Nasional

Harga Minyak Mentah Brent Meningkat 0,7 Persen pada Tahun 2026

Danang Ismail
×

Harga Minyak Mentah Brent Meningkat 0,7 Persen pada Tahun 2026

Sebarkan artikel ini
Harga Minyak Mentah Brent Meningkat 0,7 Persen pada Tahun 2026

Ilustrasi eksplorasi migas lepas pantai tengah gelegak ketegangan geopolitik. Foto: Xinhua.

Harga minyak mentah naik 0,7% pada akhir pekan lalu, menandai momentum bullish di tengah optimisme atas kemajuan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran. Investor tampaknya merespons positif kabar bahwa kedua negara bersiap menggelar putaran pembicaraan baru di Pakistan. Sementara itu, harga West Texas Intermediate (WTI) justru melemah tipis, mencatat penurunan 1%.

Gerak saat ini tak lepas dari dinamika politik dan militer di kawasan Timur Tengah. Penutupan parsial Selat Hormuz, jalur krusial bagi distribusi minyak global, masih menjadi sorotan. Diperkirakan hingga 20% pasokan minyak mentah dunia bergantung pada selat sempit ini. Ketidakpastian terkait kelancaran arus membuat volatilitas harga tetap tinggi.

Dinamika Geopolitik dan Dampaknya pada Pasar Minyak Dunia

1. Pertemuan Diplomatis AS-Iran Picu Optimisme

Langkah diplomatik antara AS dan Iran membawa angin segar di tengah ketegangan yang berlarut sejak beberapa bulan lalu. Kedua belah pihak sepakat untuk kembali duduk bersama di Islamabad, Muscat, dan Moskow. Kunjungan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi disebut-sebut sebagai upaya koordinasi strategis dengan mitra regional.

Di sisi lain, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengonfirmasi bahwa Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, serta pengusaha Jared Kushner akan terbang ke Pakistan guna melanjutkan pembicaraan. Pernyataan ini memperkuat indikasi bahwa Washington benar-benar berniat mencari damai.

2. Gencatan Senjata Israel-Lebanon Turut Bantu Stabilitas

Selain dialog antara AS dan Iran, perpanjangan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon juga ikut meredam ketegangan. Kabar ini dirilis Kamis waktu setempat dan langsung disambut baik oleh pasar. Investor yang tadinya was-was mulai menggeser fokus dari aset safe haven ke komoditas berisiko, termasuk minyak mentah.

3. Blokade Laut dan Gangguan Jalur Distribusi

Meski situasi diplomatik mulai membaik, blokade maritim terhadap Iran masih berlanjut. Angkatan laut AS terus membatasi akses ke pelabuhan-pelabuhan utama Iran. Aktivitas penyitaan kapal oleh Iran dan intervensi semakin memperumit logistik energi global.

Parameter Data
Produksi minyak Teluk Turun 57% atau 14,5 juta bbl/hari
Volume minyak lewat Selat Hormuz ±20% dari total global
Estimasi pemulihan produksi Belum pasti, tergantung stabilitas

Performa Harga Minyak Brent dan WTI Minggu Ini

1. Brent Catat Lonjakan Terbesar Sejak Maret

Minyak mentah Brent berhasil mengakhiri tren penurunan selama tiga minggu berturut-turut. Pada akhir perdagangan Jumat waktu Houston (Sabtu WIB), harga Brent mencatat kenaikan 16,4% secara mingguan. Ini merupakan lonjakan tertinggi sejak awal Maret tahun ini.

2. WTI Ikut Bangkit, Naik 12,6%

West Texas Intermediate juga menunjukkan performa solid. Meski mengalami dua pekan penurunan sebelumnya, WTI akhirnya rebound dengan kenaikan 12,%. Keduanya sama-sama menunjukkan bahwa sentimen pasar mulai berbalik positif.

3. Spekulasi Pasca-Konflik Dorong Ekspektasi Kenaikan Lanjutan

Beberapa analis memperkirakan bahwa tren bullish bisa berlanjut jika di Timur Tengah tetap stabil. Goldman Sachs bahkan menyebut bahwa pemulihan penuh produksi minyak Teluk bisa memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan pasar.

Alternatif Rute Distribusi Minyak Mentah

1. Produsen Teluk Cari Jalur Alternatif

Negara-negara produsen besar di Teluk, seperti dan Qatar, dilaporkan telah mulai menjajaki rute alternatif untuk menghindari Selat Hormuz. Beberapa opsi yang sedang dievaluasi antara lain jalur pipa darat dan jalur laut melalui Selat Bab el-Mandeb.

2. Infrastruktur Darat Masih Terbatas

Sayangnya, infrastruktur darat yang tersedia masih terbatas. Jalur pipa yang ada saat ini belum cukup untuk menyerap seluruh volume produksi. Artinya, Selat Hormuz tetap menjadi bottleneck utama dalam global.

3. Potensi Risiko Jangka Panjang

Jika gangguan di Selat Hormuz berkepanjangan, dampaknya bisa lebih luas. Selain harga minyak yang cenderung naik, biaya transportasi energi juga bisa meningkat. Hal ini berpotensi memicu inflasi energi di berbagai belahan dunia.

Faktor-Faktor Pendukung Kenaikan Harga Minyak

1. Sentimen Positif Pasca-Diplomasi

Adanya sinyal diplomasi antara AS dan Iran memberi ruang bagi investor untuk kembali membeli aset berisiko. Minyak mentah, sebagai komoditas sensitif terhadap geopolitik, langsung mendapat dorongan permintaan.

2. Penurunan Produksi Akibat Konflik

Produksi minyak Teluk yang anjlok hingga 57% membuat pasokan global menciut. Ketika pasokan menyusut dan permintaan tetap tinggi, maka harga cenderung naik. Ini adalah prinsip dasar ekonomi yang bekerja di pasar komoditas.

3. Intervensi Militer yang Masih Berlangsung

Aktivitas militer di sekitar Selat Hormuz masih menjadi perhatian. Kapal-kapal dagang harus ekstra hati-hati saat melintas, dan biaya asuransi pun ikut naik. Semua ini menambah tekanan pada harga minyak.

Prediksi Harga Minyak Mentah di Minggu Depan

1. Brent Diproyeksikan Tetap Naik

Jika situasi di kawasan Timur Tengah tetap stabil, Brent berpotensi melanjutkan tren bullish. Target resistance berada di kisaran USD110 per barel. Namun, jika terjadi eskalasi konflik, harga bisa melonjak lebih tinggi lagi.

2. WTI Bakal Ikut Tertarik

West Texas Intermediate juga diperkirakan akan mengikuti gerak Brent. Apalagi, permintaan domestik AS masih kuat dan stok minyak mentah di negara tersebut relatif stabil.

3. Waspadai Volatilitas Tinggi

Meski sentimen pasar positif, risiko geopolitik masih tinggi. Investor disarankan untuk tetap waspada terhadap fluktuasi harga yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Pasar minyak mentah dikenal sangat reaktif terhadap isu-isu politik dan militer.

Disclaimer: Data harga minyak dan informasi geopolitik bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi di lapangan. Informasi dalam artikel ini hanya bersifat referensi dan bukan sebagai saran investasi finansial.

Danang Ismail
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.