
- Kinerja laba
- Pergerakan makro ekonomi
Tips Investasi Saham Bank Pasca-Lebaran
Investasi di sektor perbankan bisa menguntungkan, tapi tetap butuh strategi. Berikut beberapa tips yang bisa dijadikan pertimbangan:
1. Pilih Emiten dengan Fundamental Kuat
Bank yang memiliki modal besar, NPL rendah, dan pertumbuhan kredit stabil cenderung lebih tahan terhadap volatilitas pasar.
2. Perhatikan Jadwal Ex-Dividend
Saham yang baru saja membagikan dividen biasanya mengalami koreksi harga. Jangan terburu-buru membeli saham saat memasuki masa ex-date.
3. Manfaatkan Buyback sebagai Sinyal Positif
Buyback bisa menjadi indikator bahwa manajemen percaya pada kinerja emiten. Ini bisa menjadi peluang beli saham dengan valuasi lebih menarik.
4. Jangan Abaikan Sentimen Makro
Kenaikan suku bunga, kebijakan BI, hingga kondisi global bisa memengaruhi kinerja saham bank. Selalu pantau perkembangan makro ekonomi.
Penutup
Pergerakan saham big banks di sesi I Rabu (25/3/2026) menunjukkan bahwa pasar mulai kembali aktif pasca-Lebaran. Meski tidak semua saham menguat, sentimen positif mulai terbentuk, terutama dari bank-bank besar yang memiliki fundamental kuat.
Namun, perlu diingat bahwa pasar modal selalu memiliki risiko. Data dan kondisi bisa berubah sewaktu-waktu tergantung situasi ekonomi, kebijakan moneter, hingga sentimen global.
Investasi saham sebaiknya dilakukan dengan pertimbangan matang dan pemahaman yang baik terhadap kondisi emiten serta lingkungan makro ekonomi. Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersifat umum dan dapat berubah sewaktu-waktu. Pastikan untuk melakukan riset mandiri sebelum membuat keputusan investasi.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













