Awal tahun 2026 memberikan sinyal positif bagi kinerja keempat bank pelat merah. Meski laba tahunan mereka sedikit turun dibanding periode yang sama tahun lalu, laba bersih di bulan Januari justru menunjukkan tren pertumbuhan yang menarik. Dari empat bank besar yang tergabung dalam KBMI 4, masing-masing mencatatkan pencapaian yang cukup solid, baik dari segi laba maupun pertumbuhan aset dan dana pihak ketiga.
Yang menarik, BRI menjadi sorotan karena melonjak jauh di atas rekan-rekannya dalam hal pertumbuhan laba. Sementara BCA tetap kokoh di posisi teratas berdasarkan nilai laba bersih. Bagaimana rinciannya? Yuk, kita lihat lebih dalam.
Perbandingan Laba Bersih Bank Jumbo Januari 2026
Sebelum masuk ke detail tiap bank, mari lihat dulu gambaran umum laba bersih mereka di awal tahun ini. Dari data yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), keempat bank pelat merah berhasil mencatatkan laba bersih total sebesar Rp14,94 triliun hanya dalam satu bulan. Angka ini memang lebih rendah dibandingkan total laba tahunan yang mencapai ratusan triliun, tapi pertumbuhan bulanan tetap menjadi indikator awal yang penting untuk dicermati.
Berikut rincian laba bersih masing-masing bank pada Januari 2026:
| Bank | Laba Bersih (Jan 2026) | Laba Bersih (Jan 2025) | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|---|
| BCA | Rp4,99 triliun | Rp4,72 triliun | 5,76% |
| Mandiri | Rp4,65 triliun | Rp4,00 triliun | 16,18% |
| BRI | Rp3,72 triliun | Rp2,00 triliun | 85,40% |
| BNI | Rp1,68 triliun | Rp1,62 triliun | 3,45% |
1. BCA: Tetap di Puncak, Tapi Pertumbuhan Tak Secepat yang Lain
Bank Central Asia (BCA) kembali menjadi yang terdepan dalam hal laba bersih di antara bank jumbo. Posisinya memang sudah mapan sebagai bank swasta terbesar di Tanah Air. Di Januari 2026, BCA mencatat laba bersih sebesar Rp4,99 triliun, naik dari Rp4,72 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan laba bersih BCA sebesar 5,76% tergolong stabil. Meski tidak secepat Mandiri atau apalagi BRI, angka ini tetap menunjukkan konsistensi BCA dalam menjaga performa operasionalnya.
Dari sisi bisnis inti, BCA juga terus menunjukkan performa solid. Total kredit yang disalurkan mencapai Rp948,95 triliun, naik 6,26% dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun mencapai Rp1.225,42 triliun, tumbuh 9,37% YoY.
2. Mandiri: Pertumbuhan Laba Lebih dari 16%, Momentum yang Kuat
Bank Mandiri menempati posisi kedua dengan laba bersih Rp4,65 triliun. Angka ini naik cukup signifikan dibandingkan laba Januari 2025 yang hanya Rp4,00 triliun. Artinya, pertumbuhan laba bersih Mandiri mencapai 16,18% YoY.
Peningkatan ini didukung oleh pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga yang juga solid. Kredit yang disalurkan Mandiri di Januari 2026 mencapai Rp1.511,41 triliun, naik 15,62% dibanding periode yang sama tahun lalu. DPK-nya juga naik 17,29% menjadi Rp1.635,48 triliun.
Dengan momentum ini, Mandiri menunjukkan bahwa bank pelat emas ini terus berbenah dan memperkuat posisinya di tengah persaingan ketat industri perbankan.
3. BRI: Pertumbuhan Tertinggi, Laba Naik Lebih dari 85%
Bank Rakyat Indonesia (BRI) mungkin bukan yang terbesar dalam hal nilai laba, tapi ia unggul dalam hal pertumbuhan. Di Januari 2026, BRI mencatat laba bersih sebesar Rp3,72 triliun, naik dari Rp2,00 triliun di tahun sebelumnya. Artinya, laba bersih BRI melonjak hingga 85,40% YoY.
Lonjakan ini cukup mengejutkan, terutama jika dibandingkan dengan pertumbuhan bank lain. BRI memang dikenal sebagai bank yang agresif dalam ekspansi dan inovasi digital, dan performa ini tampaknya mulai membuahkan hasil.
Dari sisi bisnis inti, kredit yang disalurkan BRI tumbuh 11,95% menjadi Rp1.354,08 triliun. Dana pihak ketiga juga naik 9,96% menjadi Rp1.495,69 triliun. Semua ini menunjukkan bahwa BRI terus berhasil menarik minat nasabah, baik dari segi pinjaman maupun simpanan.
4. BNI: Laba Naik Tipis, Tapi Kredit Melesat
Bank Negara Indonesia (BNI) menempati posisi keempat dengan laba bersih sebesar Rp1,68 triliun. Dibandingkan Januari 2025 yang mencatat laba Rp1,62 triliun, pertumbuhan laba bersih BNI hanya 3,45%. Angka ini memang paling kecil di antara ketiganya.
Namun, BNI menunjukkan performa yang luar biasa dalam hal penyaluran kredit. Kredit yang disalurkan BNI naik hingga 19,27% menjadi Rp894,29 triliun. Ini adalah salah satu pertumbuhan tertinggi di antara bank jumbo.
Selain itu, DPK BNI juga naik tajam sebesar 35,80% menjadi Rp1.051,49 triliun. Artinya, meski laba bersihnya belum melesat, BNI sedang dalam fase ekspansi yang cukup agresif, terutama dalam menghimpun dana dan menyalurkan pinjaman.
Faktor-Faktor yang Mendorong Kenaikan Laba
Pertumbuhan laba bersih di awal 2026 ini tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor yang turut mendorong kenaikan tersebut, di antaranya:
- Peningkatan aktivitas ekonomi di awal tahun yang mendorong permintaan kredit dari pelaku usaha.
- Inisiatif digitalisasi yang semakin matang, memungkinkan bank menjangkau lebih banyak nasabah dengan biaya operasional yang lebih efisien.
- Optimasi struktur dana yang membuat bank bisa mengelola likuiditas dengan lebih baik, sehingga laba dari selisih bunga pun meningkat.
- Efisiensi biaya operasional yang dilakukan sejumlah bank, terutama dalam hal teknologi dan layanan cabang.
Catatan Penting
Data yang disajikan dalam artikel ini bersumber dari laporan keuangan bulanan yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Januari 2026. Angka-angka yang ditampilkan bersifat preliminary dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan audit internal maupun regulasi yang berlaku.
Kinerja keempat bank ini memang menjanjikan di awal tahun, tapi tantangan di kuartal berikutnya juga tidak bisa diabaikan. Dengan kondisi makro ekonomi yang masih dinamis, bank-bank besar ini harus terus adaptif dan inovatif agar bisa mempertahankan momentum positif ini.
Bagaimana dengan performa bank favoritmu? Mau lihat bank mana yang bakal jadi yang paling moncer di kuartal I 2026?
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.












