Perbankan

Laba Bersih BRI Capai Rp7,73 Triliun dengan Kenaikan 17,04% pada Februari 2026

Rista Wulandari
×

Laba Bersih BRI Capai Rp7,73 Triliun dengan Kenaikan 17,04% pada Februari 2026

Sebarkan artikel ini
Laba Bersih BRI Capai Rp7,73 Triliun dengan Kenaikan 17,04% pada Februari 2026

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mencatatkan pencapaian keuangan yang solid di awal tahun 2026. Laba bersih bank ini mencapai Rp7,73 triliun pada Februari 2026, naik 17,04% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencatat Rp6,60 triliun. Kenaikan ini menunjukkan kinerja operasional BRI yang terus membaik meskipun berada di tengah dinamika ekonomi yang cukup kompleks.

laba bersih tersebut didukung oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih yang mencapai Rp19,14 triliun atau naik 4,84% secara tahunan dari angka Rp18,25 triliun di Februari 2025. Selain itu, pendapatan komisi juga turut menyumbang, meski pertumbuhannya lebih moderat, yakni 1,12% YoY menjadi Rp3,26 triliun. Dua ini menjadi tulang punggung kenaikan laba bersih BRI di awal tahun ini.

Kinerja Keuangan BRI di Februari 2026

1. Pendapatan Bunga Bersih Naik Signifikan

Salah satu faktor utama yang mendorong laba bersih BRI adalah peningkatan pendapatan bunga bersih. Angka ini mencerminkan selisih antara pendapatan bunga yang diterima dari pemberian kredit dan bunga yang dikeluarkan untuk simpanan nasabah. Peningkatan sebesar 4,84% menjadi Rp19,14 triliun menunjukkan bahwa BRI berhasil memaksimalkan portofolio kreditnya secara efisien.

2. Pendapatan Komisi Tumbuh Terbatas

Selain pendapatan bunga, pendapatan komisi juga memberikan kontribusi, meski pertumbuhannya hanya 1,12% YoY menjadi Rp3,26 triliun. Pendapatan ini biasanya berasal dari layanan non-bunga seperti transaksi perbankan digital, kartu kredit, dan layanan keuangan lainnya. Meski pertumbuhannya terbatas, komponen ini tetap menjadi bagian penting dari diversifikasi pendapatan bank.

3. Penurunan Beban Operasional Lainnya

Beban operasional lainnya turun 2,39% YoY menjadi Rp9,53 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencatat Rp9,76 triliun. Penurunan ini menjadi salah satu faktor yang membantu meningkatkan laba bersih BRI. biaya menjadi fokus penting dalam menjaga profitabilitas bank.

4. Penyusutan Beban Nonbunga

Sejumlah komponen beban nonbunga juga mengalami penurunan. Misalnya, beban promosi yang turun drastis sebesar 47,76% YoY menjadi Rp159,29 miliar dari sebelumnya Rp304,93 miliar. Selain itu, impairment dan beban lainnya juga turun masing-masing sebesar 15,77% YoY dan 14,70% YoY menjadi Rp7,53 triliun dan Rp3,91 triliun.

Laba Operasional dan Non-Operasional

1. Laba Operasional Naik 13,14% YoY

Laba operasional BRI mencapai Rp9,61 triliun pada Februari 2026, naik 13,14% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencatat Rp8,49 triliun. Peningkatan ini menunjukkan bahwa bisnis inti bank terus berkembang dengan baik dan mampu menghasilkan keuntungan yang stabil.

2. Rugi Non-Operasional Menyusut Tajam

BRI pada Februari 2026 hanya mencatat Rp30,45 miliar, jauh lebih kecil dibandingkan rugi sebesar Rp223,55 miliar yang tercatat pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penyusutan ini menunjukkan bahwa bank lebih mampu mengelola risiko di luar aktivitas operasional utamanya.

3. Laba Sebelum Pajak Naik 15,83% YoY

Laba sebelum BRI mencapai Rp9,58 triliun, naik 15,83% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencatat Rp8,27 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa BRI mampu menjaga secara keseluruhan meskipun menghadapi berbagai tantangan makroekonomi.

Pertumbuhan Intermediasi dan Aset

1. Kredit Naik 10,49% YoY

Total kredit BRI hingga Februari 2026 mencapai Rp1.346,16 triliun, naik 10,49% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1.218,39 triliun. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa BRI terus aktif dalam menyalurkan kredit kepada nasabah, baik individu maupun korporasi.

2. Aset Bank Tumbuh 6,46% YoY

Aset BRI juga mengalami pertumbuhan sebesar 6,46% YoY dari Rp1.862,75 triliun menjadi Rp1.983,03 triliun. Peningkatan aset mencerminkan ekspansi bisnis bank yang sehat dan berkelanjutan.

3. Dana Pihak Ketiga (DPK) Naik 9,26% YoY

BRI berhasil menghimpun dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp1.508,84 triliun pada Februari 2026, naik 9,26% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1.380,91 triliun. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa masyarakat terus mempercayakan dana mereka kepada ini.

4. CASA Naik 13,59% YoY

Salah satu komponen penting dari DPK adalah dana murah atau CASA (Current Account Saving Account). Pada Februari 2026, CASA BRI mencapai Rp1.017,27 triliun, naik 13,59% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp895,58 triliun. Pertumbuhan CASA yang tinggi sangat menguntungkan karena biaya penghimpunannya relatif rendah.

Rangkuman Kinerja Keuangan BRI Februari 2026

Komponen Februari 2026 Februari 2025 Pertumbuhan YoY
Laba Bersih Rp7,73 triliun Rp6,60 triliun 17,04%
Pendapatan Bunga Bersih Rp19,14 triliun Rp18,25 triliun 4,84%
Pendapatan Komisi Rp3,26 triliun Rp3,22 triliun 1,12%
Beban Operasional Lainnya Rp9,53 triliun Rp9,76 triliun -2,39%
Laba Operasional Rp9,61 triliun Rp8,49 triliun 13,14%
Total Kredit Rp1.346,16 triliun Rp1.218,39 triliun 10,49%
Total Aset Rp1.983,03 triliun Rp1.862,75 triliun 6,46%
DPK Rp1.508,84 triliun Rp1.380,91 triliun 9,26%
CASA Rp1.017,27 triliun Rp895,58 triliun 13,59%

Penutup

Pencapaian BRI di Februari 2026 menunjukkan bahwa bank ini terus menjaga momentum pertumbuhan yang positif. Dengan laba bersih yang naik lebih dari 17%, BRI membuktikan bahwa bank BUMN ini mampu menjaga kesehatan finansialnya meskipun di tengah yang terus berubah.

Namun, perlu diingat bahwa data keuangan ini bersifat sementara dan dapat berubah seiring dengan resmi yang akan dirilis lebih lanjut. Informasi ini hanya mencerminkan kondisi sampai dengan Februari 2026 dan belum mencakup dampak dari makro ekonomi yang mungkin akan diterapkan ke depannya.

Rista Wulandari
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.