Nasional

Rupiah Melemah 4 Poin Saat Ditutup di Level Rp16.872

Fadhly Ramadan
×

Rupiah Melemah 4 Poin Saat Ditutup di Level Rp16.872

Sebarkan artikel ini
Rupiah Melemah 4 Poin Saat Ditutup di Level Rp16.872

Nilai tukar rupiah terhadap dolar kembali terkoreksi pada penutupan Selasa, 3 Maret . Mata uang Garuda ditutup melemah empat poin ke level Rp16.872 per USD. Meski penurunannya tergolong tipis, pergerakan ini mencerminkan dinamika pasar yang dipengaruhi oleh sentimen geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter global.

Sebelumnya di sesi perdagangan, rupiah sempat menguat hingga 10 poin ke level Rp16.872 per USD. Namun, tekanan dari pelemahan akhirnya membuat rupiah kembali ke zona merah menjelang penutupan. Data dari Bloomberg mencatat posisi rupiah di level Rp16.872, turun dari sebelumnya Rp16.868 per USD atau sekitar 0,02 persen.

Dinamika Kurs dan Sentimen Pasar

Pergerakan rupiah hari ini tidak lepas dari ketegangan geopolitik yang kembali memanas. Serangan AS dan Israel terhadap Iran serta eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah menjadi fokus utama investor. Ketidakpastian ini berimbas pada jalur perdagangan strategis seperti Selat Hormuz yang menjadi jalur transit sekitar 20 persen minyak dunia.

Media Iran bahkan melaporkan bahwa Garda Revolusi Iran memperingatkan akan menembak kapal yang mencoba melewati Selat Hormuz. Ancaman ini memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global, yang pada akhirnya bisa mendorong kenaikan dan memperlemah mata uang negara berkembang termasuk rupiah.

1. Sentimen Geopolitik yang Meningkat

Sentimen geopolitik kembali memanas akibat serangan Israel ke Lebanon dan balasan Iran melalui serangan terhadap infrastruktur energi di negara-negara Teluk. Ketegangan ini diperparah dengan ancaman Iran menutup Selat Hormuz.

2. Ekspektasi Kebijakan The Fed

Fokus pasar juga tertuju pada pernyataan para pejabat The Fed seperti John Williams, Jeff Schmid, dan Neel Kashkari. Pernyataan yang cenderung hawkish dari mereka bisa memperkuat dolar AS, sehingga menekan rupiah.

3. Data Tenaga Kerja AS

Data AS seperti Perubahan Ketenagakerjaan ADP dan Nonfarm Payrolls (NFP) menjadi penentu ekspektasi kebijakan moneter. Inflasi yang masih tinggi membuat pasar mengurangi ekspektasi pada pelonggaran kebijakan jangka pendek.

Neraca Dagang Indonesia Surplus

Di tengah tekanan eksternal, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus yang menopang ekspektasi terhadap rupiah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca dagang sebesar USD0,95 miliar pada Januari 2026. Ini merupakan surplus ke-69 berturut-turut sejak Mei 2020.

Surplus ini didukung oleh surplus komoditas non migas sebesar USD3,22 miliar. Komoditas penyumbang utama antara lain lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Sementara itu, sektor migas mencatat defisit sebesar USD2,27 miliar.

Tabel Neraca Dagang Januari 2026

Komponen Nilai (USD) Kenaikan/Turun (YoY)
Ekspor Migas 0,89 miliar -15,62%
Ekspor Non-Migas 21,26 miliar +4,38%
Impor Migas 3,17 miliar +27,52%
Impor Non-Migas 18,04 miliar +16,71%
Surplus/Defisit Surplus 0,95 M

Nilai ekspor Indonesia secara keseluruhan mencapai USD22,16 miliar atau naik 3,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara nilai impor mencapai USD21,20 miliar, naik 18,21 persen secara tahunan. Peningkatan impor terutama didorong oleh komponen non migas yang menyumbang 14,40 persen dari total kenaikan.

Prediksi Rupiah Hari Berikutnya

Melihat dinamika pasar saat ini, analis memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan Kamis, 4 Maret 2026. Namun, secara umum, rupiah diperkirakan kembali melemah dalam rentang Rp16.870 hingga Rp16.910 per USD.

1. Fluktuasi Awal Pagi

Rupiah diperkirakan mengalami fluktuasi di awal perdagangan karena investor masih menunggu data ekonomi penting dari AS.

2. Penyesuaian terhadap Sentimen Global

Sentimen global terutama dari ketegangan geopolitik dan ekspektasi kebijakan The Fed akan menjadi penentu arah rupiah di tengah hari.

3. Penutupan Melemah

Meskipun sempat menguat di tengah hari, rupiah diprediksi kembali melemah menjelang penutupan karena tekanan dari dolar AS yang menguat.

Faktor Pendukung dan Penghambat Rupiah

Selain sentimen eksternal, beberapa faktor domestik juga turut memengaruhi pergerakan rupiah. Surplus neraca perdagangan menjadi salah satu penyangga utama. Namun, kenaikan impor yang cukup tinggi juga menjadi catatan penting karena bisa meningkatkan tekanan pada neraca pembayaran.

Faktor Pendukung

  • Surplus neraca perdagangan berkelanjutan
  • Stabilitas ekonomi domestik
  • Kebijakan Bank Indonesia yang proaktif

Faktor Penghambat

  • Ketegangan geopolitik global
  • Kenaikan harga
  • Penguatan dolar AS akibat ekspektasi suku bunga

Kesimpulan

Pergerakan rupiah hari ini mencerminkan dinamika pasar global yang penuh ketidakpastian. Sentimen geopolitik dan ekspektasi kebijakan The Fed menjadi penentu utama arah rupiah ke depannya. Meski demikian, surplus neraca perdagangan memberikan sedikit ruang manuver bagi rupiah agar tidak terlalu terpuruk.

Namun, tekanan dari luar seperti kenaikan harga minyak dan penguatan dolar AS tetap menjadi tantangan. Investor akan terus memantau data ekonomi AS dan perkembangan ketegangan di Timur Tengah untuk menentukan langkah selanjutnya.

Disclaimer: Data dan prediksi dalam ini bersifat estimasi berdasarkan informasi hingga tanggal 3 Maret 2026. Nilai tukar bisa berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan pasar global dan kebijakan moneter.

Fadhly Ramadan
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.