Wall Street kembali menghijau pada perdagangan Rabu, 4 Maret 2026. Sentimen pasar yang sebelumnya lesu mulai membaik berkat rilis data ekonomi domestik yang solid. Investor tampaknya sementara mengesampingkan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang dalam beberapa hari terakhir sempat menyita perhatian.
Indeks S&P 500 naik 0,8 persen, menutup di level 6.868,60. Nasdaq Composite melonjak lebih tajam, naik 1,3 persen ke 22.807,48. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average naik 0,5 persen, menempatkan indeks di angka 48.739,41. Penguatan ini terjadi setelah data sektor jasa dan penggajian swasta melebihi ekspektasi pasar.
Optimisme Sementara di Tengah Ketegangan Geopolitik
Meski konflik di Timur Tengah semakin memanas, investor tampaknya memilih fokus pada fundamental ekonomi AS yang masih menunjukkan ketahanan. Data dari Institute for Supply Management (ISM) dan ADP menjadi pendorong utama penguatan pasar saham.
Keith Lerner, Kepala Investasi dan Strategi Pasar di Truist, menyebut bahwa investor untuk sementara mengabaikan situasi Iran karena harga minyak masih terkendali. Pasar juga mendapat dorongan dari data jasa ISM dan penggajian ADP yang lebih baik dari prediksi.
Namun, bukan berarti ketegangan di kawasan bisa diabaikan begitu saja. Sentimen tetap waspada, terutama menjelang rilis data ekonomi penting di akhir pekan.
1. Konflik Timur Tengah Masih Mengganjal
AS dan Israel terlibat dalam operasi militer di Iran yang telah memasuki hari kelima. Laksamana Brad Cooper menyatakan bahwa pertahanan udara Iran telah rusak parah dan lebih dari 2.000 target telah dihancurkan.
Iran merespons dengan menembakkan rudal dan drone ke negara-negara Arab yang menjadi tuan rumah pangkalan AS. Serangan ini memperluas konflik ke seluruh kawasan.
2. NATO Pertama Kalinya Bertindak Melawan Rudal Iran
Sebuah titik penting terjadi ketika pasukan NATO mencegat rudal balistik yang ditembakkan dari Iran ke wilayah udara Turki. Ini merupakan pertama kalinya NATO membela negara anggota dari serangan proyektil Iran.
Meski demikian, ada laporan dari New York Times bahwa Iran mencoba membuka jalur diplomasi dengan CIA. Namun, laporan tersebut dibantah oleh pihak Iran.
3. Trump Sebut Operasi di Iran Baru Dimulai
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa operasi militer AS di Iran baru memasuki fase awal. Menteri Perang Pete Hegseth mengonfirmasi bahwa durasi operasi diperkirakan berlangsung empat hingga lima minggu.
Dampak Inflasi dan Pasar Energi
Salah satu kekhawatiran utama dari konflik ini adalah potensi gangguan pasokan energi global. Harga minyak sempat melonjak tajam karena ekspektasi terbatasnya pasokan.
Lonjakan harga minyak berkepanjangan bisa memicu inflasi global. Ini berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi dan memaksa bank sentral untuk mengambil langkah-langkah agresif, termasuk menaikkan suku bunga.
1. Data Penggajian Swasta ADP Melesat
Data dari ADP menunjukkan bahwa penggajian swasta di AS melonjak 63.000 pada Februari 2026. Angka ini jauh melampaui ekspektasi pasar sebesar 50.000.
Sebagian besar peningkatan berasal dari sektor pendidikan dan layanan kesehatan. Kenaikan sebesar 58.000 merupakan level tertinggi dalam satu bulan selama setahun terakhir.
Di luar sektor tersebut, pertumbuhan penggajian terlihat stagnan selama beberapa bulan terakhir. Ini menunjukkan bahwa pemulihan lapangan kerja masih terkonsentrasi di sektor tertentu.
2. Indeks ISM Jasa Naik ke Level Tertinggi dalam 3,5 Tahun
Indikator ISM untuk sektor jasa AS juga menunjukkan performa positif. Pada Februari 2026, indeks ini mencatat level tertinggi dalam tiga setengah tahun terakhir.
Peningkatan ini didorong oleh permintaan yang kuat dan kondisi ekonomi yang stabil. Sektor jasa yang merupakan tulang punggung ekonomi AS kembali menunjukkan ketahanan.
3. Laporan Beige Book: Ekonomi Tumbuh Moderat
Laporan Beige Book dari The Fed menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi secara keseluruhan naik sedikit hingga moderat di tujuh dari dua belas distrik Fed.
Ini menunjukkan bahwa meski ada tekanan dari luar, ekonomi AS masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik.
Fokus ke Data Pengangguran dan Payroll Non-Pertanian
Perhatian pasar kini beralih ke rilis data klaim pengangguran mingguan dan laporan pemutusan hubungan kerja Challenger untuk bulan Februari. Rilis terbesar akan datang pada Jumat, yaitu laporan penggajian non-pertanian.
Data ini akan menjadi indikator utama kondisi pasar tenaga kerja AS. Ekspektasi pasar saat ini memperkirakan peningkatan sekitar 175.000 lapangan kerja.
Tabel: Perkiraan dan Realisasi Data Ekonomi AS (Februari 2026)
| Indikator | Perkiraan | Realisasi | Selisih |
|---|---|---|---|
| Penggajian Swasta (ADP) | 50.000 | 63.000 | +13.000 |
| ISM Jasa | 53,5 | 54,8 | +1,3 |
| Klaim Pengangguran (perkiraan awal) | 215.000 | – | – |
Suku Bunga Tetap, Inflasi Jadi Sorotan
Kekhawatiran terhadap inflasi membuat pasar mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve dalam waktu dekat. Menurut CME FedWatch, probabilitas suku bunga tetap hingga Juli 2026 masih tinggi.
Investor kini menunggu sinyal lebih lanjut dari data ekonomi dan pernyataan pejabat Fed. Jika inflasi terus terjaga, peluang penurunan suku bunga bisa tertunda lebih lama.
Penutup
Sentimen pasar saham AS kembali menguat meski ketegangan geopolitik masih menjadi sorotan. Data ekonomi yang solid memberikan dorongan optimisme sementara, terutama dari sektor tenaga kerja dan jasa.
Namun, potensi gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah tetap menjadi risiko yang harus diwaspadai. Fokus pasar kini tertuju pada rilis data penggajian non-pertanian yang akan menjadi penentu arah kebijakan moneter di masa depan.
Disclaimer: Data dan perkiraan dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan ekonomi dan geopolitik global.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













