Pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang sempat terganggu akibat ketegangan di kawasan Timur Tengah sempat jadi sorotan. Banyak yang berharap lonjakan harga dan keterbatasan BBM bisa mendorong masyarakat beralih ke kendaraan listrik. Sayangnya, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa transisi ke mobil listrik murni belum semudah itu, terutama dalam konteks pembiayaan.
Bukan berarti tidak ada perubahan sama sekali. Tapi, alih-alih langsung melonjak, minat masyarakat justru lebih banyak tertuju pada kendaraan hybrid. Alasannya cukup logis: harganya lebih terjangkau dan risiko depresiasi nilai jualnya lebih kecil dibandingkan mobil listrik murni.
Dinamika Pasar Kendaraan Listrik dan Hybrid
1. Minat ke Kendaraan Hybrid Meningkat
Kendaraan hybrid punya dua sumber tenaga: mesin bensin dan motor listrik. Ini jadi solusi tengah bagi konsumen yang ingin irit bahan bakar tapi belum siap sepenuhnya beralih ke listrik murni. Dengan sistem dual power, pengguna tetap bisa menggunakan bensin saat baterai habis, tanpa khawatir kehabisan daya di tengah jalan.
Keunggulan lainnya adalah harga jual kembali yang lebih stabil. Banyak konsumen masih ragu soal resale value mobil listrik murni karena teknologi yang cepat berkembang dan harga bekas yang belum terlalu menjanjikan.
2. Multifinance Lebih Waspada pada Kendaraan Listrik Murni
Meski pemerintah terus mendorong elektrifikasi kendaraan, multifinance cenderung lebih hati-hati dalam memberikan kredit untuk mobil listrik murni. Pertimbangan utamanya adalah nilai jual kembali yang belum stabil dan risiko teknologi yang masih berkembang.
Sebaliknya, untuk kendaraan hybrid, permintaan kredit masih tergolong aman. Banyak konsumen yang memilih membeli mobil listrik murni secara tunai, bukan melalui pembiayaan. Ini menunjukkan bahwa pasar masih belum sepenuhnya siap untuk beralih ke model kredit kendaraan listrik.
Data Pembiayaan Kendaraan Listrik dari Otoritas Jasa Keuangan
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa pembiayaan kendaraan listrik dari sektor multifinance mencapai Rp 21,05 triliun per Januari 2026. Angka ini naik 39,13% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan penjualan kendaraan listrik secara keseluruhan.
Namun, pertumbuhan ini belum cukup untuk menggeser dominasi kendaraan konvensional. Banyak multifinance masih fokus pada kendaraan tradisional karena nilai jual kembali yang lebih terjamin. Kendaraan listrik murni, meski sedang naik daun, masih dianggap berisiko tinggi dalam hal pembiayaan.
Faktor yang Mempengaruhi Pembiayaan Kendaraan Listrik
1. Harga BBM yang Naik Belum Cukup Dorong Perubahan
Meski harga BBM sempat naik akibat gangguan pasokan, dampaknya terhadap penjualan kendaraan listrik tidak serta merta terasa. Banyak konsumen masih memilih kendaraan konvensional atau hybrid sebagai alternatif yang lebih aman dan teruji.
2. Resale Value Kendaraan Listrik Masih Jadi PR
Salah satu alasan multifinance waspada adalah nilai jual kembali kendaraan listrik yang belum stabil. Teknologi yang berkembang pesat membuat mobil listrik generasi lama cepat kalah pamor. Ini jadi pertimbangan penting bagi lembaga pembiayaan yang harus memperhitungkan risiko kerugian.
3. Preferensi Konsumen Masih ke Aman
Banyak konsumen yang ingin mencoba mobil listrik, tapi memilih untuk membeli secara tunai. Ini menunjukkan bahwa minat terhadap kendaraan listrik memang ada, tapi belum kuat untuk mendorong penggunaan kredit. Kebanyakan masih memandang kredit kendaraan listrik sebagai investasi yang berisiko.
Strategi Multifinance di Tengah Lonjakan Minat Hybrid
1. Fokus pada Segmen Hybrid dan Konvensional
Multifinance cenderung lebih fokus pada kendaraan hybrid dan konvensional karena nilai jual kembali yang lebih stabil. Ini jadi pilihan aman di tengah ketidakpastian pasar kendaraan listrik.
2. Evaluasi Risiko Teknologi
Sebelum menyetujui pembiayaan, banyak multifinance melakukan evaluasi teknologi kendaraan listrik. Hal ini untuk memastikan bahwa kendaraan tersebut memiliki daya tahan dan nilai jual yang cukup baik di masa depan.
3. Kolaborasi dengan Produsen
Beberapa lembaga pembiayaan mulai menjalin kerja sama dengan produsen mobil listrik untuk meminimalkan risiko. Program seperti garansi nilai jual kembali atau bantuan biaya perawatan jadi daya tarik tambahan bagi konsumen.
Tren Pasar Otomotif 2026
1. Hybrid Jadi Pilihan Utama Konsumen
Di tahun 2026, kendaraan hybrid jadi pilihan utama konsumen yang ingin irit tapi tetap aman. Banyak produsen juga mulai meluncurkan berbagai model hybrid dengan harga yang lebih terjangkau.
2. Kendaraan Listrik Murni Masih Diburu Segmen Tertentu
Meski belum dominan, mobil listrik murni tetap diminati oleh kalangan menengah ke atas yang punya daya beli tinggi dan lebih sadar lingkungan. Namun, permintaan kredit untuk kendaraan ini masih belum signifikan.
3. Pemerintah Dorong Elektrifikasi
Pemerintah terus mendorong elektrifikasi kendaraan melalui insentif pajak dan pembangunan infrastruktur pengisian. Namun, efeknya baru terasa dalam jangka panjang.
Perbandingan Preferensi Konsumen terhadap Jenis Kendaraan
| Jenis Kendaraan | Preferensi Konsumen | Alasan Utama |
|---|---|---|
| Kendaraan Hybrid | Tinggi | Harga terjangkau, nilai jual stabil |
| Kendaraan Listrik Murni | Sedang | Minat lingkungan, tapi risiko nilai jual |
| Kendaraan Konvensional | Menurun | Harga BBM, tapi masih populer di kalangan tertentu |
Catatan: Data berdasarkan survei awal 2026 dan dapat berubah seiring perkembangan pasar.
Kesimpulan
Keterbatasan pasokan BBM memang sempat jadi pemicu masyarakat melirik kendaraan listrik. Tapi, dampaknya terhadap pembiayaan kendaraan listrik murni belum terlalu signifikan. Banyak konsumen justru lebih tertarik pada kendaraan hybrid yang menawarkan keseimbangan antara efisiensi dan keamanan.
Multifinance pun masih berhati-hati dalam memberikan kredit untuk kendaraan listrik murni karena pertimbangan nilai jual kembali dan risiko teknologi. Untuk saat ini, kendaraan hybrid dan konvensional masih jadi andalan utama dalam skema pembiayaan kendaraan.
Meski begitu, tren elektrifikasi kendaraan terus berkembang. Dengan dukungan kebijakan dan infrastruktur yang memadai, pembiayaan kendaraan listrik bisa mulai tumbuh lebih signifikan di masa depan.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terbatas dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan pasar dan kebijakan pemerintah.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













