Dalam ajang The 2nd Indonesia Climate Banking Forum (ICBF), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali menegaskan komitmen sektor perbankan nasional dalam menghadapi tantangan risiko iklim. Dengan rasio kecukupan modal (CAR) yang tetap berada di atas ambang batas regulasi, sektor perbankan menunjukkan ketahanan yang cukup kuat untuk menyerap tekanan eksternal akibat perubahan iklim.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyampaikan bahwa sistem keuangan Indonesia saat ini dalam posisi yang stabil. Stabilitas ini menjadi modal penting dalam mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon. Dengan begitu, sektor keuangan tidak hanya bertahan, tapi juga berperan aktif dalam mendorong keberlanjutan.
Sinergi Global dan Nasional Menuju Ekonomi Hijau
Risiko iklim bukan lagi isu yang bisa diabaikan. Tantangan ini membutuhkan respons terkoordinasi dari berbagai pihak, baik regulator, pelaku industri, maupun mitra global. Dalam forum yang sama, Menteri Inggris untuk kawasan Indo-Pasifik, Seema Malhotra, menyampaikan bahwa semua pihak memiliki eksposur yang sama terhadap risiko iklim.
Bank, regulator, hingga investor harus bergerak sejalan dan secepat mungkin. Kesadaran kolektif ini menjadi kunci agar risiko iklim tidak hanya dikelola, tapi juga diubah menjadi peluang. Peluang yang dimaksud adalah lahirnya ekonomi hijau yang berbasis pembiayaan berkelanjutan.
1. Kolaborasi Antar Regulator dan Pelaku Industri
Langkah pertama dalam menghadapi risiko iklim adalah sinergi antarlembaga. Regulator keuangan harus bergerak sejajar dengan pelaku industri agar tidak terjadi mismatch dalam pengambilan keputusan. Dengan pemahaman yang sama terhadap risiko ke depan, mitigasi dapat dilakukan secara efektif.
2. Penguatan Kapasitas Perbankan
Perbankan nasional sudah menunjukkan ketahanan yang baik melalui rasio CAR yang stabil. Namun, penguatan kapasitas tetap diperlukan agar bank siap menghadapi risiko iklim jangka panjang. Ini termasuk dalam pengembangan sistem manajemen risiko yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
3. Peningkatan Akses Pembiayaan Berkelanjutan
Risiko iklim bisa menjadi peluang jika diiringi dengan akses pembiayaan yang tepat. Seema Malhotra menekankan bahwa kolaborasi global harus membuka ruang bagi pendanaan hijau. Dengan begitu, proyek-proyek berkelanjutan bisa tumbuh dan memberi dampak nyata.
Peran ICBF dalam Mendorong Kepercayaan Pasar
ICBF hadir sebagai wadah strategis untuk membangun sinergi antara pemerintah, regulator, dan pelaku industri keuangan. Forum ini tidak hanya membahas tantangan, tapi juga mencari solusi konkret dalam mendorong pembiayaan iklim.
1. Menjadi Wadah Koordinasi Rutin
ICBF direncanakan sebagai forum berkala yang rutin diselenggarakan. Tujuannya agar koordinasi antarlembaga berjalan terus-menerus dan tidak hanya saat krisis saja. Forum ini diharapkan bisa menjadi tempat evaluasi dan inovasi dalam pengelolaan risiko iklim.
2. Meningkatkan Kepercayaan Pasar
Dengan adanya forum ini, investor dan pelaku pasar bisa lebih percaya terhadap sistem keuangan nasional. Transparansi dan kolaborasi yang dibangun melalui ICBF menjadi modal penting dalam menarik investasi hijau.
3. Mendukung Agenda Pembangunan Nasional
ICBF juga selaras dengan agenda pembangunan nasional yang berkelanjutan. Forum ini tidak hanya membahas isu global, tapi juga mengaitkannya dengan kebutuhan lokal. Dengan begitu, solusi yang dihasilkan lebih relevan dan implementatif.
Tantangan dan Peluang dalam Ekonomi Hijau
Risiko iklim memang nyata, tapi tidak serta merta menjadi beban. Justru dari sinilah peluang untuk membangun ekonomi hijau bisa muncul. Yang dibutuhkan adalah pendekatan yang holistik dan kolaboratif.
1. Risiko Fisik dan Transisi
Risiko iklim terbagi menjadi dua: fisik dan transisi. Risiko fisik berkaitan dengan dampak langsung perubahan iklim, seperti banjir atau kekeringan. Sementara risiko transisi berkaitan dengan perubahan kebijakan dan preferensi pasar menuju model bisnis rendah karbon.
2. Peran Teknologi dan Inovasi
Teknologi menjadi katalisator dalam transisi menuju ekonomi hijau. Dengan inovasi yang tepat, sektor keuangan bisa lebih cepat mengidentifikasi dan merespons risiko iklim. Termasuk dalam pengembangan sistem pemantauan dan pelaporan yang lebih akurat.
3. Edukasi dan Kesadaran Publik
Selain infrastruktur dan regulasi, edukasi juga menjadi pilar penting. Masyarakat dan pelaku usaha perlu memahami pentingnya ekonomi hijau agar bisa berkontribusi secara aktif.
Penutup
ICBF 2026 menjadi momentum penting dalam memperkuat kolaborasi lintas sektor. Forum ini tidak hanya membahas tantangan, tapi juga menawarkan peluang nyata untuk membangun masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan. Dengan sinergi yang tepat, risiko iklim bisa diubah menjadi peluang ekonomi yang berdampak positif.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersifat umum dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan kebijakan dan regulasi terkait. Data dan pernyataan yang disebutkan merupakan hasil dari forum ICBF 2026 dan dapat berbeda di masa mendatang.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













