PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatat pencapaian positif di awal tahun 2026. Laba bersih bank pelat merah ini tercatat mencapai Rp7,73 triliun pada Februari 2026, naik 17,12% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencatat laba bersih Rp6,60 triliun. Kenaikan ini menunjukkan kinerja keuangan BRI yang semakin solid meski berada di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah.
Peningkatan laba bersih tersebut didukung oleh sejumlah faktor, terutama dari sisi pendapatan bunga bersih yang tumbuh sebesar 4,84% YoY menjadi Rp19,14 triliun. Angka ini meningkat dari Rp18,25 triliun yang tercatat pada Februari 2025. Selain itu, pendapatan komisi juga ikut menyumbang, meski pertumbuhannya lebih moderat, yakni 1,12% YoY, mencapai Rp3,26 triliun.
Pendapatan Non-Bunga Turun, Beban Operasional Lebih Terkendali
Salah satu poin menarik dari laporan keuangan BRI adalah penurunan beban operasional lainnya. Pada Februari 2026, beban tersebut tercatat sebesar Rp9,53 triliun, turun 2,39% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp9,76 triliun. Penurunan ini menunjukkan efisiensi operasional yang semakin baik.
- Beban promosi turun drastis sebesar 47,76% YoY, dari Rp304,93 miliar menjadi hanya Rp159,29 miliar.
- Impairment juga mengalami penurunan 15,77% YoY menjadi Rp7,53 triliun.
- Beban lainnya turun 14,70% YoY menjadi Rp3,91 triliun.
Meskipun pendapatan non-bunga mengalami sedikit tekanan, pengendalian beban operasional yang efektif membantu menjaga laba tetap tumbuh.
Laba Operasional Naik, Rugi Non-Operasional Menyusut
Laba operasional BRI hingga Februari 2026 mencapai Rp9,61 triliun, naik 13,14% dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya mencatat laba operasional Rp8,49 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa bisnis inti BRI terus menghasilkan keuntungan yang stabil.
Sementara itu, rugi non-operasional juga mengalami penurunan yang cukup signifikan. Pada Februari 2026, BRI hanya mencatat rugi non-operasional sebesar Rp30,45 miliar, jauh lebih baik dibandingkan Februari 2025 yang mencatat rugi sebesar Rp223,55 miliar. Penyusutan kerugian ini turut mendorong peningkatan laba bersih secara keseluruhan.
Laba Sebelum Pajak Naik Hampir 16%
Laba tahun berjalan sebelum pajak BRI mencapai Rp9,58 triliun pada Februari 2026, naik 15,83% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencatat laba sebelum pajak Rp8,27 triliun. Kenaikan ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan BRI secara keseluruhan tetap berada di jalur positif meskipun menghadapi berbagai tantangan makroekonomi.
Pertumbuhan Kredit dan Aset Semakin Kuat
Dari sisi intermediasi, kredit BRI hingga Februari 2026 mencapai Rp1.346,16 triliun, naik 10,49% dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya mencatat total kredit Rp1.218,39 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa permintaan kredit dari nasabah terus meningkat, baik dari sektor korporasi maupun ritel.
Aset perseroan juga mengalami pertumbuhan sebesar 6,46% YoY. Dari Rp1.862,75 triliun pada Februari 2025, total aset BRI naik menjadi Rp1.983,03 triliun pada Februari 2026. Peningkatan ini menunjukkan bahwa BRI terus memperluas operasionalnya dan memperkuat posisi keuangannya di pasar perbankan Indonesia.
Dana Pihak Ketiga (DPK) Terus Meningkat
BRI berhasil menghimpun dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp1.508,84 triliun hingga bulan kedua 2026. Angka ini naik 9,26% dibandingkan Februari 2025 yang mencatat DPK sebesar Rp1.380,91 triliun. Pertumbuhan DPK yang solid menunjukkan bahwa masyarakat semakin percaya menitipkan dananya di BRI.
Komposisi DPK BRI hingga Februari 2026
| Jenis Dana | Februari 2026 | Februari 2025 | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|---|
| CASA | Rp1.017,27 triliun | Rp895,58 triliun | 13,59% |
| Time Deposit | Rp491,57 triliun | Rp485,33 triliun | 1,29% |
| Total DPK | Rp1.508,84 triliun | Rp1.380,91 triliun | 9,26% |
Peningkatan dana murah (CASA) menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan DPK. CASA BRI naik 13,59% YoY menjadi Rp1.017,27 triliun dari Rp895,58 triliun pada Februari 2025. Dana murah ini sangat menguntungkan karena biaya penghimpunannya lebih rendah dibandingkan time deposit.
Kinerja BRI di Awal 2026: Tanda Optimisme di Tengah Ketidakpastian
Pencapaian BRI di awal tahun 2026 menunjukkan bahwa bank ini tetap mampu menjaga momentum pertumbuhan meskipun menghadapi berbagai tantangan eksternal. Dari sisi laba, efisiensi biaya, hingga penyaluran kredit, BRI terus menunjukkan performa yang solid.
Disclaimer: Data dalam artikel ini bersifat simulasi dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan regulasi yang berlaku. Angka-angka yang disebutkan merupakan estimasi berdasarkan tren pertumbuhan dan laporan keuangan yang dirilis oleh BRI.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.











