Musim Ramadan dan Lebaran selalu jadi momen istimewa di kalangan pelaku usaha mikro. Bukan cuma soal peningkatan transaksi, tapi juga tantangan pengelolaan keuangan yang harus lebih cermat. Bagi fintech peer-to-peer (P2P) lending seperti Samir, momen ini punya dampak langsung ke risiko kredit, terutama pada metrik TWP90 alias Tingkat Waktu Pinjaman 90 hari.
TWP90 sendiri adalah ukuran seberapa besar pinjaman yang macet lebih dari 90 hari. Semakin tinggi angkanya, semakin besar risiko kredit yang ditanggung oleh platform. Nah, menjelang Lebaran 2026, Samir tampaknya sudah siap dengan sejumlah langkah antisipasi.
Strategi Samir Hadapi Lonjakan Risiko Kredit
Ramadan dan Lebaran identik dengan lonjakan pengeluaran. Masyarakat banyak yang merogoh kocek untuk biaya mudik, belanja lebaran, hingga THR keluarga. Tak heran jika pasca-Lebaran kerap terjadi peningkatan tunggakan pinjaman.
Samir tahu betul fenomena ini. Maka dari itu, beberapa strategi disiapkan agar risiko tetap terjaga meski permintaan pinjaman naik.
1. Penguatan Analisis Kelayakan Kredit
Proses seleksi calon peminjam tak main-main. Samir menggunakan sistem analisis berbasis data dan teknologi untuk menilai kemampuan bayar tiap individu. Artinya, bukan cuma soal input data diri, tapi juga perilaku keuangan dan riwayat transaksi.
Langkah ini membantu mengurangi risiko penyaluran ke peminjam yang tidak benar-benar layak. Dengan begitu, meskipun volume pinjaman naik, kualitas portofolio tetap terjaga.
2. Monitoring Portofolio Secara Berkala
Setelah pinjaman disalurkan, Samir tak langsung “berpaling.” Tim melakukan monitoring rutin terhadap performa pinjaman. Jika ada indikasi keterlambatan, sistem akan otomatis mengirimkan notifikasi pengingat ke pengguna.
Ini penting karena sering kali keterlambatan bukan karena ketidakmampuan, melainkan karena lupa atau kesibukan. Pengingat yang tepat waktu bisa mencegah tunggakan berlarut-larut.
3. Edukasi Literasi Keuangan
Samir sadar bahwa risiko kredit bukan cuma soal sistem internal. Faktor eksternal, terutama perilaku pengguna, juga turut berpengaruh. Oleh karena itu, edukasi keuangan jadi bagian penting dari strategi jangka panjang.
Melalui konten edukatif dan simulasi pinjaman, Samir berharap masyarakat bisa lebih bijak dalam menggunakan layanan keuangan digital. Tujuannya, agar pinjaman digunakan sesuai kebutuhan, bukan gaya hidup.
Faktor Musiman yang Memicu Kenaikan TWP90
Lonjakan pengeluaran menjelang dan seusai Lebaran memang sulit dihindari. Ini bukan cuma isu personal, tapi juga tren makro ekonomi yang terlihat di seluruh industri keuangan.
Beberapa faktor utama yang menyebabkan lonjakan TWP90 antara lain:
- Peningkatan pengeluaran mendadak, terutama untuk biaya mudik dan belanja lebaran.
- Perubahan pola cash flow akibat THR dan bonus yang masuk sekaligus.
- Rendahnya literasi keuangan, membuat sebagian masyarakat terjebak utang konsumtif.
Menurut data internal Samir per 6 Maret 2026, TWP90 mereka masih berada di level 1,39%. Angka ini relatif rendah dibandingkan rata-rata industri yang sempat menyentuh 4,38% di awal tahun.
Data TWP90 Fintech Lending Awal 2026
Untuk gambaran lebih lengkap, berikut perkembangan TWP90 di sektor fintech lending nasional:
| Bulan | TWP90 (%) |
|---|---|
| Januari 2025 | 2,52 |
| Desember 2025 | 4,32 |
| Januari 2026 | 4,38 |
Naiknya angka ini menunjukkan bahwa kondisi makro dan pola konsumsi masyarakat berdampak nyata ke sektor keuangan digital. Samir yang proaktif dalam mitigasi risiko punya peluang lebih besar untuk tetap stabil di tengah gejolak.
Tips Mengelola Pinjaman Saat Lebaran
Bagi pengguna layanan fintech, momen Lebaran juga jadi ujian pengelolaan keuangan. Agar tidak terjebak tunggakan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan sejak dini.
1. Buat Anggaran Khusus Lebaran
Catat semua rencana pengeluaran, mulai dari belanja sembako hingga biaya mudik. Dengan anggaran jelas, pengeluaran bisa dikontrol dan tidak melesat.
2. Hindari Pinjaman Konsumtif
Pinjaman sebaiknya digunakan untuk kebutuhan produktif, bukan gaya hidup sesaat. Jika sudah punya cicilan aktif, pertimbangkan lagi apakah butuh tambahan pinjaman atau tidak.
3. Bayar Tepat Waktu
Gunakan fitur reminder atau auto-debit jika tersedia. Bayar sedini mungkin sebelum tanggal jatuh tempo untuk hindari denda dan catatan buruk di sistem.
Kesimpulan
Momen Ramadan dan Lebaran memang selalu jadi tantangan tersendiri bagi fintech P2P. Namun dengan strategi yang tepat, risiko bisa diminimalkan. Samir yang fokus pada analisis kredit, monitoring aktif, dan edukasi pengguna menunjukkan komitmen kuat menjaga stabilitas operasional.
Bagi pengguna, saat-saat seperti ini juga jadi peluang untuk belajar mengelola keuangan lebih baik. Karena di akhir tahun, yang paling penting bukan cuma bisa belanja puas, tapi juga tidur nyenyak tanpa beban utang.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kondisi pasar dan regulasi yang berlaku.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













