Permintaan layanan beli sekarang bayar nanti alias buy now pay later (BNPL) dari kalangan warga usia produktif terus meningkat. Tren ini menjadikan bisnis paylater di sektor multifinance sebagai salah satu pilar penting dalam ekosistem keuangan digital Tanah Air.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, pertumbuhan layanan paylater dari perusahaan pembiayaan mencapai 71,13% secara tahunan (year-on-year). Nilai pembiayaan yang berhasil dicatatkan pun melonjak hingga Rp12,18 triliun per Januari 2026. Angka ini menunjukkan bahwa layanan paylater mulai digemari oleh masyarakat, khususnya yang belum memiliki akses ke layanan keuangan formal.
Dinamika Pertumbuhan Bisnis Paylater di Tahun 2026
Pertumbuhan layanan paylater tidak datang begitu saja. Ada beberapa faktor yang mendorong lonjakan permintaan, termasuk perubahan perilaku konsumen dan adopsi teknologi digital yang semakin masif. Tren ini juga didorong oleh semakin banyaknya platform e-commerce yang mengintegrasikan fitur paylater sebagai opsi pembayaran.
Namun, di balik potensi besar yang ditawarkan, bisnis paylater juga menghadapi sejumlah tantangan. Mulai dari risiko over-indebtedness hingga potensi naiknya tingkat kredit bermasalah. Untuk itu, pengelolaan risiko yang ketat dan regulasi yang tepat sangat dibutuhkan agar pertumbuhan tetap berjalan sehat.
1. Permintaan dari Segmen Usia Produktif
Warga usia produktif menjadi konsumen utama layanan paylater. Mereka umumnya memiliki kebutuhan konsumsi yang tinggi, namun belum tentu memiliki akses ke layanan keuangan konvensional seperti kartu kredit. Layanan paylater hadir sebagai solusi yang fleksibel dan mudah diakses.
2. Tingkat NPF yang Terjaga
OJK mencatat tingkat Non-Performing Financing (NPF) gross BNPL perusahaan pembiayaan berada di angka 2,77% per Januari 2026. Angka ini tergolong rendah dan menunjukkan bahwa pengelolaan risiko oleh perusahaan pembiayaan sudah cukup baik. Salah satu faktor pendukungnya adalah penggunaan sistem credit scoring yang ketat dan pemantauan pembayaran secara real time.
3. Integrasi Teknologi dan Data Analytics
Perusahaan pembiayaan semakin mengandalkan teknologi untuk menilai risiko kredit calon pengguna. Dengan memanfaatkan data analytics dan sistem scoring otomatis, proses seleksi calon debitur menjadi lebih cepat dan akurat. Ini membantu mengurangi risiko kredit macet sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
Tantangan yang Menghadang Bisnis Paylater
Meski prospeknya cerah, bisnis paylater tidak luput dari berbagai tantangan. Seiring dengan meningkatnya permintaan, risiko over-indebtedness atau utang berlebihan juga semakin besar. Terlebih lagi jika kondisi ekonomi tidak stabil, potensi kredit macet bisa meningkat.
Selain itu, semakin ketatnya persaingan antar perusahaan pembiayaan membuat para pelaku bisnis harus terus berinovasi. Mereka harus menawarkan layanan yang lebih baik, namun tetap menjaga kesehatan portofolio kredit.
1. Risiko Over-indebtedness
Salah satu risiko utama dari layanan paylater adalah potensi konsumen terlilit utang. Jika tidak dikelola dengan baik, hal ini bisa berdampak pada kesehatan keuangan individu dan memicu risiko kolektif bagi industri.
2. Potensi Naiknya NPF Saat Resesi
Jika terjadi perlambatan ekonomi atau krisis keuangan, kemungkinan pembayaran cicilan paylater akan terganggu. Ini bisa menyebabkan kenaikan NPF yang berdampak pada kinerja perusahaan pembiayaan.
3. Biaya Kepatuhan Regulasi yang Meningkat
OJK terus memperketat pengawasan terhadap layanan paylater. Regulasi baru yang diterapkan, seperti batas maksimal pinjaman dan kewajiban pelaporan, bisa meningkatkan biaya operasional perusahaan. Namun, ini juga membantu menjaga stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan.
4. Perlindungan Data dan Keamanan Siber
Dengan semakin banyaknya transaksi digital, perlindungan data pengguna menjadi isu penting. Perusahaan harus memastikan bahwa data pribadi dan keuangan pengguna aman dari ancaman siber. Kebocoran data bisa merusak reputasi dan menimbulkan kerugian besar.
Strategi Jitu Menghadapi Tantangan Paylater
Untuk tetap bertahan dan berkembang di tengah persaingan yang ketat, perusahaan pembiayaan perlu menerapkan strategi yang tepat. Mulai dari manajemen risiko hingga penguatan sistem keamanan data.
1. Penerapan Sistem Scoring yang Lebih Akurat
Dengan menggunakan algoritma canggih dan data alternatif, perusahaan bisa menilai risiko kredit secara lebih tepat. Ini membantu mengurangi potensi kredit bermasalah dan meningkatkan kualitas portofolio.
2. Edukasi Keuangan untuk Pengguna
Memberikan edukasi keuangan kepada pengguna paylater sangat penting. Ini bisa membantu mereka memahami pentingnya manajemen utang dan menghindari over-indebtedness.
3. Penguatan Infrastruktur Keamanan Siber
Investasi dalam teknologi keamanan siber harus menjadi prioritas. Dengan sistem enkripsi data dan protokol keamanan yang kuat, risiko kebocoran data bisa diminimalkan.
4. Kolaborasi dengan Regulator
Kerja sama yang baik dengan OJK dan lembaga pengawas lainnya bisa membantu perusahaan memahami regulasi terbaru dan menyesuaikan operasionalnya dengan cepat.
Data Perbandingan Pertumbuhan Paylater (YoY)
| Parameter | 2025 | 2026 | Pertumbuhan (%) |
|---|---|---|---|
| Volume Pembiayaan BNPL | Rp7,14 Triliun | Rp12,18 Triliun | 71,13% |
| Tingkat NPF Gross | 3,12% | 2,77% | -0,35% |
| Jumlah Pengguna Aktif | 4,2 Juta | 6,8 Juta | 61,9% |
Catatan: Data di atas bersifat estimasi berdasarkan laporan RDK OJK dan sumber terkait per Februari 2026. Angka bisa berubah sewaktu-waktu sesuai kondisi pasar.
Kesimpulan
Bisnis paylater di sektor multifinance tengah mengalami pertumbuhan yang pesat, terutama didorong oleh permintaan dari warga usia produktif. Namun, di balik peluang besar tersebut, ada sejumlah tantangan yang harus diwaspadai. Dengan manajemen risiko yang baik, penerapan teknologi yang tepat, serta edukasi pengguna yang konsisten, bisnis paylater bisa terus berkembang secara berkelanjutan.
Disclaimer: Data dan angka yang disajikan dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan regulasi, kondisi ekonomi, dan dinamika pasar.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.












