Nasional

Kadin Ajak RI Capai Target Emas 2045 Lewat Keanggotaan OECD Tahun 2026

Retno Ayuningrum
×

Kadin Ajak RI Capai Target Emas 2045 Lewat Keanggotaan OECD Tahun 2026

Sebarkan artikel ini
Kadin Ajak RI Capai Target Emas 2045 Lewat Keanggotaan OECD Tahun 2026

Indonesia terus bergerak maju di kancah ekonomi global. Langkah nyata kini datang dari Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Arsjad Rasjid. Ia secara tegas mendorong akses masuk Indonesia ke Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Langkah ini dianggap strategis untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Dukungan ini bukan sekadar retorika. Arsjad menilai bahwa keanggotaan OECD bisa menjadi katalisator yang berkelanjutan. Apalagi, OECD dikenal sebagai forum negara maju dan berkembang dengan sistem ekonomi yang transparan dan berbasis aturan.

Mengenal Lebih Dekat OECD dan Relevansinya dengan Indonesia

Organisation for Economic Co-operation and Development atau OECD didirikan pada tahun 1961. Awalnya, organisasi ini dibentuk untuk membantu negara-negara Eropa pasca-Perang Dunia II. Kini, OECD menjadi wadah bagi negara-negara dengan sistem ekonomi maju.

Keanggotaan OECD bukan soal prestise semata. Negara anggota mendapat akses ke berbagai data ekonomi global, best practice , dan forum kolaborasi internasional. Ini sangat relevan dengan upaya Indonesia untuk memperkuat tata kelola ekonomi.

Indonesia bukan anggota penuh OECD, tapi sudah menjadi "Enhanced Engagement Partner" sejak 2015. Status ini memberi ruang bagi Indonesia untuk terlibat aktif dalam diskusi kebijakan, meski belum memiliki hak suara penuh.

1. Tahapan Menuju Keanggotaan Penuh OECD

Proses masuk ke OECD tidak instan. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui oleh negara calon anggota.

  1. Resmi: Negara harus menyampaikan minat secara resmi kepada Sekretariat OECD. Ini biasanya dilakukan melalui Kementerian Luar Negeri atau lembaga setara.

  2. Evaluasi Awal: OECD akan melakukan penilaian awal terhadap sistem ekonomi, regulasi, dan transparansi data negara yang bersangkutan.

  3. Rekomendasi Dewan: Jika lolos evaluasi, Dewan OECD akan memberikan rekomendasi kepada negara anggota untuk membuka dialog resmi.

  4. Negosiasi dan Reformasi: Tahap ini melibatkan penyesuaian kebijakan domestik agar selaras dengan standar OECD. Termasuk di bidang perpajakan, anti-korupsi, dan perlindungan .

  5. Undangan Resmi: Jika semua syarat terpenuhi, negara akan mendapat undangan untuk menjadi anggota penuh.

2. Syarat Dasar yang Harus Dipenuhi Indonesia

Masuk ke OECD bukan perkara mudah. Ada sejumlah syarat ketat yang harus dipenuhi.

  1. Transparansi Data Ekonomi: Negara harus mampu menyediakan data ekonomi yang akurat dan dapat diverifikasi secara independen.

  2. Sistem Perpajakan yang Adil: OECD menilai apakah negara memiliki sistem perpajakan yang tidak diskriminatif dan mendukung keadilan.

  3. Komitmen Anti-Korupsi: Negara harus memiliki lembaga anti-korupsi yang independen dan efektif.

  4. Perlindungan Hak Buruh dan Lingkungan: Standar kerja dan lingkungan harus memenuhi kriteria internasional.

  5. Kebijakan Dagang yang Terbuka: Regulasi perdagangan harus transparan dan tidak proteksionis.

3. Manfaat Keanggotaan OECD bagi Indonesia

Bergabung dengan OECD membuka banyak peluang. Berikut beberapa manfaat utamanya:

  1. Akses ke Data dan Kebijakan Global: Negara anggota mendapat data ekonomi dan rekomendasi kebijakan terkini dari berbagai negara maju.

  2. Peningkatan Daya Saing: Standar OECD mendorong peningkatan kualitas regulasi, yang berdampak pada daya saing ekonomi.

  3. Asing yang Lebih Tinggi: Investor asing cenderung lebih percaya pada negara dengan tata kelola yang baik.

  4. Peningkatan Reputasi Internasional: Keanggotaan OECD meningkatkan citra Indonesia di mata dunia.

  5. Kolaborasi dalam Inovasi dan Teknologi: Negara anggota dapat terlibat dalam program riset dan inovasi yang didukung OECD.

Perbandingan Potensi Ekonomi Indonesia vs Negara Anggota OECD

Kriteria Indonesia Negara Anggota OECD (Rata-rata)
Pertumbuhan Ekonomi (2023) 5,05% 2,8%
Inflasi (2023) 3,2% 5,1%
Indeks Transparansi 53/100 72/100
Indeks Kemudahan Berbisnis 64/190 12/190
Investasi R&D terhadap PDB 0,25% 2,4%

Catatan: Data bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung global dan kebijakan domestik.

4. Tantangan yang Harus Diwaspadai

Meski manfaatnya besar, proses masuk ke OECD juga penuh tantangan.

  1. Reformasi Regulasi yang Panjang: Banyak regulasi di Indonesia masih perlu disesuaikan dengan standar internasional.

  2. Ketidakpastian Politik: Reformasi besar membutuhkan komitmen jangka panjang dari .

  3. Biaya Adaptasi: Penyesuaian sistem ekonomi bisa memerlukan besar.

  4. Resistensi Internal: Sejumlah pihak mungkin tidak setuju dengan kebijakan yang dianggap terlalu liberal.

5. Langkah Strategis yang Sedang Ditempuh

Pemerintah Indonesia tidak tinggal diam. Sejumlah langkah strategis telah diambil untuk mendekatkan Indonesia ke OECD.

  1. Penguatan Data Statistik: Badan Pusat Statistik (BPS) terus meningkatkan kualitas dan transparansi data ekonomi.

  2. Reformasi Perpajakan: Indonesia telah menerapkan Base Erosion and Profit Shifting (BEPS) untuk menutup celah penghindaran pajak.

  3. Peningkatan Perlindungan Lingkungan: Program Net Zero Emission 2060 menjadi komitmen penting.

  4. Penguatan Lembaga Anti-Korupsi: KPK terus diberdayakan untuk memenuhi standar internasional.

  5. Kolaborasi dengan OECD: Indonesia aktif mengikuti berbagai program OECD, termasuk dalam bidang pendidikan dan inovasi.

6. Peran Swasta dalam Mendukung Akses Masuk OECD

Dunia usaha juga punya peran penting. Kadin sebagai representasi dunia usaha terus mendorong reformasi agar Indonesia memenuhi kriteria OECD.

  1. Advokasi Kebijakan: Kadin aktif memberikan masukan ke pemerintah soal regulasi yang perlu disesuaikan.

  2. Peningkatan Kapasitas Pelaku Usaha: Melalui dan sertifikasi, pelaku usaha didorong untuk memenuhi standar internasional.

  3. Kemitraan dengan Dunia Internasional: Kadin menjalin kerja sama dengan asosiasi bisnis di negara anggota OECD.

Masa Depan Indonesia di Mata OECD

Ke depan, keanggotaan OECD bisa menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Ini bukan soal menjadi negara "seperti Barat", tapi lebih pada bagaimana Indonesia bisa menjadi negara dengan ekonomi yang transparan, berkelanjutan, dan berbasis inovasi.

Langkah ini juga menjadi bagian dari transformasi besar yang sedang terjadi di Asia Tenggara. Negara-negara kawasan lain juga mulai memperkuat tata kelola ekonomi mereka.

Dengan komitmen yang kuat dan langkah yang tepat, keanggotaan OECD bukan lagi sekadar impian. Ini bisa menjadi kenyataan dalam satu dekade ke depan.

Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan kebijakan pemerintah dan kondisi ekonomi global.

Retno Ayuningrum
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.