Empat saham bank besar atau big banks kembali terperosok di zona merah saat perdagangan sesi pertama, Jumat (13/3/2026). Pergerakan ini terjadi meski sepekan sebelumnya saham-saham tersebut relatif stagnan.
Penurunan ini cukup mencolok, terutama untuk saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang mencatatkan pelemahan paling dalam. Diikuti oleh saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami penurunan paling ringan di antara keempatnya.
Penurunan Saham Big Banks Hari Ini
Saham BMRI turun 140 poin ke level Rp 4.820 per saham di akhir sesi I. Dibandingkan penutupan sebelumnya, ini berarti ada penurunan sebesar 2,82%. Angka ini cukup signifikan, terutama jika dibandingkan dengan volatilitas harian yang biasa terjadi.
BBRI berada di level Rp 3.530 per saham, turun 1,12% dibandingkan penutupan kemarin. Saham ini sempat berada di level lebih tinggi sekitar Rp 3.670 dalam seminggu terakhir, tapi kini kembali tertekan.
BBNI juga tidak mampu bertahan di level stabil. Sahamnya berada di posisi Rp 4.250 per saham atau turun 0,70% dibanding kemarin. Sebelumnya, saham ini sempat menyentuh level Rp 4.300 di awal perdagangan hari ini.
Sementara itu, BBCA berada di level Rp 6.875 per saham, turun 0,36%. Saham ini sempat melonjak ke level Rp 7.025 pada pukul 9:47 WIB, sebelum akhirnya tertekan menjelang penutupan sesi I.
Penyebab Pelemahan Saham Big Banks
-
Lonjakan Net Sell oleh Investor Asing
Investor asing kembali melakukan net sell atau penjualan bersih secara besar-besaran. Lonjakan ini dipicu oleh ketidakpastian geopolitik global yang masih berlangsung. Sentimen negatif ini menyebar ke pasar saham domestik, termasuk saham-saham bank besar.
-
Outlook Negatif dari Fitch Ratings
Fitch Ratings baru-baru ini merevisi outlook peringkat kredit utang pemerintah Indonesia dari "stabil" menjadi "negatif". Perubahan ini memicu keresahan di pasar modal karena investor mulai mempertanyakan prospek ekonomi jangka panjang negara.
-
Depresiasi Nilai Rupiah
Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut memberi tekanan pada saham bank. Kondisi ini meningkatkan risiko mata uang dan memengaruhi profitabilitas bank yang memiliki eksposur valas.
Perbandingan Performa Saham Big Banks Hari Ini
| Saham | Harga (Rp) | % Change | Catatan |
|---|---|---|---|
| BMRI | 4.820 | -2,82% | Penurunan terdalam |
| BBRI | 3.530 | -1,12% | Stagnan sepekan |
| BBNI | 4.250 | -0,70% | Sempat naik ke 4.300 |
| BBCA | 6.875 | -0,36% | Penurunan paling tipis |
Catatan: Data berdasarkan sesi I perdagangan, Jumat (13/3/2026).
Apa Kata Analis?
Sentimen pasar saat ini memang sedang tidak bersahabat terhadap sektor perbankan. Terutama untuk bank dengan kapitalisasi besar yang rentan terhadap perubahan sentimen global. Meski tidak ada isu fundamental spesifik yang menimpa masing-masing bank, tekanan eksternal cukup kuat untuk mendorong aksi jual.
Fitch Ratings, dalam laporannya, menyebutkan bahwa outlook negatif mencerminkan risiko ketidakpastian ekonomi global dan potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi domestik. Ini tentu berdampak pada ekspektasi kinerja keuangan perbankan ke depan.
Langkah yang Bisa Diambil Investor
-
Evaluasi Portofolio Investasi
Investor perlu mengevaluasi ulang portofolio saham yang dimiliki. Apakah eksposur terhadap sektor perbankan terlalu besar? Jika ya, mungkin saatnya melakukan diversifikasi ke sektor lain yang lebih stabil.
-
Pantau Sentimen Global
Pergerakan saham big banks saat ini sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal. Oleh karena itu, memantau sentimen pasar global dan indikator makro ekonomi menjadi penting untuk mengambil keputusan investasi yang tepat.
-
Hindari Panic Selling
Meskipun tekanan terjadi, investor tidak perlu langsung menjual saham dalam kepanikan. Pergerakan jangka pendek belum tentu mencerminkan fundamental sebenarnya. Jika yakin pada prospek jangka panjang, holding bisa menjadi pilihan.
Rencana Dividen Big Banks di Tahun 2026
Meski mengalami tekanan harga, beberapa big banks masih menunjukkan komitmen terhadap pemberian dividen. Salah satunya adalah BBCA yang berencana membagikan dividen interim sebanyak tiga kali dalam tahun ini.
Rencana ini diharapkan bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi investor jangka panjang. Namun, nilai dividen yang akan dibagikan tentu akan disesuaikan dengan kinerja keuangan bank di sepanjang tahun.
Kesimpulan
Pergerakan saham big banks hari ini mencerminkan situasi pasar yang sedang tidak stabil. Faktor eksternal seperti outlook negatif dari lembaga rating internasional dan tekanan geopolitik global menjadi pemicu utama pelemahan harga saham.
Investor perlu waspada, namun tidak perlu panik. Memahami kondisi makro ekonomi dan sentimen pasar adalah kunci untuk bertindak secara rasional di tengah volatilitas.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar. Keputusan investasi sebaiknya diambil setelah mempertimbangkan berbagai faktor dan konsultasi dengan penasihat keuangan profesional.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













