Nasional

Harga Bensin di Amerika Serikat Bisa Capai USD5 Per Galon Jika Selat Hormuz Ditutup Pada 2026

Herdi Alif Al Hikam
×

Harga Bensin di Amerika Serikat Bisa Capai USD5 Per Galon Jika Selat Hormuz Ditutup Pada 2026

Sebarkan artikel ini
Harga Bensin di Amerika Serikat Bisa Capai USD5 Per Galon Jika Selat Hormuz Ditutup Pada 2026

Penutupan Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga bahan bakar minyak di Serikat. Jika itu benar-benar ditutup, harga bensin bisa mencapai USD5 per galon. Lonjakan tersebut bukan sekadar angka, tapi bisa berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari, terutama bagi masyarakat yang bergantung pada kendaraan pribadi.

Selat Hormuz adalah jalur pengiriman minyak paling sibuk di dunia. Sekitar 21 juta barel melewati selat sempit ini setiap hari. Angka itu setara dengan 21% pasokan minyak global. Jika aliran terganggu, dampaknya akan dirasakan di seluruh dunia, termasuk yang masih mengimpor sebagian kebutuhan energinya.

Dampak Penutupan Selat Hormuz pada Pasar Energi Global

Penutupan Selat Hormuz bukan isu baru. Sejak lama, ketegangan di kawasan Teluk Persia menjadi ancaman nyata bagi energi global. Namun, dampaknya terhadap Amerika Serikat bisa lebih signifikan karena struktur ekonominya yang masih sangat bergantung pada minyak.

1. Gangguan Pasokan Minyak Mentah

Minyak dari negara-negara Teluk Persia seperti Arab Saudi, Kuwait, dan Irak sebagian besar dikirim melalui Selat Hormuz. Jika jalur ini ditutup, pasokan minyak ke raksasa energi global seperti ExxonMobil dan Chevron akan terganggu.

2. Lonjakan Harga Minyak Mentah Dunia

Gangguan pasokan otomatis mendorong harga minyak mentah naik. Brent Crude, sebagai benchmark harga minyak global, bisa melonjak dalam hitungan hari. Saat harga mentah naik, biaya produksi bensin juga ikut meningkat.

3. Refluksi ke Harga Eceran

Lonjakan biaya produksi bensin berdampak langsung ke harga eceran. Di pom bensin AS, harga bisa melonjak hingga USD5 per galon, terutama di wilayah yang tidak memiliki akses langsung ke jalur pengiriman alternatif.

Faktor yang Memperparah Dampak Penutupan Selat Hormuz

Penutupan Selat Hormuz tidak serta merta langsung berdampak besar. Ada beberapa faktor yang bisa memperparah atau mempercepat lonjakan harga bensin.

1. Keterbatasan Cadangan Minyak AS

Meskipun Amerika Serikat adalah produsen minyak terbesar di dunia, cadangan nasionalnya tidak cukup untuk menutup kekurangan pasokan jangka panjang. Cadangan Minyak Mentah Strategis (Strategic Petroleum Reserve/SPR) hanya mencukupi sekitar 35 hari kebutuhan.

2. Ketergantungan pada Impor

AS masih mengimpor sekitar 7-10% minyak mentahnya dari kawasan Timur Tengah. Jika jalur pengiriman utama terganggu, negara-negara pengimpor besar lainnya seperti China dan India juga akan bersaing membeli minyak dari sumber alternatif, mendorong harga lebih tinggi.

3. Spekulasi Pasar

Pasarnya sendiri bisa memperburuk situasi. Investor dan trader minyak cenderung bereaksi cepat terhadap ketidakpastian geopolitik. Bahkan ancaman penutupan saja bisa memicu lonjakan harga sebelum benar-benar terjadi.

Perbandingan Harga Bensin AS Sebelum dan Setelah Gangguan Geopolitik

Berikut perkiraan harga bensin di AS jika terjadi gangguan serius di Selat Hormuz:

Tahun Harga Rata-Rata Bensin (USD/Galon) Kondisi Pasar
2023 USD3.50 Stabil
2024 (Perkiraan) USD4.80 Gangguan kecil
2024 (Skenario Buruk) USD5.20 – USD5.80 Penutupan Selat Hormuz

Catatan: Data bersifat estimasi dan dapat berubah tergantung kondisi pasar dan kebijakan pemerintah.

Strategi Jangka Pendek untuk Menghadapi Lonjakan Harga

Menghadapi potensi lonjakan harga bensin, pemerintah dan masyarakat perlu menyiapkan strategi mitigasi. Beberapa langkah bisa dilakukan untuk meminimalkan dampak.

1. Aktivasi Cadangan Minyak Nasional

Cadangan Minyak Mentah Strategis bisa dilepaskan untuk menstabilkan pasokan jangka pendek. Namun, efeknya hanya sementara dan tidak bisa menjadi solusi jangka panjang.

2. Diversifikasi Sumber Impor

AS bisa mempercepat pengadaan minyak dari negara-negara non-Timur Tengah seperti Kanada, Meksiko, dan Nigeria. Ini mengurangi ketergantungan pada jalur yang rawan ketegangan.

3. Peningkatan Efisiensi Energi

Masyarakat bisa mengurangi konsumsi bensin dengan beralih ke kendaraan listrik atau hybrid. Pemerintah juga bisa mendorong program efisiensi energi di sektor transportasi.

Alternatif Jalur Pengiriman Minyak jika Selat Hormuz Ditutup

Penutupan Selat Hormuz bukan berarti tidak ada jalan lain. Ada beberapa alternatif jalur pengiriman, meski dengan dan biaya yang berbeda.

1. Jalur Pipa ke Arab Saudi dan Irak

Negara-negara Teluk bisa menggunakan jalur pipa ke pelabuhan lain seperti Yanbu (Arab Saudi) atau Ceyhan (Turki). Namun, kapasitasnya lebih terbatas dibanding jalur laut.

2. Jalur Laut Alternatif

Minyak bisa dikirim melalui Selat Bab el-Mandeb di atau Selat Malaka di Asia Tenggara. Tapi, jalur ini lebih panjang dan rentan gangguan lain.

3. Jalur Darat ke Teluk Oman

Beberapa negara bisa menggunakan jalur darat ke pelabuhan di Teluk Oman, meski biayanya jauh lebih tinggi.

Dampak Jangka Panjang pada Kebijakan Energi AS

akibat gangguan di Selat Hormuz bisa memicu perubahan kebijakan energi jangka panjang. Pemerintah mungkin akan mempercepat transisi ke energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan pada minyak impor.

Investasi pada , angin, dan kendaraan listrik bisa meningkat. Program efisiensi energi juga akan menjadi prioritas. Ini bukan hanya soal krisis jangka pendek, tapi peluang untuk membangun sistem energi yang lebih tahan banting.

Penutupan Selat Hormuz adalah pengingat bahwa geopolitik masih sangat relevan dalam pasar energi global. Amerika Serikat, meski sudah menjadi produsen minyak besar, tetap rentan terhadap gangguan di jalur strategis. Harga bensin USD5 per galon bukan lagi skenario mustahil, tapi kemungkinan yang harus disiapkan.

Disclaimer: Data dan estimasi dalam artikel ini bersifat prediktif dan dapat berubah tergantung perkembangan geopolitik serta kondisi pasar energi global.

Herdi Alif Al Hikam
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.