Free float saham Bank Permata (BNLI) saat ini masih berada di bawah ambang batas 10%, tepatnya 9,97% berdasarkan data Stockbit per Kamis (12/3/2026). Angka ini menjadi sorotan karena ada wacana kenaikan batas minimal free float menjadi 15% di pasar modal Indonesia mulai Maret 2026. Sejauh ini, pihak bank masih menunggu kepastian regulasi sebelum mengambil langkah konkret.
Rudy Basyir Ahmad, Direktur Keuangan dan Unit Usaha Syariah Permata Bank, menyampaikan bahwa bank terus memantau perkembangan kebijakan pasar modal. Termasuk dalam hal ini adalah rencana kenaikan ketentuan free float. Meski belum ada regulasi resmi, persiapan tetap dilakukan bersama Bangkok Bank selaku pemegang saham pengendali.
Wacana Kebijakan Free Float 15% dan Dampaknya
Kenaikan batas minimal free float menjadi 15% merupakan bagian dari upaya pemerintah dan regulator untuk menyelaraskan standar pasar modal Indonesia dengan global. Targetnya adalah agar saham-saham emiten bisa lebih likuid dan terbuka secara publik, meningkatkan daya tarik investor asing.
Namun, kebijakan ini juga menimbulkan tantangan tersendiri bagi sejumlah emiten, khususnya bank yang free float-nya masih di bawah ambang baru. Saat ini, sekitar 25 emiten bank diketahui belum memenuhi standar 15% tersebut.
1. Penjelasan Free Float dan Pentingnya bagi Emiten
Free float adalah persentase saham yang beredar di pasar terbuka dan bisa diperdagangkan oleh investor publik. Semakin tinggi free float, semakin besar kemungkinan likuiditas saham dan semakin menarik bagi investor institusional.
Free float yang tinggi juga berkontribusi pada indeks saham, seperti IDX Composite atau LQ45, yang memiliki kriteria ketat terhadap porsi saham publik. Emiten dengan free float rendah bisa kehilangan daya tarik atau bahkan keluar dari indeks.
2. Regulasi Baru dan Masa Transisi
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berencana menerapkan kebijakan baru ini mulai Maret 2026. Emiten lama akan diberi masa transisi selama tiga tahun, sedangkan emiten baru wajib memenuhi ketentuan sejak IPO.
Langkah ini diambil agar standar free float di Indonesia sejajar dengan negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand. Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, kenaikan dari 7,5% ke 15% adalah upaya agar pasar modal Indonesia lebih kompetitif secara global.
3. Opsi yang Tersedia untuk Memenuhi Ketentuan
OJK membuka beberapa opsi bagi emiten agar bisa memenuhi ketentuan free float 15%. Opsi tersebut antara lain:
- Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue
- Non-HMETD seperti penawaran saham tambahan
- Employee Stock Ownership Plan (ESOP)
- Management Stock Option Plan (MSOP)
- Divestasi saham oleh pemegang saham pengendali
Setiap opsi memiliki pertimbangan tersendiri, tergantung pada struktur kepemilikan dan strategi korporasi masing-masing emiten.
Strategi Bank Permata Menghadapi Kebijakan Baru
Sebagai salah satu bank swasta yang free float-nya masih di bawah 15%, Bank Permata bersama Bangkok Bank terus mengevaluasi berbagai alternatif. Rudy menyebut bahwa belum ada keputusan pasti karena regulasi belum diterbitkan secara resmi.
Namun, beberapa skenario kemungkinan akan dievaluasi, terutama yang melibatkan penerbitan saham baru atau penjualan saham oleh pemegang saham pengendali. Langkah ini juga harus mempertimbangkan dampak terhadap struktur kepemilikan dan nilai perusahaan.
1. Evaluasi Struktur Kepemilikan
Salah satu pertimbangan utama adalah menjaga keseimbangan antara kepemilikan mayoritas dan kepentingan publik. Jika free float ditingkatkan melalui penjualan saham Bangkok Bank, maka posisi mayoritas bisa terpengaruh.
2. Penerbitan Saham Baru
Rights issue atau HMETD menjadi opsi yang umum digunakan emiten untuk menaikkan free float. Namun, metode ini membutuhkan persetujuan pemegang saham dan memerlukan dana tambahan.
3. Penawaran Saham Secara Umum
Opsi ini memungkinkan bank untuk menawarkan saham tambahan kepada publik, baik melalui penempatan terbatas maupun umum. Ini bisa menjadi solusi jangka pendek sekaligus jangka panjang tergantung pada strategi korporasi.
Perbandingan Free Float Bank-Bank Terbesar
Berikut adalah perbandingan free float beberapa bank besar di Indonesia berdasarkan data terakhir per Maret 2026:
| Nama Bank | Kode Saham | Free Float (%) |
|---|---|---|
| Bank Mandiri | BMRI | 22,5 |
| BCA | BBCA | 19,8 |
| BRI | BBRI | 18,3 |
| Bank Permata | BNLI | 9,97 |
| Bank CIMB Niaga | BNGA | 11,2 |
| Bank Danamon | BDMN | 13,5 |
Dari tabel di atas terlihat bahwa Bank Permata masih berada di bawah rata-rata free float industri perbankan. Ini menunjukkan perlunya langkah strategis agar sesuai dengan regulasi baru.
Tantangan dan Peluang Bagi Emiten
Kenaikan free float bukan hanya soal kepatuhan regulasi. Ini juga membuka peluang likuiditas yang lebih baik dan daya tarik investor institusional. Namun, bagi emiten seperti Bank Permata, tantangan utamanya adalah menjaga keseimbangan antara struktur kepemilikan dan kepentingan publik.
Langkah-langkah yang diambil juga harus mempertimbangkan dampak terhadap harga saham, nilai buku, dan ekspektasi pasar. Jika dilakukan dengan tepat, peningkatan free float bisa menjadi momentum untuk meningkatkan kapitalisasi pasar.
Kesimpulan
Wacana peningkatan batas minimal free float menjadi 15% mulai Maret 2026 menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Bank Permata. Saat ini, free float bank masih di bawah 10%, sehingga diperlukan strategi yang matang untuk memenuhi ketentuan baru.
Pihak manajemen bersama Bangkok Bank terus memantau perkembangan regulasi dan mengevaluasi berbagai opsi. Meski belum ada langkah konkret, persiapan sudah dimulai agar kebijakan ini tidak mengganggu operasional dan nilai perusahaan.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terbatas dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kebijakan resmi dari OJK dan BEI.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













