Libur Imlek dua hari tahun ini bukan cuma soal waktu istirahat, tapi juga jadi peluang besar buat dorong aktivitas ekonomi. Kebijakan pemerintah yang menetapkan libur resmi selama dua hari saat perayaan Imlek 2577 Kongzili justru bikin roda perekonomian makin berputar cepat. Bukan cuma kalangan Tionghoa yang merayakan, libur ini juga dimanfaatkan banyak orang untuk bepergian, belanja, hingga menikmati kuliner khas Imlek.
Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, menyebut kalau libur ini punya dampak langsung ke berbagai sektor usaha. Dari transportasi, pariwisata, hingga ritel, semua ikut naik berkat lonjakan aktivitas masyarakat selama masa libur.
Lonjakan Mobilitas saat Libur Imlek
Libur panjang selama dua hari bikin banyak orang memanfaatkannya buat bepergian. Tidak hanya ke luar kota, tapi juga ke destinasi wisata lokal atau ziarah menjelang Ramadan. Ini jelas berdampak langsung pada sektor transportasi.
1. Bandara Soekarno-Hatta Catat Lonjakan Penumpang
Selama masa libur Imlek, Bandara Soekarno-Hatta mencatat jumlah penumpang mencapai sekitar 1.744.820 orang. Mayoritas penumpang menuju kota-kota besar di luar Jabodetabek. Lonjakan ini menunjukkan kalau masyarakat memanfaatkan libur panjang untuk bepergian.
2. Kereta Api di Pulau Jawa Juga Ikut Naik
Tidak hanya udara, transportasi darat juga mengalami lonjakan. Di Pulau Jawa, jumlah penumpang kereta api mendekati satu juta orang. Sementara itu, kereta cepat Whoosh mencatat kenaikan sekitar 25 persen, atau sekitar 25.000 penumpang selama periode yang sama.
3. Jalan Tol Ramai Kendaraan Keluar-Masuk Jabodetabek
Data dari Jasa Marga memperkirakan sekitar 1,6 juta kendaraan melintas selama libur Imlek. Dari jumlah itu, sekitar 831.000 kendaraan keluar dari wilayah Jabodetabek. Kalau dihitung rata-rata satu kendaraan diisi empat orang, maka total pergerakan manusia bisa mencapai 6,4 juta orang.
Sektor Pariwisata dan Ritel Merasakan Dampaknya
Lonjakan mobilitas masyarakat selama libur Imlek juga berdampak langsung pada sektor pariwisata dan ritel. Banyak destinasi wisata yang mencatat kenaikan pengunjung, terutama yang menyediakan paket khusus Imlek.
1. Kuliner dan Pusat Belanja Ikut Ramai
Pusat kuliner dan destinasi belanja mencatat lonjakan pengunjung hingga 30 persen. Menu khas Imlek seperti bakpao, lumpia, hingga kue-kue tradisional jadi favorit. Tidak hanya itu, pusat perbelanjaan juga menawarkan promo khusus yang menarik minat pembeli.
2. Ritel Buah dan Pernak-Pernik Imlek Naik Tajam
Buah-buahan seperti jeruk dan angpau jadi primadona saat Imlek. Tidak hanya itu, pernak-pernik seperti lampion, angka shio, hingga dekorasi rumah juga mengalami lonjakan permintaan. Ini menunjukkan kalau masyarakat tidak hanya merayakan secara spiritual, tapi juga secara materi.
3. Sektor Logistik dan Travel Juga Dapat Jatah
Naiknya permintaan barang dan jasa selama Imlek juga berdampak pada sektor logistik dan jasa travel. Banyak perusahaan ekspedisi yang menambah armada dan jam kerja untuk mengakomodasi lonjakan pengiriman barang.
Perputaran Uang Tembus Rp9 Triliun
Dari semua aktivitas yang terjadi selama libur Imlek, Sarman Simanjorang memperkirakan total perputaran uang bisa menembus angka Rp9 triliun. Angka ini dihitung dari berbagai komponen, mulai dari belanja keluarga, tiket transportasi, hingga transaksi ritel.
Rincian Perputaran Uang Selama Libur Imlek
| Sektor | Perkiraan Kontribusi |
|---|---|
| Transportasi (udara & darat) | Rp3 triliun |
| Pariwisata dan kuliner | Rp2,5 triliun |
| Ritel dan pernak-pernik | Rp2 triliun |
| Logistik dan jasa lainnya | Rp1,5 triliun |
| Total | Rp9 triliun |
Angka ini menunjukkan kalau libur Imlek bukan cuma soal istirahat, tapi juga soal stimulan ekonomi yang nyata. Dengan durasi libur yang pas, masyarakat bisa merayakan dengan maksimal, sekaligus memberikan kontribusi besar bagi perekonomian nasional.
Libur Imlek Jadi Momentum Peningkatan Ekonomi
Libur Imlek dua hari tahun ini jadi contoh bagaimana kebijakan pemerintah bisa menciptakan sinergi antara budaya dan ekonomi. Dengan memberikan waktu resmi untuk merayakan, pemerintah tidak hanya menghargai keberagaman budaya, tapi juga menciptakan peluang ekonomi yang besar.
Sarman menilai, kalau libur seperti ini bisa dijadikan model untuk perayaan hari besar lainnya. Dengan begitu, tidak hanya Imlek yang bisa dorong ekonomi, tapi juga hari-hari penting lainnya seperti Idul Fitri, Natal, atau Tahun Baru Masehi.
Kesimpulan
Libur Imlek dua hari bukan sekadar momen untuk berkumpul dan merayakan. Ini juga jadi waktu yang tepat untuk mendorong aktivitas ekonomi nasional. Dari transportasi hingga ritel, semua sektor merasakan manfaatnya. Dan dengan potensi perputaran uang yang bisa tembus Rp9 triliun, tidak heran kalau libur ini jadi salah satu momentum penting dalam kalender ekonomi nasional.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi yang tersedia hingga Februari 2025. Nilai aktual bisa berbeda tergantung berbagai faktor eksternal.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













