PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI terus memperluas perannya dalam mendukung pembiayaan UMKM, khususnya di sektor bahan bangunan. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan yang ditujukan untuk memperkuat rantai pasok industri genteng. Langkah ini sejalan dengan program nasional “Gentengisasi” yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto.
Program ini bertujuan untuk menggantikan penggunaan atap seng dan asbes yang dinilai kurang layak dan tidak ramah lingkungan. BRI hadir sebagai fasilitator keuangan yang menghubungkan para pengusaha genteng dengan pengembang perumahan serta pengguna akhir. Dengan skema KUR Perumahan, bank pelat merah ini membantu memperlancar alur pendanaan yang diperlukan dalam proses produksi hingga distribusi genteng.
Peran BRI dalam Program Gentengisasi
BRI tidak hanya berperan sebagai lembaga keuangan, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi lokal melalui pembiayaan yang tepat sasaran. Dalam hal ini, KUR Perumahan menjadi instrumen penting yang membantu UMKM bahan bangunan agar bisa memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menyampaikan bahwa bank siap memfasilitasi pembiayaan ketika sudah ada kontrak antara produsen genteng dan pengembang atau pengguna akhir. Ini menunjukkan bahwa BRI memposisikan diri sebagai jembatan antara pelaku usaha kecil dan proyek perumahan berskala besar.
Selain itu, pembiayaan ini juga diharapkan memberi dampak berganda. Tidak hanya meningkatkan kualitas hunian, tetapi juga mendorong aktivitas produksi UMKM, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat ekonomi lokal di berbagai daerah.
Latar Belakang Program Gentengisasi
Presiden Prabowo Subianto menggagas program Gentengisasi sebagai bagian dari upaya mempercantik dan memperbaiki kualitas lingkungan permukiman di seluruh Indonesia. Dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul, Bogor, Presiden menyampaikan bahwa penggunaan seng yang masif telah menurunkan estetika dan kenyamanan rumah warga.
Menurutnya, seng tidak hanya panas, tetapi juga mudah berkarat dan tidak tahan lama. Sementara itu, genteng memberikan alternatif yang lebih sejuk, tahan lama, dan estetik. Presiden juga menekankan bahwa industri genteng bisa berkembang pesat karena modal dan teknologi yang dibutuhkan tidak terlalu tinggi.
1. Pemanfaatan Limbah untuk Produksi Genteng
Salah satu inovasi dalam program ini adalah penggunaan limbah, seperti abu batu bara, sebagai bahan campuran pembuatan genteng. Hal ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga menghasilkan produk yang lebih ringan dan kuat.
2. Peran Koperasi Merah Putih
Koperasi Merah Putih akan dilibatkan dalam mendukung produksi genteng di berbagai daerah. Dengan pendirian pabrik-pabrik kecil di tingkat lokal, diharapkan distribusi genteng bisa lebih merata dan harga tetap terjangkau.
3. Dukungan Pemerintah dan Kepala Daerah
Pemerintah memberikan dukungan penuh baik secara kebijakan maupun pendanaan. Selain itu, partisipasi aktif dari kepala daerah sangat penting untuk memastikan program ini bisa berjalan dengan baik di daerah masing-masing.
Manfaat Program Bagi Masyarakat dan Ekonomi
Program Gentengisasi bukan hanya soal pergantian atap rumah. Ini adalah bagian dari transformasi ekonomi dan lingkungan yang lebih luas. Beberapa manfaat utama dari program ini antara lain:
- Meningkatkan kualitas hunian masyarakat
- Mengurangi penggunaan material yang tidak ramah lingkungan
- Mendorong pertumbuhan UMKM lokal
- Menciptakan lapangan kerja baru
- Meningkatkan daya saing industri genteng nasional
Perbandingan Material Atap: Seng vs Genteng
| Kriteria | Seng | Genteng |
|---|---|---|
| Ketahanan terhadap cuaca | Rendah, mudah berkarat | Tinggi, tahan lama |
| Suhu dalam rumah | Panas | Lebih sejuk |
| Estetika | Kurang menarik | Lebih indah dan berkelas |
| Dampak lingkungan | Negatif, sulit didaur ulang | Positif, bisa ramah lingkungan |
| Biaya awal | Relatif murah | Lebih tinggi, tapi lebih tahan lama |
Penyaluran KUR Perumahan: Langkah-langkahnya
Bagi UMKM yang ingin mengajukan KUR Perumahan untuk mendukung produksi genteng, berikut adalah langkah-langkah yang perlu diikuti:
1. Persiapkan Dokumen Usaha
Pastikan semua dokumen legalitas usaha lengkap, seperti NPWP, SIUP, dan izin usaha lainnya.
2. Ajukan Proposal Proyek
Ajukan proposal proyek kepada BRI yang menjelaskan rencana produksi, target pasar, dan kebutuhan dana.
3. Verifikasi dan Penilaian
Tim BRI akan melakukan verifikasi dan penilaian terhadap usaha serta proyek yang diajukan.
4. Pencairan Dana
Jika lolos verifikasi, dana akan dicairkan sesuai dengan kebutuhan proyek dan skema KUR Perumahan.
Dukungan dari Menteri Perumahan
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, menyatakan bahwa BRI merupakan bank penyalur KUR Perumahan terbesar. Dukungan ini sangat strategis dalam mempercepat pelaksanaan program perumahan rakyat, termasuk Gentengisasi.
Tantangan dan Solusi
Meski memiliki banyak manfaat, program ini juga menghadapi beberapa tantangan, seperti:
- Kurangnya kapasitas produksi UMKM
- Keterbatasan modal awal
- Kurangnya pengetahuan teknologi produksi modern
Untuk mengatasi tantangan tersebut, BRI dan pemerintah terus melakukan pendampingan teknis dan penyuluhan kepada pelaku usaha. Selain itu, program pelatihan dan akses permodalan juga terus ditingkatkan.
Penutup
Program Gentengisasi yang didukung oleh BRI melalui KUR Perumahan merupakan langkah strategis untuk mendorong kualitas hunian yang lebih baik sekaligus memperkuat ekosistem UMKM bahan bangunan. Dengan pendekatan yang holistik, program ini tidak hanya mengganti atap rumah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersifat umum dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kebijakan pemerintah dan bank terkait. Data dan angka yang disebutkan adalah berdasarkan informasi terkini hingga tanggal publikasi.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













