Bisnis mobil listrik di Tanah Air masih didominasi oleh kalangan yang biasa disebut multiple users—pengguna yang sudah punya lebih dari satu kendaraan dan membeli mobil listrik sebagai pelengkap. Tidak ketinggalan, para early adopters juga masih menjadi konsumen utama. Mereka adalah tipe orang yang cepat memeluk teknologi baru, dan biasanya transaksi dilakukan secara tunai.
Namun, seiring waktu, pengamat industri pembiayaan Jodjana Jody memperkirakan bahwa pasar mobil listrik akan mulai menembus segmen konsumen baru. Ini termasuk first-time buyers atau pengguna yang baru pertama kali membeli mobil, serta mereka yang sebelumnya pengguna mobil bekas. Yang menarik, mayoritas segmen ini biasanya menggunakan skema kredit.
Risiko Portofolio Leasing saat Pasar Menembus Pengguna Baru
Penetrasi pasar ke segmen pengguna baru membawa tantangan tersendiri, terutama bagi perusahaan pembiayaan. Jodjana menilai bahwa risiko default atau gagal bayar dari konsumen baru ini lebih tinggi dibandingkan dengan kalangan multiple users atau early adopters.
Selain itu, pengalaman di pasar lain menunjukkan bahwa loss on repossess—kerugian saat kendaraan disita karena gagal bayar—cenderung lebih besar untuk mobil listrik. Hal ini menjadi pertimbangan serius bagi lembaga pembiayaan dalam menyusun strategi portofolio leasing mereka.
1. Profil Risiko Konsumen Tetap Jadi Faktor Utama
Penilaian kelayakan kredit masih sangat bergantung pada profil risiko konsumen. Ini mencakup riwayat pembayaran, stabilitas pendapatan, dan tanggungan finansial lainnya. Semakin jelas dan stabil profil konsumen, semakin kecil risiko kredit bermasalah.
2. Kemampuan Finansial Harus Memadai
Selain profil risiko, kemampuan finansial konsumen juga menjadi parameter penting. Ini termasuk rasio cicilan terhadap penghasilan bulanan. Idealnya, cicilan kendaraan tidak boleh melebihi 30% dari penghasilan bulanan.
3. Infrastruktur Charging di Rumah Jadi Pertimbangan
Jodjana juga menyoroti pentingnya infrastruktur charging di rumah. Konsumen yang memiliki akses mudah ke tempat pengisian daya cenderung lebih siap secara praktis untuk menggunakan mobil listrik. Ini juga bisa menjadi indikator kesiapan finansial jangka panjang.
Penetrasi Pasar yang Lebih Landai Tahun Ini
Dibandingkan lonjakan tajam di 2025, komposisi pasar mobil listrik tahun ini diperkirakan akan lebih landai. Jika di 2025 proporsinya mencapai 21,71%, maka tahun ini akan melambat ke sekitar 25%. Salah satu faktor utamanya adalah masuknya lebih banyak pilihan hybrid yang lebih terjangkau.
4. Hybrid Jadi Alternatif yang Lebih Aman
Mobil hybrid, seperti Toyota Veloz Hybrid, mulai banyak diminati karena harganya yang lebih ramah dan risiko finansialnya yang lebih rendah. Ini membuat perusahaan multifinance lebih leluasa dalam menawarkan skema pembiayaan.
5. Resale Value Masih Jadi PR Besar
Salah satu tantangan utama mobil listrik adalah depresiasi nilai jual yang cepat. Mobil listrik yang sudah digunakan selama tiga tahun bisa kehilangan lebih dari 50% nilai jualnya. Ini menjadi pertimbangan penting saat menentukan skema leasing atau cicilan.
6. Asuransi Jadi Pelindung Penting
Asuransi kendaraan listrik juga menjadi elemen penting dalam mitigasi risiko. Terutama jika terjadi kecelakaan berat yang berujung pada total loss. Perlindungan ini tidak hanya melindungi konsumen, tapi juga mengurangi eksposur risiko perusahaan pembiayaan.
Tantangan di Luar Kota Besar
Jodjana juga menekankan bahwa penetrasi mobil listrik masih sangat terkonsentrasi di kota-kota besar seperti Jabodetabek. Di wilayah ini, konsumen bisa menikmati berbagai fasilitas seperti kebijakan bebas ganjil-genap, biaya pajak yang rendah, dan infrastruktur charging yang lebih siap.
7. Infrastruktur Charging Masih Kurang di Wilayah Terpencil
Di luar kota besar, infrastruktur pengisian daya masih sangat terbatas. Ini menjadi penghambat utama bagi konsumen untuk beralih ke mobil listrik.
8. Purna Jual dan Garansi Masih Jadi PR
Masalah lainnya adalah ketersediaan layanan purna jual dan garansi. Banyak konsumen di daerah masih ragu karena khawatir tidak mendapat dukungan teknis yang memadai.
9. Kesiapan Konsumen Menentukan Adopsi Teknologi
Keberhasilan mobil listrik tidak hanya soal harga atau teknologi. Kesiapan konsumen juga menjadi faktor penentu. Di kota besar, kesadaran lingkungan dan akses ke fasilitas pendukung lebih tinggi, sehingga adopsi lebih cepat.
Strategi Multifinance Harus Lebih Selektif
Menghadapi perubahan ini, multifinance harus lebih selektif dalam menilai konsumen. Segmentasi pasar yang tepat, penilaian risiko yang akurat, dan fleksibilitas dalam skema pembiayaan menjadi kunci agar portofolio leasing tetap sehat.
10. Evaluasi Berkala terhadap Portofolio
Perusahaan pembiayaan perlu melakukan evaluasi berkala terhadap portofolio kendaraan listrik mereka. Ini untuk memastikan bahwa risiko tetap terkendali dan tidak terjadi konsentrasi risiko yang berlebihan pada satu segmen.
11. Edukasi Konsumen Harus Ditingkatkan
Edukasi konsumen juga menjadi bagian penting. Banyak calon pembeli masih kurang memahami bagaimana mobil listrik bekerja, termasuk biaya operasional dan manfaat jangka panjangnya.
12. Kolaborasi dengan Pemerintah dan Produsen
Kolaborasi dengan pemerintah dan produsen mobil juga perlu ditingkatkan. Ini untuk memastikan bahwa kebijakan, infrastruktur, dan produk bisa disesuaikan dengan kebutuhan pasar secara realistis.
Tabel Perbandingan Risiko antara BEV dan Hybrid
| Kriteria | BEV (Battery Electric Vehicle) | Hybrid |
|---|---|---|
| Risiko Default | Tinggi | Rendah |
| Depresiasi Nilai | Cepat (>50% dalam 3 tahun) | Lambat |
| Infrastruktur Dibutuhkan | Tinggi (Charging Station) | Rendah |
| Biaya Operasional | Rendah | Sedang |
| Target Pasar | Kota Besar | Luas (Termasuk Daerah) |
Disclaimer
Data dan prediksi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi hingga Maret 2026. Angka dan kondisi pasar bisa berubah seiring perkembangan kebijakan, teknologi, dan perilaku konsumen. Informasi ini tidak dimaksudkan sebagai saran finansial atau investasi.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.












