Harga emas dunia kembali mengalami tekanan dan turun di bawah level USD4.800 pada awal perdagangan Senin, 20 April 2025. Penurunan ini terjadi seiring dengan perkembangan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait ancaman Iran terhadap Selat Hormuz.
Emas yang biasanya menjadi aset aman saat ketidakpastian meningkat, kali ini justru melemah karena sentimen pasar yang lebih condong pada ekspektasi suku bunga AS yang tetap tinggi. Investor tampaknya lebih memilih aset berbunga di tengah situasi yang masih dinamis.
Dinamika Geopolitik yang Mempengaruhi Harga Emas
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Selat Hormuz, salah satu jalur pengiriman minyak terpenting di dunia, menjadi sorotan setelah Iran mengancam akan menutup jalur tersebut bagi kapal komersial.
Ancaman ini muncul tak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana mengirim utusan ke Pakistan untuk putaran kedua perundingan damai dengan Iran. Namun, pihak Iran membantah akan menghadiri perundingan tersebut.
1. Ancaman Penutupan Selat Hormuz
Iran secara tegas menyatakan bahwa Selat Hormuz ditutup bagi kapal-kapal komersial. Militer Iran juga mengancam akan menargetkan kapal apa pun yang mendekati selat tersebut.
Langkah ini diambil sebagai respons terhadap blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Blokade ini telah berlangsung lama dan menjadi salah satu pemicu ketegangan di kawasan.
2. Reaksi Pasar terhadap Ketidakpastian
Meski emas biasanya menjadi pilihan utama investor saat ketidakpastian meningkat, kenaikan suku bunga dan ekspektasi inflasi yang terkendali membuat logam mulia ini kurang menarik.
Investor tampaknya lebih memilih aset berbunga seperti obligasi pemerintah AS. Padahal, emas tidak memberikan bunga, sehingga nilainya lebih rentan terhadap kenaikan suku bunga.
Data Ekonomi AS yang Menjadi Fokus Pasar
Selain ketegangan geopolitik, fokus pasar juga tertuju pada rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Salah satunya adalah laporan Penjualan Ritel bulan Maret 2025 yang akan dirilis pada Selasa, 22 April 2025.
3. Proyeksi Penjualan Ritel AS
Data penjualan ritel diproyeksikan menunjukkan pertumbuhan sebesar 1,3 persen secara bulanan (MoM) pada Maret 2025. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan sebesar 0,6 persen yang tercatat pada Februari lalu.
| Bulan | Pertumbuhan Penjualan Ritel (MoM) |
|---|---|
| Februari 2025 | 0,6% |
| Maret 2025 | 1,3% (proyeksi) |
Jika data ini sesuai ekspektasi, maka Dolar AS (USD) berpotensi menguat. Sebaliknya, jika data mengecewakan, maka emas berdenominasi USD bisa mendapat dukungan.
4. Pengaruh Inflasi terhadap Emas
Inflasi yang terus berlanjut menjadi alasan utama Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga yang tinggi. Ini berdampak langsung pada daya tarik emas sebagai aset non-berbunga.
Namun, jika data penjualan ritel menunjukkan bahwa inflasi lebih rendah dari yang diperkirakan, maka tekanan terhadap emas bisa berkurang. Investor pun bisa kembali membeli emas sebagai lindung nilai.
Strategi Investor di Tengah Volatilitas
Investor saat ini berada di posisi yang sulit. Di satu sisi, ada ketidakpastian geopolitik yang biasanya mendukung emas. Di sisi lain, suku bunga tinggi dan ekspektasi kenaikan lebih lanjut membuat emas kurang menarik.
5. Menilai Risiko dan Peluang
Investor perlu memperhatikan dua hal utama:
- Pergerakan harga emas terhadap Dolar AS
- Data ekonomi makro yang dirilis secara berkala
Keduanya saling terkait dan bisa memicu volatilitas yang tinggi dalam waktu singkat.
6. Diversifikasi Portofolio
Dalam kondisi seperti ini, diversifikasi menjadi kunci. Memasukkan komoditas, saham, dan obligasi dalam portofolio bisa membantu mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh fluktuasi harga emas.
Penutup
Harga emas saat ini berada di bawah tekanan meski ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat. Dinamika antara geopolitik, data ekonomi, dan kebijakan moneter AS terus memengaruhi arah pergerakan logam mulia ini.
Investor perlu tetap waspada dan mengikuti perkembangan terkini, terutama terkait rilis data penting dari AS serta situasi di kawasan Timur Tengah.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan pasar dan kebijakan makro ekonomi global.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













