Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga minyak dunia kembali mengalami lonjakan tajam menjelang akhir pekan. Brent menyentuh level di atas USD90 per barel dan mencatatkan kenaikan mingguan terbesar sejak April 2020. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) melonjak hingga 36,2 persen dalam seminggu. Lonjakan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan data ekonomi AS yang mengecewakan.
Kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Mei naik 8,9 persen menjadi USD93,04 per barel. WTI juga tidak kalah agresif, melonjak 12,7 persen ke level USD91,27 per barel. Kenaikan ini terjadi seiring berlanjutnya konflik antara Iran, Israel, dan AS yang semakin memanas.
Lonjakan Harga Minyak Dipicu Ketegangan Geopolitik
Konflik di Timur Tengah memasuki hari ketujuh dan belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Pertempuran serta serangan balasan yang melibatkan AS, Israel, dan Iran semakin meningkatkan ketidakpastian di kawasan. Pasar energi global pun ikut terpengaruh secara langsung.
1. Pertempuran dan Serangan Rudal Ganggu Pasar Energi
Serangan rudal, aksi balasan, serta gangguan terhadap infrastruktur energi di kawasan membuat ketegangan semakin tinggi. Salah satu titik kritis yang menjadi sorotan adalah Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi jalur transit minyak terpenting di dunia.
2. Selat Hormuz sebagai Titik Kritis Pasokan Global
Sekitar 20 persen pasokan minyak global mengalir melalui Selat Hormuz setiap hari. Gangguan di jalur ini bisa langsung memperketat pasokan dan mendorong lonjakan harga minyak secara signifikan. Ed Egilinsky dari Direxion menyebut bahwa pertanyaan besar saat ini adalah berapa lama konflik ini akan berlangsung dan seberapa besar dampaknya terhadap jalur strategis tersebut.
3. Ancaman Penutupan Ekspor Teluk
Laporan dari Financial Times menyebut bahwa Kementerian Energi Qatar memperingatkan bahwa negara-negara Teluk bisa terpaksa menutup semua ekspor minyak jika situasi tidak membaik. Jika benar terjadi, harga minyak bisa melonjak hingga USD150 per barel.
Data Tenaga Kerja AS yang Lemah Tambah Volatilitas Pasar
Di tengah ketegangan geopolitik, data ekonomi dari AS juga memberikan dampak besar terhadap sentimen pasar. Laporan tenaga kerja yang dirilis pada Jumat pagi menunjukkan bahwa ekonomi AS secara tak terduga kehilangan lapangan kerja pada Februari 2026.
1. Penurunan Lapangan Kerja Non-Pertanian
Total pekerjaan non-pertanian turun sebanyak 92.000 pekerjaan, jauh dari perkiraan awal yang memproyeksikan penambahan 58.000 lapangan kerja. Data Januari juga direvisi turun dari 130.000 menjadi 126.000.
2. Tingkat Pengangguran Naik
Tingkat pengangguran naik menjadi 4,4 persen, melebihi ekspektasi yang memperkirakan tetap di level 4,3 persen. Data ini memberikan tekanan pada ekspektasi kebijakan Federal Reserve ke arah yang lebih lunak, seiring dengan lonjakan harga minyak yang bisa memicu inflasi.
Respons AS dan Dampaknya terhadap Pasar Global
Di tengah ketidakpastian, AS mengambil langkah untuk meredam kekhawatiran pasokan. Langkah ini diharapkan bisa memberikan sedikit tekanan penurunan pada harga minyak, meski belum tentu berdampak jangka panjang.
1. AS Izinkan India Beli Minyak dari Rusia
AS mengumumkan akan mengizinkan India membeli minyak dari Rusia selama 30 hari ke depan. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk mengurangi kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Namun, menurut analis dari ING, ini bukan solusi jangka panjang.
2. Kebijakan Departemen Keuangan Masih Ditahan
Meskipun ada spekulasi tentang intervensi pemerintah AS di pasar minyak, pemerintahan Trump untuk saat ini tidak berencana mengerahkan Departemen Keuangan untuk memperdagangkan kontrak berjangka minyak. Bloomberg News melaporkan bahwa keputusan ini diambil berdasarkan pertimbangan risiko dan efektivitas jangka pendek.
Potensi Lonjakan Harga Minyak Lebih Lanjut
Lonjakan harga minyak saat ini belum tentu berakhir di angka USD90-an. Jika konflik berlangsung lebih lama, harga bisa melonjak lebih tinggi lagi. Namun, kuncinya tetap pada keberlanjutan konflik dan seberapa besar dampaknya terhadap jalur pasokan global.
1. Lonjakan Bisa Tembus USD100 hingga USD150 per Barel
Jika gangguan pasokan terus berlangsung, harga minyak bisa melonjak ke level USD100 hingga USD150 per barel. Ini akan berdampak langsung pada biaya energi global dan memicu tekanan inflasi di berbagai negara.
2. Dampak pada Bank Sentral Dunia
Lonjakan harga minyak juga bisa mempersulit langkah bank sentral, termasuk Federal Reserve. Kenaikan biaya energi bisa mendorong inflasi, yang pada gilirannya memaksa bank sentral untuk menahan diri dari pemotongan suku bunga.
Perbandingan Kenaikan Harga Minyak Minggu Ini
| Jenis Minyak | Kenaikan Mingguan | Harga Akhir Pekan |
|---|---|---|
| Brent | 28,4% | USD93,04 |
| WTI | 36,2% | USD91,27 |
Kesimpulan
Lonjakan harga minyak pada pekan ini mencerminkan ketidakpastian global yang tinggi. Dari konflik geopolitik hingga data ekonomi yang mengecewakan, berbagai faktor saling berinteraksi dan memicu volatilitas pasar. Investor dan konsumen perlu waspada terhadap perkembangan lebih lanjut, terutama terkait situasi di Timur Tengah dan kebijakan pemerintah AS.
Disclaimer: Data harga minyak dan kondisi geopolitik bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi di lapangan serta kebijakan pemerintah dan lembaga internasional terkait. Informasi dalam artikel ini disajikan berdasarkan data dan sumber terpercaya hingga tanggal publikasi.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













