PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mulai mewaspadai risiko di tengah dinamika ekonomi yang belum sepenuhnya stabil. Tahun 2026 akan menjadi tahun yang penuh tantangan sekaligus peluang, terutama dalam penyaluran kredit. BRI memperkirakan pertumbuhan kreditnya akan bergerak di kisaran 7 hingga 9 persen secara tahunan. Angka itu lebih rendah dibandingkan beberapa tahun sebelumnya yang sempat menembus dua digit.
Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi ketidakpastian ekonomi global dan lokal. BRI tidak ingin terburu-buru menyalurkan kredit hanya demi mencapai target. Sebaliknya, fokus utama adalah pada kualitas, bukan kuantitas. Artinya, setiap pemberian kredit akan melalui seleksi ketat agar tidak membahayakan aset bank di masa depan.
Strategi Kredit BRI di Tahun 2026
Dalam menjalankan strategi kredit yang lebih konservatif, BRI tidak bekerja sendirian. Ada beberapa langkah internal yang diambil untuk memastikan bahwa risiko tetap terkendali. Mulai dari pengawasan lebih ketat hingga penguatan tim kolektor, semua dilakukan agar kualitas portofolio kredit tetap sehat.
1. Seleksi Sektor yang Berkualitas
BRI tidak lagi menerima semua jenis permintaan kredit secara mentah-mentah. Perseroan lebih memilih sektor-sektor yang memiliki prospek bagus dan risiko rendah. Ini mencakup sektor-sektor unggulan seperti infrastruktur, pertanian berkelanjutan, dan usaha menengah yang memiliki rekam jejak baik.
Langkah ini juga sejalan dengan komitmen BRI dalam mendukung ekonomi hijau. Di tahun 2025 saja, BRI telah menyalurkan kredit hijau sebesar Rp93,2 triliun, naik 7,62% dibanding tahun sebelumnya. Tren ini akan terus diperkuat di tahun-tahun mendatang.
2. Penguatan Tim Manajemen Risiko
Direktur Manajemen Risiko BRI, Ety Yuniarti, menyebut bahwa struktur organisasi juga ikut disesuaikan. Salah satunya dengan pembentukan subdirektorat ritel yang terpisah dari tim manajemen risiko. Ini dilakukan agar pengawasan lebih spesifik dan efektif, terutama di segmen mikro dan kecil yang dinilai masih menjadi tantangan.
Selain itu, ada rencana untuk memperkuat arm kolektor, khususnya untuk segmen ritel. Tujuannya agar tunggakan kredit bisa diminimalisir sejak dini. Baik untuk pinjaman baru maupun yang sudah berjalan.
3. Penerapan Autodebet Cicilan (AGF)
Salah satu inovasi yang akan diterapkan adalah sistem auto grab fund (AGF). Sistem ini memungkinkan penarikan cicilan secara otomatis dari tabungan nasabah. AGF sudah diterapkan untuk KPR dan KKB, dan ke depannya akan diperluas ke nasabah mikro.
Langkah ini diharapkan bisa membantu menekan angka NPL. Dengan pengambilan cicilan yang lebih konsisten, risiko keterlambatan pembayaran bisa diminimalkan.
Perbandingan Kinerja Kredit BRI 2024–2025
Untuk melihat arah kebijakan BRI di tahun 2026, penting juga melihat pencapaian sebelumnya. Berikut adalah data kinerja kredit BRI dalam dua tahun terakhir:
| Tahun | Total Penyaluran Kredit | Pertumbuhan YoY | NPL Gross | NPL Net |
|---|---|---|---|---|
| 2024 | Rp1.354 triliun | 10,5% | 2,98% | 0,87% |
| 2025 | Rp1.521,49 triliun | 12,31% | 3,29% | 0,96% |
Dari tabel di atas, terlihat bahwa pertumbuhan kredit pada 2025 masih cukup tinggi. Namun, kenaikan NPL juga mulai terlihat. Ini menjadi salah satu alasan mengapa BRI memutuskan untuk lebih selektif di tahun 2026.
Tantangan di Segmen Mikro dan Ritel
Segmen mikro dan ritel menjadi fokus utama dalam strategi BRI ke depan. Meski merupakan andalan dalam portofolio kredit, kedua segmen ini juga menjadi sumber risiko tertinggi. Terutama di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan oleh pelaku usaha kecil.
BRI telah memetakan beberapa potensi penurunan di segmen ini. Salah satunya adalah dari sisi booking yang berasal dari permintaan lama. Untuk itu, pengelolaan backlog dan peningkatan kualitas layanan menjadi prioritas.
Kinerja Keuangan BRI di 2025
Meski lebih hati-hati dalam menyalurkan kredit, BRI tetap mencatatkan kinerja keuangan yang solid di tahun 2025. Laba bersih perseroan mencapai Rp57,13 triliun. Angka ini mencerminkan bahwa meskipun lebih selektif, BRI tetap mampu menjaga profitabilitas.
Laba yang tinggi juga memberikan ruang bagi BRI untuk mempertimbangkan pembagian dividen kepada pemegang saham. Meski belum ada pengumuman resmi, arahannya sudah mulai terlihat dari manajemen.
Kesimpulan
Langkah BRI yang lebih selektif dalam menyalurkan kredit di tahun 2026 bukan berarti melambatkan pertumbuhan. Justru ini adalah bentuk antisipasi terhadap risiko yang mungkin muncul. Dengan fokus pada kualitas, BRI ingin memastikan bahwa portofolio kreditnya tetap sehat dan berkelanjutan.
Strategi ini juga sejalan dengan visi BRI sebagai bank yang tidak hanya besar, tapi juga kuat. Di tengah ketidakpastian ekonomi, kekuatan aset dan manajemen risiko menjadi modal penting untuk bertahan dan berkembang.
Disclaimer: Data dan proyeksi dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi makro ekonomi serta kebijakan internal perusahaan.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.








