Perbankan

Perbanas Sebut Tiga Langkah Atasi Serangan Bertubi-tubi pada Sektor Perbankan

Fadhly Ramadan
×

Perbanas Sebut Tiga Langkah Atasi Serangan Bertubi-tubi pada Sektor Perbankan

Sebarkan artikel ini
Perbanas Sebut Tiga Langkah Atasi Serangan Bertubi-tubi pada Sektor Perbankan

Industri perbankan Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang cukup solid meski menghadapi berbagai tekanan, baik dari dalam maupun luar negeri. Fundamental sektor ini terus dijaga ketat, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global yang semakin kompleks. Meski begitu, tantangan seperti kenaikan inflasi, gejolak geopolitik, dan potensi risiko kredit tetap harus diwaspadai secara cermat.

Ketua Umum Perbanas sekaligus Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menyampaikan bahwa kondisi perbankan nasional hingga awal 2026 masih berada dalam posisi yang stabil. Pertumbuhan kredit mencapai 9,96% secara tahunan, meningkat dari 9,63% di periode sebelumnya. Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga menunjukkan performa positif dengan pertumbuhan 13,48% YoY. Rasio NPL tetap terjaga di level 2,14%, dan mencapai 25,87%, menunjukkan ketahanan permodalan yang kuat.

Tekanan yang Perlu Diwaspadai

Meski secara umum kondisi perbankan masih sehat, bukan berarti bisa bersantai. Ada sejumlah tekanan yang mulai terasa, terutama dari sisi eksternal. Ketegangan geopolitik global, misalnya, berpotensi memicu lonjakan harga energi dan pangan. Dampaknya, daya beli masyarakat bisa tergerus dan ekonomi melambat.

Kondisi ini juga bisa memengaruhi kinerja sektor usaha, yang pada akhirnya meningkatkan risiko . Oleh karena itu, bagi bank untuk lebih selektif dalam menyalurkan kredit dan memperkuat pengelolaan risiko.

3 Strategi Jitu Jaga Stabilitas Perbankan

Menghadapi berbagai tantangan tersebut, Perbanas mengungkapkan tiga langkah strategis yang bisa diterapkan oleh industri perbankan untuk menjaga stabilitas dan ketahanannya. Ketiga langkah ini mencakup pengelolaan risiko, likuiditas, hingga risiko valuta asing.

1. Perkuat Manajemen Risiko dan Early Warning System

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memperkuat manajemen risiko. Salah satu caranya adalah dengan melakukan stress test sektoral, terutama pada kredit di sektor-sektor yang sensitif terhadap fluktuasi harga energi seperti transportasi, , dan manufaktur.

Selain itu, bank juga perlu mengoptimalkan sistem peringatan dini () untuk mendeteksi potensi peningkatan NPL. Penerapan risk-based pricing juga menjadi penting untuk memastikan bahwa setiap pemberian kredit sesuai dengan risiko yang dihadapi.

2. Jaga Likuiditas dengan Rasio yang Memadai

Langkah kedua adalah memastikan ketersediaan likuiditas yang cukup untuk menghadapi potensi volatilitas arus dana. Ini bisa dilakukan dengan memperkuat rasio likuiditas seperti (LCR) dan Net Stable Funding Ratio (NSFR).

Rasio Fungsi Target Ideal
LCR Mengukur kemampuan bank menyediakan likuiditas jangka pendek ≥100%
NSFR Mengukur ketersediaan dana stabil jangka panjang ≥100%

Dengan menjaga rasio ini tetap sehat, bank memiliki bantalan arus kas yang cukup untuk menghadapi gejolak pasar.

3. Kelola Risiko Valas dengan Bijak

Langkah ketiga adalah mengelola risiko nilai tukar dan likuiditas valuta asing secara lebih hati-hati. Strategi ini penting mengingat ketergantungan sektor ekspor dan impor pada valas.

Beberapa langkah yang bisa diambil antara lain menjaga posisi devisa neto (PDN) tetap konservatif, memperkuat strategi lindung nilai (hedging), serta mengelola maturity mismatch dalam pendanaan valuta asing.

Dukungan Regulator yang Tetap Kuat

Regulator juga terus memantau kondisi perbankan. Deputi Komisioner OJK, Deden Firman Hendarsyah, menyatakan bahwa kondisi perbankan nasional masih cukup resilien, terutama dari sisi permodalan dan likuiditas. Semua indikator utama masih berada di atas ambang batas minimal yang ditetapkan.

Namun, dukungan regulator saja tidak cukup. Perbankan harus tetap proaktif dalam mengantisipasi risiko dan menjaga kesehatan operasionalnya.

Kesimpulan

Meski menghadapi berbagai tekanan, industri perbankan Indonesia masih memiliki fondasi yang kuat. Dengan menerapkan strategi mitigasi risiko yang tepat, seperti , pengelolaan likuiditas, dan pengawasan terhadap risiko valuta asing, bank bisa tetap bertahan dan bahkan berkembang di tengah ketidakpastian.

Disclaimer: Data dan kondisi yang disebutkan dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan ekonomi dan kebijakan yang berlaku.

Fadhly Ramadan
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.