Lonjakan harga cabai rawit menjelang Lebaran kembali jadi sorotan. Di tengah situasi Ramadan yang memasuki pertengahan, harga cabai rawit merah di Jakarta dan sekitarnya mencatat rekor tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Menurut data terbaru dari Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok Kemendag, harga cabai rawit merah mencapai Rp103.542 per kilogram. Angka ini jauh melampaui batas kewajaran dan mulai mengganggu daya beli masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah yang sangat sensitif terhadap fluktuasi harga bahan pokok.
Sementara itu, data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS Nasional) mencatat harga cabai rawit merah pada Rabu, 4 Maret 2026, berada di kisaran Rp74.750 per kilogram. Meski lebih rendah dari harga di pasar tradisional, angka ini tetap masuk dalam kategori alarm karena lonjakan harga terjadi dalam waktu singkat. Lonjakan ini bukan fenomena yang terjadi begitu saja, melainkan hasil dari kombinasi faktor mulai dari cuaca ekstrem hingga gangguan distribusi.
Harga Bahan Pokok Lainnya Jelang Lebaran
Selain cabai rawit, sejumlah komoditas bahan pokok lainnya juga mengalami kenaikan harga menjelang Idul Fitri. Bawang merah dan bawang putih menjadi dua komoditas yang ikut naik, dengan harga masing-masing Rp44.050 dan Rp40.400 per kilogram. Lonjakan ini berimbas pada harga masakan sehari-hari, terutama bagi ibu rumah tangga yang harus menyesuaikan anggaran belanja bulanan.
Beras, sebagai komoditas utama, juga menunjukkan tren kenaikan meski tidak terlalu signifikan. Harga beras kualitas bawah I dan II berada di kisaran Rp14.450 per kg. Sementara untuk kualitas menengah dan premium, harga berkisar antara Rp15.800 hingga Rp17.150 per kg. Fluktuasi harga ini dipengaruhi oleh pasokan dari daerah sentra produksi dan permintaan yang meningkat menjelang Lebaran.
Penyebab Lonjakan Harga Cabai Rawit
-
Cuaca Ekstrem dan Gangguan Produksi
Cuaca ekstrem di sejumlah daerah penghasil cabai seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi penyebab utama turunnya produksi. Hujan lebat dan banjir membuat petani kesulitan memanen cabai secara optimal. Kondisi ini memicu lonjakan harga karena pasokan yang tidak mencukupi permintaan pasar. -
Masalah Distribusi dan Rantai Pasok
Distribusi dari daerah penghasil ke pasar tradisional dan swalayan juga mengalami hambatan. Keterlambatan distribusi, biaya transportasi yang tinggi, serta potensi permainan stok oleh pelaku pasar turut memicu kenaikan harga. Pramono Anung sebelumnya sempat menyebut bahwa rantai pasok menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan harga cabai melonjak. -
Peningkatan Permintaan Menjelang Lebaran
Menjelang Idul Fitri, permintaan terhadap bahan pokok meningkat tajam. Masyarakat mulai mempersiapkan stok untuk kebutuhan hari raya, termasuk bahan masakan seperti cabai dan bawang. Lonjakan permintaan ini membuat harga lebih mudah naik, terutama jika pasokan tidak stabil.
Perbandingan Harga Bahan Pokok di Pasar Tradisional dan Eceran
Berikut adalah rincian harga beberapa bahan pokok utama berdasarkan data terbaru dari PIHPS dan pantauan di lapangan:
| Komoditas | Harga Pasar Tradisional (Rp/kg) | Harga Eceran (Rp/kg) |
|---|---|---|
| Cabai Rawit Merah | 103.542 | 74.750 |
| Bawang Merah | 46.500 | 44.050 |
| Bawang Putih | 42.000 | 40.400 |
| Beras Kualitas I | 17.500 | 17.150 |
| Beras Kualitas II | 16.000 | 15.800 |
| Minyak Goreng Curah | 16.000 | 15.500 |
Disclaimer: Harga dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi pasar dan distribusi.
Harga Protein Hewani dan Minyak Goreng
Selain bahan baku bumbu dapur, harga protein hewani juga menjadi perhatian. Daging ayam broiler berada di kisaran Rp42.000 per kg, sedangkan daging sapi mencapai Rp120.000 per kg. Telur ayam ras yang biasanya stabil juga mengalami kenaikan menjadi Rp32.000 per kg.
Minyak goreng, sebagai komoditas strategis, juga mengalami penyesuaian harga. Minyak goreng curah berada di kisaran Rp15.500 hingga Rp16.000 per liter. Meski masih dalam batas wajar, kenaikan ini tetap perlu diwaspadai karena bisa berdampak pada inflasi menjelang Lebaran.
Tips Menghadapi Lonjakan Harga Bahan Pokok
-
Buat Anggaran Belanja Harian
Mengatur pengeluaran secara harian bisa membantu menghindari pemborosan. Dengan anggaran yang jelas, pengeluaran untuk kebutuhan dapur bisa lebih terkendali, meski harga sedang naik. -
Gunakan Alternatif Bahan Masakan
Jika cabai rawit terlalu mahal, bisa menggunakan cabai merah atau mengurangi porsi bumbu. Begitu juga dengan bahan lainnya, seperti mengganti daging dengan telur atau tahu sebagai sumber protein. -
Belanja di Pasar Grosir atau Supermarket Diskon
Pasar grosir dan toko swalayan sering memberikan harga lebih murah dibanding pasar tradisional. Belanja di tempat ini bisa menjadi solusi untuk menghemat pengeluaran. -
Manfaatkan Program Subsidi dan Distribusi Pemerintah
Program beras murah dan sembako bersubsidi biasanya tersedia menjelang Lebaran. Masyarakat bisa memanfaatkan program ini untuk memenuhi kebutuhan dasar dengan harga lebih terjangkau.
Kesimpulan
Lonjakan harga cabai rawit menjelang Lebaran memang menjadi tantangan tersendiri bagi stabilitas ekonomi rumah tangga. Namun, dengan perencanaan yang baik dan strategi belanja yang tepat, dampaknya bisa diminimalkan. Pemerintah pun terus berupaya mengendalikan harga melalui intervensi pasar dan distribusi yang lebih efisien. Masyarakat diharapkan tetap waspada dan tidak terjebak hoaks harga yang bisa memicu panic buying.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.










