Nasional

Harga Minyak Dunia Naik Tajam Setelah Trump Setujui Perpanjangan Gencatan Senjata 2026

Rista Wulandari
×

Harga Minyak Dunia Naik Tajam Setelah Trump Setujui Perpanjangan Gencatan Senjata 2026

Sebarkan artikel ini
Harga Minyak Dunia Naik Tajam Setelah Trump Setujui Perpanjangan Gencatan Senjata 2026

dunia kembali naik tajam seiring kabar bahwa Presiden Donald Trump memperpanjang gencatan senjata dengan Iran. Situasi ini muncul di tengah kebuntuan pembicaraan damai antara kedua negara yang sudah berlangsung beberapa pekan terakhir. Ketegangan yang berkepanjangan membuat pasar global kembali waspada, terutama mengingat Iran tetap mempertahankan blokade terhadap Selat Hormuz.

Trump untuk memperpanjang gencatan senjata sekaligus menunda rencana militer memberi sedikit ruang bagi . Namun, ketidakhadiran Iran dalam putaran pembicaraan terbaru membuat prospek damai semakin kabur. Pasar minyak pun bereaksi cepat, memicu lonjakan harga minyak Brent dan WTI yang sempat turun beberapa hari sebelumnya.

Harga Minyak Naik Dipicu Ketidakpastian Geopolitik

1. Lonjakan Harga Minyak Dunia

Pada Selasa, 21 April 2026, harga minyak Brent berjangka naik 3, persen menjadi USD98,89 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 2,9 persen menjadi USD89,98 per barel. Lonjakan ini terjadi setelah media melaporkan bahwa Trump memperpanjang gencatan senjata yang seharusnya berakhir Rabu.

  • Brent: USD98,89 per barel (+3,6%)
  • WTI: USD89,98 per barel (+2,9%)

2. Faktor Penggerak Utama Kenaikan Harga

Kenaikan harga minyak tidak datang dari kekosongan. Ada beberapa faktor utama yang memicu lonjakan ini:

  • Ketegangan antara AS dan Iran yang kembali memanas
  • Blokade Selat Hormuz oleh Iran
  • Ketidakpastian prospek damai
  • Penundaan pembicaraan diplomatik di Pakistan

Blokade Selat Hormuz Jadi Pemicu Ketidakstabilan Pasar

1. Iran Blokir Jalur Strategis

Iran kembali memblokir Selat Hormuz, jalur vital yang digunakan untuk mengangkut sekitar 20 persen minyak global. Langkah ini diambil sebagai respons atas blokade maritim yang dilakukan AS terhadap pelabuhan dan garis pantai Iran. Menurut Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, tindakan AS adalah bentuk terhadap gencatan senjata.

2. Reaksi Pasar dan Negara-Negara Penghasil Minyak

Meski Iran membuka kembali jalur tersebut untuk lalu lintas komersial pada Jumat, ketidakpastian tetap tinggi. Negara-negara penghasil minyak seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) mulai mengalihkan rute pengiriman mereka ke terminal Yanbu dan Fujairah untuk menghindari Hormuz.

Terminal Fungsi
Yanbu Laut Merah Alternatif pengiriman minyak
Fujairah Teluk Oman Terminal pengisian ulang minyak

Pengalihan rute ini membantu mengurangi ketergantungan pada Hormuz, tetapi kapasitas alternatif masih terbatas. ANZ mencatat bahwa pemuatan gabungan di terminal tersebut meningkat dari 5 juta barel per hari menjadi 6,5 juta barel per hari.

Gencatan Senjata Diperpanjang, Diplomasi Masih Terbuka?

1. Trump Setujui Perpanjangan Gencatan Senjata

Presiden Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dua minggu yang sedang berlangsung dengan Iran. Ia menyebut bahwa keputusan ini diambil atas permintaan Marsekal Lapangan Asim Munir dari Pakistan dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif. Tujuannya adalah memberi ruang bagi Iran untuk menyampaikan proposal negosiasi yang terpadu.

2. Pembicaraan Diplomatik Terancam Batal

Namun, rencana pembicaraan lanjutan di Islamabad kini terancam batal. Wakil Presiden AS JD Vance awalnya dijadwalkan terbang ke Pakistan, tetapi perjalanan tersebut ditunda karena Iran tidak merespons posisi negosiasi AS. Media Iran juga melaporkan bahwa negara itu belum memutuskan untuk menghadiri pembicaraan damai.

3. Posisi Iran: Cabut Blokade Dulu

Iran bersikeras bahwa blokade maritim AS harus dicabut sebelum pembicaraan bisa dilanjutkan. Pernyataan ini memperjelas bahwa diplomasi masih jauh dari kata sepakat. Trump sendiri sempat optimistis akan tercapainya "kesepakatan besar", tetapi juga mengisyaratkan bahwa AS siap melakukan serangan jika tidak ada kemajuan.

Dampak Jangka Pendek dan Tantangan ke Depan

1. Volatilitas Harga Minyak Diprediksi Berlanjut

Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, harga minyak diperkirakan akan tetap volatil dalam beberapa pekan ke depan. Pasar akan terus memantau perkembangan diplomatik antara AS dan Iran serta situasi di Selat Hormuz.

2. Alternatif Rute Pengiriman Masih Terbatas

Meskipun negara-negara penghasil minyak mulai mengalihkan rute, kapasitas terminal alternatif belum cukup besar untuk menggantikan total volume yang biasa lewat Hormuz. Ini berarti risiko gangguan pasokan masih tinggi jika ketegangan kembali memuncak.

3. Sentimen Investor Tetap Was-Was

energi global tetap waspada terhadap perkembangan geopolitik di . Lonjakan harga minyak awal memang sudah mereda, tetapi level harga saat ini masih jauh lebih tinggi dibanding sebelum konflik meledak di akhir .

Kesimpulan

Perpanjangan gencatan senjata oleh Trump memberi sedikit napas lega di tengah ketegangan yang berkepanjangan. Namun, ketidakhadiran Iran dalam pembicaraan damai membuat prospek damai semakin kabur. Blokade Selat Hormuz dan ketidakpastian geopolitik terus menjadi pendorong utama volatilitas harga minyak dunia.

Disclaimer: Data harga minyak dan informasi geopolitik bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan situasi di lapangan.

Rista Wulandari
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.