Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga emas dunia kembali merangkak naik seusai Presiden Donald Trump mengumumkan gencatan senjata sementara dengan Iran. Meski sempat turun dari level tertinggi tiga minggu, logam mulia ini tetap bertahan di zona positif. Pasar bereaksi cepat terhadap perkembangan geopolitik yang dinilai bisa meredam ketegangan di Teluk Persia.
Emas spot naik 0,3 persen ke posisi USD4.719,35 per ons pada perdagangan Kamis, 9 April 2026. Sempat menyentuh level tertinggi sesi di angka USD4.856,00 per ons. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni juga menguat 1,3 persen menjadi USD4.745,15 per ons. Lonjakan ini terjadi tak lama setelah Trump mengumumkan penangguhan operasi militer terhadap Iran selama dua pekan.
Guncangan Geopolitik Picu Lonjakan Permintaan Emas
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memang sudah berlangsung cukup lama. Namun, momen krusial datang saat Trump menetapkan tenggat waktu bagi Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Ancaman keras itu nyaris berbuah konfrontasi bersenjata, hingga muncul kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi oleh Pakistan.
Trump mengungkapkan keputusan ini lewat media sosial, menyatakan bahwa tujuan militer utama AS telah tercapai. Langkah ini diambil hanya beberapa jam sebelum tenggat waktu kedaluwarsa. Iran pun menunjukkan sikap fleksibel dengan menyatakan kesediaan membuka jalur aman di Selat Hormuz, selama tidak ada provokasi dari pihak AS.
Gencatan senjata ini bukan tanpa syarat. Iran menuntut agar semua bentuk permusuhan dihentikan dan kapal-kapal harus dikendalikan secara koordinatif. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi distribusi minyak global, menyumbang sekitar 20 persen pasokan harian dunia.
Tim diplomatik AS yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, Utusan Khusus untuk Timur Tengah Steve Witkoff, serta pengusaha Jared Kushner direncanakan akan bertolak ke Islamabad dalam waktu dekat. Tujuannya adalah menggelar pembicaraan lanjutan guna memperkuat kesepakatan damai.
Namun, suasana damai tampaknya belum sepenuhnya stabil. Iran menuding Israel telah melanggar gencatan senjata dengan melakukan serangan terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon. Pernyataan dari parlemen Iran menyebut bahwa tiga dari sepuluh poin utama dalam proposal mereka telah dilanggar bahkan sebelum proses negosiasi dimulai.
JD Vance mengklarifikasi bahwa gencatan senjata yang disepakati tidak mencakup Lebanon. Hal ini memicu pro-kontra mengenai interpretasi kesepakatan, terutama soal ruang lingkup wilayah yang terlibat.
Dolar Melemah, Emas Makin Menarik
Pergerakan harga emas erat kaitannya dengan performa dolar AS. Saat dolar melemah, harga emas cenderung naik karena menjadi lebih terjangkau bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Indeks dolar AS turun cukup signifikan seusai pengumuman gencatan senjata, mendukung penguatan emas.
Sementara itu, harga minyak mentah anjlok lebih dari 12 persen. Lonjakan awal yang terjadi akibat ketegangan Timur Tengah mulai reda. Investor pun mulai menjual aset berisiko tinggi dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman, termasuk emas.
Sebenarnya, sepanjang bulan lalu, emas sedang berada di bawah tekanan karena lonjakan harga energi memicu kekhawatiran inflasi. Lonjakan tersebut membuat ekspektasi pasar berubah, terutama terkait kebijakan Federal Reserve yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Emas biasanya kurang diminati saat suku bunga tinggi karena imbal hasil investasi emas tidak memberikan bunga. Namun, ketidakpastian geopolitik seperti yang terjadi saat ini bisa menggeser fokus investor kembali ke logam mulia sebagai safe haven.
Data Inflasi Jadi Sorotan Pasar
Para pelaku pasar kini menantikan rilis data indeks harga konsumen (CPI) AS untuk bulan Maret. Laporan ini dijadwalkan dirilis pada Jumat mendatang dan diprediksi akan mencerminkan dampak lonjakan harga energi akibat ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Ekonom memperkirakan laju inflasi inti akan naik tipis secara bulanan. Namun, kenaikan harga bahan bakar bisa memberi tekanan tambahan pada angka keseluruhan. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi The Fed dalam menyeimbangkan antara kendali inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
Jika data CPI menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi dari estimasi, bank sentral AS bisa semakin enggan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. Sebaliknya, jika angka inflasi lebih rendah dari prediksi, peluang penurunan suku bunga bisa terbuka lebar, dan emas pun akan semakin menarik.
Perbandingan Harga Emas Sebelum dan Sesudah Kesepakatan
| Parameter | Sebelum Kesepakatan | Setelah Kesepakatan |
|---|---|---|
| Harga Emas Spot | USD4.690 per ons | USD4.719,35 per ons |
| Kontrak Berjangka Emas Juni | USD4.680 per ons | USD4.745,15 per ons |
| Indeks Dolar AS | Stabil | Melemah |
| Harga Minyak Mentah | Naik >15% | Turun >12% |
Faktor-Faktor Pendukung Kenaikan Harga Emas
-
Ketegangan Geopolitik
- Ketidakpastian di Teluk Persia mendorong permintaan safe haven.
- Investor mencari alternatif portofolio yang lebih aman.
-
Melemahnya Dolar AS
- Indeks dolar turun membuat emas lebih kompetitif bagi investor global.
- Nilai tukar mata uang berpengaruh langsung pada harga komoditas internasional.
-
Sentimen Pasar Terhadap Inflasi
- Lonjakan harga energi memicu spekulasi akan kebijakan moneter ketat.
- Investor mengantisipasi dampak jangka panjang dari fluktuasi harga.
Apa Selanjutnya?
Meski gencatan senjata telah disepakati, situasi masih rapuh. Banyak variabel yang bisa memicu kembali eskalasi, termasuk pelanggaran kesepakatan atau reaksi dari kelompok sayap keras di kedua belah pihak. Investor tetap waspada dan siap menyesuaikan strategi investasi mengikuti perkembangan terbaru.
Di tengah ketidakpastian, emas tetap menjadi pilihan utama banyak kalangan. Baik sebagai lindung nilai maupun instrumen investasi jangka pendek, logam mulia ini memiliki daya tarik tersendiri saat dunia menghadapi gejolak politik dan ekonomi.
Disclaimer: Data harga emas dan informasi pasar bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi makroekonomi global serta perkembangan geopolitik. Informasi dalam artikel ini disajikan berdasarkan data terkini hingga tanggal publikasi dan tidak dimaksudkan sebagai nasihat investasi.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













