Harga minyak dunia melonjak hingga menyentuh level USD100 per barel pada Kamis, 12 Maret 2026. Lonjakan ini terjadi setelah Iran, di bawah kepemimpinan baru Mojtaba Khamenei, mengancam akan terus menutup jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Ancaman tersebut muncul sebagai respons terhadap serangan militer yang dilancarkan AS dan Israel terhadap wilayah Iran lebih dari seminggu sebelumnya.
Menurut data dari Investing.com, harga minyak Brent berjangka mencatat kenaikan sebesar 8 persen, mencapai USD99,34 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 8,6 persen menjadi USD94,77 per barel. Lonjakan ini mencerminkan ketegangan geopolitik yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah.
Dampak Geopolitik terhadap Pasar Energi Global
Kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak terus meningkat seiring laporan serangan terhadap kapal tanker di sekitar Irak dan Kuwait. Dua kapal tanker dilaporkan diserang, salah satunya terbakar parah. Pihak Irak mengaitkan serangan tersebut dengan Iran dan mengumumkan penutupan semua pelabuhan minyaknya sebagai langkah pencegahan.
-
Serangan di Perairan Timur Tengah
- Dua kapal tanker diserang dan terbakar di dekat Irak dan Kuwait.
- Irak menutup pelabuhan minyak dan mengalami tumpahan bahan bakar.
- Oman dan Irak melaporkan penutupan terminal minyak sementara.
-
Reaksi Internasional
- China melarang ekspor bahan bakar olahan pada Maret 2026 untuk mengantisipasi kekurangan domestik.
- Badan Energi Internasional (IEA) mengumumkan pelepasan cadangan minyak strategis sebesar 400 juta barel.
- AS juga ikut melepaskan 172 juta barel dari cadangan daruratnya.
Penutupan Selat Hormuz dan Dampaknya
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran vital yang mengangkut sekitar 20 juta barel minyak per hari. Penutupan jalur ini secara permanen atau jangka panjang akan mengganggu aliran pasokan global secara signifikan.
-
Pernyataan Khamenei
- Pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan tidak akan ragu membalas serangan dengan kekerasan.
- Ini adalah pernyataan publik pertamanya sejak menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan awal Februari.
-
Dampak pada Jalur Pelayaran
- Perusahaan kontainer hampir menghentikan operasi karena risiko tinggi dan sulitnya mendapatkan asuransi.
- IEA mencatat aliran minyak melalui Selat Hormuz kini turun drastis menjadi "sangat sedikit".
-
Pemangkasan Produksi
Data Pasar Minyak dan Respons Global
Lonjakan harga minyak tidak hanya disebabkan oleh ketegangan di Iran, tetapi juga oleh respons global yang terbatas dalam mengatasi krisis pasokan. Meski IEA dan AS telah melepaskan cadangan strategis, tekanan terhadap harga tetap tinggi.
| Komponen | Sebelum Krisis | Pasca-Krisis Iran |
|---|---|---|
| Produksi Harian Selat Hormuz | 20 juta barel | Hampir nol |
| Produksi Global Harian | ~100 juta barel | Turun 8 juta barel |
| Cadangan Strategis AS | 600 juta barel | Dikurangi 172 juta barel |
| Ekspor China | Normal | Dihentikan sementara |
Respons Ekonomi AS terhadap Lonjakan Harga Energi
Berbeda dengan era 1980-an, ekonomi AS saat ini lebih tahan terhadap lonjakan harga energi. Menurut analisis Wells Fargo, efek dari kenaikan harga minyak kini lebih terbatas terhadap konsumsi dan pertumbuhan ekonomi.
-
Perubahan Struktur Ekonomi
- Peningkatan efisiensi energi.
- Jejak energi yang lebih kecil terhadap output ekonomi.
- Transisi dari pengimpor bersih menjadi pengekspor energi.
-
Dampak Konsumsi dan PCE
- Lonjakan harga minyak 50 persen hanya mengurangi pertumbuhan konsumsi sekitar 1 poin persentase.
- Di era 1980-an, efek serupa bisa memangkas hingga 2 poin persentase dari pertumbuhan PCE.
-
Implikasi Makro
- Resesi kini tidak serta merta terpicu oleh kenaikan harga minyak.
- Ketergantungan terhadap impor energi lebih rendah dibandingkan dekade sebelumnya.
Kesimpulan
Lonjakan harga minyak dunia pada Maret 2026 mencerminkan ketidakstabilan geopolitik yang mendalam di Timur Tengah. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan respons militer global telah menciptakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah modern. Meski negara-negara besar telah melepaskan cadangan strategis, tekanan terhadap harga masih tinggi. Ekonomi global, khususnya AS, menunjukkan ketahanan yang lebih baik terhadap guncangan energi dibanding masa lalu, tetapi dampak jangka panjang masih perlu diwaspadai.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat simulasi berdasarkan skenario hipotesis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan situasi di lapangan.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













