Harga minyak mentah dunia terjun bebas hingga 11% pada perdagangan akhir pekan lalu. Penurunan tajam ini terjadi menyusul pengumuman pembukaan sementara Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang sebelumnya ditutup akibat ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Kabar pembukaan selat tersebut langsung memicu reaksi besar di pasar minyak global.
Investor yang sebelumnya cemas akan gangguan pasokan minyak, kini mulai mencabut taruhan panik. Pasar langsung merespons dengan penurunan harga yang cukup signifikan. Harga minyak Brent berjangka anjlok 8,8% menjadi USD90,63 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI), standar harga minyak AS, lebih terpuruk lagi, turun hingga 11,1% ke level USD84,14 per barel.
Dinamika Selat Hormuz dan Dampaknya pada Pasar Minyak Global
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur paling strategis dalam perdagangan minyak dunia. Sekitar 21 juta barel minyak mentah melintas setiap harinya melalui selat sempit ini. Ketika akses ditutup, pasar langsung merespons dengan lonjakan harga karena khawatir akan terjadi gangguan pasokan global.
1. Pengumuman Pembukaan Selat Hormuz
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengumumkan bahwa Selat Hormuz kembali dibuka untuk sementara waktu. Pengumuman ini disampaikan melalui media sosial X dan disebut sebagai bagian dari gencatan senjata di Lebanon.
2. Respons Cepat dari Pasar Keuangan
Dalam hitungan menit setelah pengumuman, investor langsung merespons. Data dari LSEG mencatat taruhan senilai USD760 juta ditempatkan untuk skenario penurunan harga minyak. Pasar langsung bereaksi negatif terhadap aset berisiko, termasuk komoditas energi.
3. Tanggapan dari Pemerintah AS
Presiden Donald Trump mengucapkan terima kasih kepada Iran melalui media sosial. Respons ini menunjukkan bahwa pembukaan jalur pelayaran dipandang sebagai langkah penting dalam upaya meredam ketegangan regional.
Faktor-Faktor Penyebab Volatilitas Harga Minyak
Penurunan harga minyak tidak hanya dipicu oleh pembukaan Selat Hormuz. Ada beberapa faktor lain yang turut memengaruhi pergerakan harga minyak global.
1. Gencatan Senjata dan Prospek Damai
Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon, yang diumumkan oleh Trump, menjadi pemicu utama. Ketegangan di Timur Tengah yang berkepanjangan telah membuat pasar minyak rentan terhadap gejolak. Kini, dengan adanya isyarat perdamaian, investor mulai mengurangi eksposur terhadap aset yang sensitif terhadap risiko geopolitik.
2. Perundingan AS-Iran yang Masih Berlangsung
Meski ada kemajuan, perundingan antara AS dan Iran masih belum mencapai titik akhir. Trump menyebut bahwa kedua belah pihak “sangat dekat” dengan kesepakatan. Namun, sejumlah pejabat Iran mengatakan bahwa pembukaan Selat Hormuz akan tetap dipertimbangkan tergantung pada kepatuhan AS terhadap ketentuan gencatan senjata.
3. Isu Nuklir dan Sanksi Internasional
Ambisi nuklir Iran menjadi salah satu akar permasalahan utama. Trump menjadikan isu ini sebagai alasan utama untuk memulai konflik. Iran, sebagai balasan, menuntut pencabutan sanksi internasional. Kini, kedua belah pihak sedang membahas berbagai opsi, termasuk pelepasan dana beku senilai USD20 miliar.
Perbandingan Harga Minyak Mentah Sebelum dan Sesudah Pembukaan Selat Hormuz
Berikut adalah perbandingan harga minyak mentah dunia sebelum dan sesudah pengumuman pembukaan Selat Hormuz:
| Jenis Minyak | Harga Sebelum (USD/barel) | Harga Sesudah (USD/barel) | Persentase Penurunan |
|---|---|---|---|
| Brent | 99,37 | 90,63 | 8,8% |
| WTI | 94,67 | 84,14 | 11,1% |
Catatan: Data bersifat estimasi berdasarkan laporan perdagangan akhir pekan. Harga dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi pasar.
Perkiraan Pasar dan Reaksi Investor ke Depan
Meski harga minyak turun tajam, belum tentu tren ini akan berlangsung lama. Banyak faktor masih bisa memicu volatilitas di masa depan.
1. Ketidakpastian Perundingan
Masih ada perbedaan pandangan antara AS dan Iran terkait isi kesepakatan. Jika perundingan macet, ada potensi Selat Hormuz kembali ditutup, yang akan langsung memicu lonjakan harga minyak kembali.
2. Peran Trump dalam Diplomasi Regional
Trump terus memainkan peran sentral dalam diplomasi Timur Tengah. Setiap pernyataan atau kebijakan yang diambilnya bisa langsung berdampak pada harga minyak. Investor akan terus memantau setiap perkembangan yang keluar dari Gedung Putih.
3. Sentimen Global dan Inflasi
Penurunan harga minyak bisa menjadi angin segar bagi pasar global yang sedang berjuang melawan tekanan inflasi. Namun, jika ketegangan kembali memanas, tekanan pada harga energi bisa kembali meningkat.
Kesimpulan
Penurunan harga minyak mentah dunia hingga 11% adalah cerminan dari dinamika geopolitik yang terjadi di Timur Tengah. Pembukaan sementara Selat Hormuz memberikan kelegaan bagi pasar, tetapi ketidakpastian masih menghiasi horizon. Investor akan terus mengamati perkembangan perundingan antara AS dan Iran, yang bisa kapan saja mengubah arah pergerakan harga minyak global.
Disclaimer: Data harga minyak dan kondisi geopolitik bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu. Informasi dalam artikel ini disajikan berdasarkan perkembangan terkini dan tidak dimaksudkan sebagai saran investasi.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













