Bayangkan bekerja dari rumah satu hari dalam seminggu tanpa harus khawatir soal potongan gaji atau kehilangan hak cuti. Kedengarannya nyaman, bukan? Tapi ini bukan sekadar imajinasi. Di tahun 2026, pemerintah melalui Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, secara resmi mengimbau perusahaan untuk menerapkan skema Work From Home (WFH) satu hari per minggu.
Imbauan ini tertuang dalam Surat Edaran Nomor M/6/HK.04/III/2026. Kebijakan ini ditujukan untuk seluruh perusahaan, baik swasta, BUMN, maupun BUMD. Tujuannya? Mendorong fleksibilitas kerja sekaligus mendukung efisiensi energi nasional. Ini bukan sekadar langkah simbolis, tapi bagian dari transformasi besar dalam dunia kerja Indonesia.
Apa Saja Tujuan WFH 1 Hari per Minggu?
1. Mendorong Efisiensi Energi Nasional
Salah satu tujuan utama dari kebijakan ini adalah mengurangi konsumsi energi di tempat kerja. Dengan satu hari WFH, perusahaan bisa mengurangi penggunaan listrik, AC, dan fasilitas umum lainnya. Ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mewujudkan ketahanan energi jangka panjang.
2. Meningkatkan Produktivitas dan Kesejahteraan Pekerja
WFH yang terstruktur bisa jadi solusi untuk mengurangi stres dan kelelahan pekerja. Dengan satu hari bekerja dari rumah, pekerja bisa lebih fokus, menghemat waktu perjalanan, dan memiliki waktu lebih untuk keluarga atau diri sendiri.
Siapa Saja yang Terkena Imbauan Ini?
Imbauan WFH satu hari per minggu berlaku untuk seluruh sektor usaha, baik swasta maupun milik negara. Namun, ada pengecualian tertentu yang tetap harus menerapkan kehadiran fisik penuh karena sifat pekerjaannya yang memang tidak bisa dilakukan dari jarak jauh.
Sektor yang Dikecualikan dari WFH
| Sektor | Alasan Pengecualian |
|---|---|
| Kesehatan | Membutuhkan kehadiran langsung untuk pelayanan pasien |
| Produksi Barang | Proses kerja yang bersifat operasional dan manual |
| Keamanan dan Pertahanan | Tuntutan tugas yang tidak bisa diwakilkan secara virtual |
| Pendidikan Tatap Muka | Kegiatan belajar mengajar yang membutuhkan interaksi langsung |
Apa Saja Hak dan Kewajiban Pekerja Saat WFH?
Salah satu aspek penting dalam kebijakan ini adalah penegasan bahwa pekerja tetap mendapatkan hak-haknya secara penuh saat menjalani WFH satu hari per minggu.
Hak-Hak Pekerja Selama WFH
- Gaji tetap dibayarkan sesuai ketentuan
- Tidak ada pengurangan cuti tahunan
- Hak istirahat dan jam kerja tetap dihormati
Kewajiban Pekerja Selama WFH
- Tetap menjalankan tugas sesuai target
- Menjaga komunikasi dengan tim dan atasan
- Menjaga kerahasiaan data perusahaan
Bagaimana Dampak bagi Perusahaan?
Bagi perusahaan, kebijakan ini bisa jadi peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, bisa mengurangi biaya operasional. Di sisi lain, perlu penyesuaian sistem manajemen dan pengawasan karyawan.
Manfaat bagi Perusahaan
- Penghematan biaya listrik, transportasi karyawan, dan fasilitas kantor
- Peningkatan retensi karyawan karena kebijakan yang lebih fleksibel
- Citra perusahaan yang adaptif terhadap perubahan
Tantangan yang Perlu Dipersiapkan
- Kebutuhan infrastruktur digital yang memadai
- Penyesuaian sistem evaluasi kinerja
- Pelatihan manajer untuk memimpin tim hybrid
Apakah Semua Perusahaan Wajib Mengikuti Imbauan Ini?
Tidak. Kebijakan ini bersifat imbauan, bukan regulasi wajib. Artinya, perusahaan tetap punya ruang untuk menyesuaikan dengan kondisi internal mereka. Namun, pemerintah sangat menganjurkan agar perusahaan mempertimbangkan penerapannya sebagai bagian dari transformasi digital dan keberlanjutan operasional.
Tips Menerapkan WFH 1 Hari dengan Efektif
Bagi perusahaan yang ingin mulai menerapkan kebijakan ini, ada beberapa langkah yang bisa diambil agar WFH tidak justru menurunkan produktivitas.
1. Tentukan Hari WFH yang Paling Efektif
Pilih hari yang minim pertemuan penting atau aktivitas kolaboratif. Misalnya, Senin bisa jadi pilihan karena banyak pekerja lebih produktif saat bekerja secara individu.
2. Siapkan Panduan WFH yang Jelas
Perusahaan perlu menyusun SOP WFH yang mencakup jam kerja, komunikasi, dan penilaian kinerja. Ini penting agar semua pihak berada di hal yang sama.
3. Gunakan Teknologi Pendukung
Investasi pada platform kolaborasi seperti Zoom, Slack, atau Microsoft Teams sangat penting agar komunikasi tetap lancar.
4. Evaluasi Kinerja Secara Berkala
Gunakan metrik kinerja yang jelas, bukan hanya kehadiran fisik. Ini akan mendorong budaya kerja yang lebih hasil-oriented.
Apakah WFH 1 Hari Ini Bisa Diperluas?
Kebijakan ini bisa jadi awal dari perubahan yang lebih besar. Jika hasilnya positif, baik dari sisi produktivitas maupun efisiensi, tidak menutup kemungkinan ke depan pemerintah akan mendorong peningkatan frekuensi WFH atau memberlakukan regulasi yang lebih mengikat.
Namun, semua tergantung pada adaptasi dan respons dari dunia usaha serta hasil evaluasi di lapangan.
Disclaimer
Kebijakan ini masih dalam bentuk imbauan dan bisa mengalami penyesuaian tergantung situasi dan kondisi nasional. Data dan ketentuan yang disebutkan dalam artikel ini berlaku sampai dengan April 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kebijakan pemerintah.
Kebijakan WFH satu hari per minggu bukan sekadar langkah fleksibel, tapi juga strategi jangka panjang untuk dunia kerja yang lebih sehat dan berkelanjutan. Bagi pekerja, ini bisa jadi kesempatan untuk menyeimbangkan produktivitas dan kesejahteraan. Bagi perusahaan, ini tantangan sekaligus peluang untuk beradaptasi dengan masa depan kerja yang semakin digital.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













