Harga dan pasokan pangan di Pasar Gembrong Sukasari, Bogor, terpantau aman meski beberapa komoditas mengalami kenaikan. Pasar yang menjadi lokasi relokasi dari Pasar Bogor dan Plaza Bogor ini kembali menjadi sorotan setelah Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim, memantau langsung kondisi stok dan distribusi barang.
Pantauan dilakukan bersama Sekretaris Daerah Denny Mulyadi. Dari hasil kunjungan, sejumlah komoditas mengalami lonjakan harga, terutama daging sapi, daging ayam, dan cabai merah. Lonjakan ini dipicu oleh faktor distribusi dari luar daerah serta kondisi cuaca yang memengaruhi rantai pasok.
Kenaikan Harga Komoditas Pokok
Beberapa bahan pokok mengalami lonjakan harga dalam beberapa pekan terakhir. Lonjakan ini tidak terlepas dari dinamika distribusi dan faktor eksternal seperti cuaca ekstrem di daerah penghasil.
1. Harga Daging Sapi Naik Jadi Rp150 Ribu per Kilogram
Daging sapi yang sebelumnya dihargai Rp120 ribu per kilogram kini mencapai Rp150 ribu. Lonjakan ini terjadi karena pasokan dari luar daerah terganggu akibat cuaca buruk dan kendala distribusi.
2. Daging Ayam Naik Menjadi Rp40 Ribu per Kilogram
Harga daging ayam juga mengalami kenaikan dari Rp32 ribu menjadi Rp40 ribu per kilogram. Kenaikan ini dipengaruhi oleh lonjakan harga pakan ternak dan biaya transportasi.
3. Cabai Merah Naik Jadi Rp110 Ribu per Kilogram
Cabai merah mengalami kenaikan harga dari Rp100 ribu menjadi Rp110 ribu per kilogram. Petani mengeluhkan gagal panen akibat hujan terus-menerus di wilayah sentra produksi.
Komoditas Lain Tetap Stabil
Meski sebagian komoditas mengalami kenaikan, sejumlah bahan pokok lain tetap stabil. Stabilitas ini menunjukkan bahwa rantai pasok ke pasar masih berjalan dengan baik.
1. Gula Pasir Tetap di Level Rp18 Ribu per Kilogram
Gula pasir tetap stabil di angka Rp18 ribu per kilogram. Harga ini belum menunjukkan perubahan signifikan sejak beberapa minggu terakhir.
2. Minyak Goreng Curah dan Kemasan Stabil
Minyak goreng curah tetap di harga Rp21 ribu per liter. Sementara minyak goreng kemasan premium berada di kisaran Rp20 ribu per liter. Minyakita juga masih di harga Rp16 ribu per liter.
3. Telur Ayam Masih di Level Rp30 Ribu per Kilogram
Telur ayam tetap stabil di harga Rp30 ribu per kilogram. Pasokan dari peternakan lokal masih mencukupi kebutuhan pasar.
Rincian Harga Komoditas Pokok di Pasar Gembrong
Berikut adalah rincian harga komoditas pokok yang terpantau di Pasar Gembrong Sukasari per Februari 2026:
| Komoditas | Harga per Satuan |
|---|---|
| Daging sapi | Rp150.000/kg |
| Daging ayam | Rp40.000/kg |
| Cabai merah | Rp110.000/kg |
| Gula pasir | Rp18.000/kg |
| Minyak goreng curah | Rp21.000/liter |
| Minyak goreng premium | Rp20.000/liter |
| Minyakita | Rp16.000/liter |
| Telur ayam | Rp30.000/kg |
Disclaimer: Harga dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada fluktuasi pasar dan faktor eksternal lainnya.
Faktor yang Mempengaruhi Stabilitas Harga
Stabilitas harga di Pasar Gembrong dipengaruhi oleh beberapa faktor utama. Kota Bogor bukan daerah penghasil pangan, sehingga sebagian besar komoditas berasal dari luar daerah.
1. Distribusi dari Luar Daerah
Sebagian besar pasokan berasal dari daerah produsen seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur. Gangguan distribusi akibat cuaca buruk atau infrastruktur jalan dapat memicu lonjakan harga.
2. Cuaca Ekstrem
Hujan terus-menerus di wilayah sentra produksi mengakibatkan gagal panen pada beberapa komoditas, terutama cabai dan sayuran.
3. Biaya Transportasi
Kenaikan harga BBM dan tarif angkutan turut memengaruhi biaya distribusi. Ini berdampak langsung pada harga jual di pasar.
Peran Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Pasokan
Pemerintah Kota Bogor terus melakukan pemantauan secara berkala. Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa pasokan tetap mencukupi dan harga tidak melonjak drastis.
1. Monitoring Rutin ke Pasar
Tim dari Dinas Perdagangan dan Dinas Ketahanan Pangan secara berkala melakukan monitoring ke pasar. Tujuannya untuk memastikan ketersediaan dan stabilitas harga.
2. Koordinasi dengan Pedagang dan Distributor
Pemerintah terus menjalin komunikasi dengan pedagang serta distributor untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan.
3. Sosialisasi Koperasi di Pasar
Selain memantau harga, Wali Kota juga meresmikan koperasi di Pasar Gembrong. Koperasi ini diharapkan bisa menjadi solusi untuk menekan harga melalui distribusi langsung.
Potensi Pasar Gembrong sebagai Pusat Perdagangan
Pasar Gembrong Sukasari mulai menunjukkan potensi sebagai pusat perdagangan baru di kawasan Bogor Timur dan Bogor Tengah. Pasar ini dirancang lebih modern dan nyaman dibandingkan pasar lama.
1. Lokasi Strategis
Berada di kawasan Sukasari, pasar ini mudah diakses oleh masyarakat dari berbagai kecamatan. Lokasi ini juga dekat dengan jalur angkutan umum.
2. Fasilitas yang Lebih Baik
Pasar ini dilengkapi dengan fasilitas modern seperti atap tertutup, saluran air, dan area parkir yang memadai. Hal ini membuat kenyamanan pengunjung meningkat.
3. Daya Tarik Masyarakat
Secara bertahap, masyarakat mulai beralih ke Pasar Gembrong karena kenyamanan dan kebersihan yang lebih terjaga.
Tantangan ke Depan
Meski saat ini kondisi pasokan dan harga terpantau aman, tantangan ke depan tetap ada. Fluktuasi cuaca, kenaikan biaya transportasi, dan ketergantungan pada pasokan luar daerah menjadi tantangan utama.
1. Ketergantungan pada Pasokan Eksternal
Karena bukan daerah penghasil, Kota Bogor sangat bergantung pada pasokan dari luar. Ini membuat pasar rentan terhadap gangguan distribusi.
2. Perlu Pengembangan Distribusi Lokal
Pengembangan pasar lokal dan distribusi berbasis komunitas bisa menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan luar.
3. Pengawasan Harga Harus Konsisten
Pengawasan harga harus terus dilakukan agar tidak terjadi spekulan atau penimbunan barang yang dapat memicu kenaikan harga.
Penutup
Harga dan pasokan pangan di Pasar Gembrong Sukasari Bogor saat ini dalam kondisi stabil meski ada lonjakan di beberapa komoditas. Upaya pemerintah dalam memantau dan menjaga rantai distribusi terus dilakukan agar masyarakat tetap terpenuhi kebutuhan pokoknya. Pasar ini juga memiliki potensi besar menjadi pusat perdagangan modern di kawasan Bogor. Namun, tantangan ke depan tetap harus diwaspadai agar ketersediaan dan harga tetap terjaga.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.








