Pemerintah kembali memastikan bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 2,9% masih berada dalam batas aman. Angka ini sejalan dengan target yang telah ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2026. Meski berada dalam kondisi ketidakpastian global yang tinggi, khususnya akibat ketegangan geopolitik dan fluktuasi harga komoditas, pemerintah menilai posisi fiskal Indonesia masih terjaga dengan baik.
Kementerian Keuangan mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini mencapai 5,5%. Angka ini menjadi salah satu indikator bahwa perekonomian domestik masih cukup kuat untuk menopang defisit APBN yang terkendali. Meski demikian, defisit yang terjadi bukan tanpa risiko. Namun, dengan pengelolaan yang tepat dan antisipasi terhadap gejolak eksternal, pemerintah optimis bisa menjaga stabilitas fiskal nasional.
Penyebab Defisit APBN Masih Terjaga
Defisit APBN yang berada di kisaran 2,9% bukan angka sembarangan. Ada sejumlah faktor yang membuat angka ini masih bisa diterima dan bahkan dianggap wajar dalam kondisi ekonomi saat ini. Berikut beberapa penyebab utama yang membuat defisit ini masih berada dalam batas aman.
1. Pertumbuhan Ekonomi yang Solid
Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,5% memberikan kontribusi besar terhadap penerimaan negara. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi, maka semakin besar pula potensi penerimaan pajak dan non-pajak. Ini membantu menutup celah antara pengeluaran dan pendapatan negara.
2. Penerimaan dari Sektor Komoditas
Lonjakan harga komoditas global, terutama minyak mentah dan batu bara, memberikan suntikan penerimaan negara yang signifikan. Indonesia sebagai negara eksportir komoditas mendapat manfaat dari situasi ini, meski di sisi lain juga menghadapi risiko volatilitas harga.
3. Pengelolaan Fiskal yang Ketat
Pemerintah menjaga pengeluaran negara tetap dalam batas wajar. Belanja negara tidak dibiarkan membengkak tanpa kontrol. Ini termasuk evaluasi berkala terhadap program prioritas dan efisiensi anggaran di berbagai kementerian dan lembaga.
Dampak Geopolitik terhadap Stabilitas APBN
Ketegangan di kawasan Timur Tengah dan ketidakpastian global menjadi tantangan tersendiri bagi perekonomian Indonesia. Namun, pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif untuk menghadapi risiko-risiko tersebut.
1. Diversifikasi Pasar Ekspor
Mengurangi ketergantungan pada pasar tunggal menjadi salah satu strategi. Pemerintah terus mendorong ekspor ke negara-negara di luar kawasan yang rentan konflik, seperti Eropa dan Amerika Serikat.
2. Cadangan Devisa yang Mencukupi
Cadangan devisa yang besar memberikan ruang manuver bagi Bank Indonesia dalam menghadapi gejolak nilai tukar. Ini juga membantu menjaga stabilitas APBN dari tekanan eksternal.
3. Kebijakan Fiskal Responsif
Kebijakan fiskal yang fleksibel memungkinkan pemerintah untuk menyesuaikan anggaran jika terjadi gejolak mendadak. Ini termasuk penundaan belanja modal atau realokasi anggaran untuk menghadapi situasi darurat.
Perbandingan Defisit APBN dalam Lima Tahun Terakhir
Untuk melihat gambaran lebih jelas, berikut adalah perbandingan defisit APBN dalam lima tahun terakhir. Data ini menunjukkan bahwa defisit 2,9% pada tahun ini masih berada dalam tren yang terkendali.
| Tahun | Defisit APBN (%) | Catatan Khusus |
|---|---|---|
| 2022 | 3,2% | Pemulihan ekonomi pasca-pandemi |
| 2023 | 3,1% | Inflasi global mulai meningkat |
| 2024 | 3,0% | Stabilitas harga komoditas |
| 2025 | 2,95% | Kebijakan fiskal lebih ketat |
| 2026 | 2,9% | Target Perppu APBN 2026 |
Disclaimer: Data di atas bersifat estimasi dan dapat berubah tergantung realisasi anggaran serta kondisi ekonomi global yang dinamis.
Strategi Jangka Panjang untuk Menjaga Stabilitas Fiskal
Pemerintah tidak hanya fokus pada pengelolaan jangka pendek. Ada sejumlah strategi jangka panjang yang dirancang untuk menjaga keseimbangan fiskal ke depannya. Ini penting agar defisit tidak membengkak dan tetap berada dalam batas aman.
1. Penguatan Pendapatan Negara
Langkah ini mencakup optimalisasi perpajakan, peningkatan efisiensi pengelolaan BUMN, serta pemanfaatan potensi sumber daya alam secara berkelanjutan. Pemerintah juga terus mendorong reformasi perpajakan untuk menutup celah kebocoran pendapatan.
2. Efisiensi Belanja Negara
Efisiensi tidak hanya dilakukan di level makro, tapi juga di level teknis pelaksanaan anggaran. Program yang tidak memberikan dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi dievaluasi ulang, bahkan ditunda jika diperlukan.
3. Pembangunan Infrastruktur Berkelanjutan
Investasi infrastruktur tetap menjadi prioritas, namun dengan pendekatan yang lebih selektif. Proyek yang dipilih adalah yang memiliki potensi multiplier effect tinggi terhadap perekonomian.
Tantangan ke Depan
Meski defisit APBN saat ini masih aman, bukan berarti tanpa tantangan. Ada sejumlah risiko yang perlu terus diwaspadai agar tidak mengganggu stabilitas fiskal ke depan.
1. Volatilitas Harga Komoditas
Harga komoditas yang fluktuatif bisa berdampak langsung pada penerimaan negara. Jika harga turun, maka defisit bisa membengkak. Pemerintah harus punya instrumen hedging dan cadangan untuk mengantisipasi hal ini.
2. Gejolak Geopolitik Global
Ketegangan antar negara besar bisa memicu gangguan pada rantai pasok dan investasi. Ini berpotensi menekan penerimaan dari sektor ekspor dan investasi asing.
3. Tekanan Inflasi Domestik
Inflasi yang tinggi bisa memaksa pemerintah untuk menambah belanja subsidi. Ini akan memperlebar defisit jika tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan.
Kesimpulan
Defisit APBN sebesar 2,9% memang bukan angka nol, tapi dalam konteks ekonomi makro saat ini, angka tersebut masih wajar dan terkendali. Apalagi jika dibandingkan dengan tren defisit beberapa tahun sebelumnya yang cenderung lebih tinggi. Yang lebih penting adalah bagaimana pemerintah terus menjaga keseimbangan antara pengeluaran dan pendapatan, serta siap menghadapi berbagai risiko eksternal yang tidak bisa diprediksi.
Dengan pertumbuhan ekonomi yang solid, pengelolaan fiskal yang ketat, dan strategi jangka panjang yang matang, defisit APBN bisa tetap berada dalam koridor yang aman. Tentu saja, semua ini membutuhkan sinergi antara berbagai pihak, termasuk Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan seluruh kementerian/lembaga terkait.
Namun, satu hal yang pasti: defisit bukan musuh, selama masih dalam batas wajar dan dikelola dengan bijak. Yang penting adalah menjaga kepercayaan pasar dan masyarakat terhadap kebijakan fiskal pemerintah. Karena pada akhirnya, kepercayaan itulah yang akan menopang stabilitas ekonomi nasional ke depannya.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













