Di tengah perlambatan kinerja keuangan yang tercatat, sejumlah bank di Tanah Air masih konsisten membagikan dividen dalam jumlah besar. Praktik ini menarik perhatian Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang menyatakan akan terus mengawasi agar pembagian dividen tetap sesuai dengan prinsip tata kelola perbankan yang sehat.
Fenomena ini cukup mengejutkan, mengingat banyak bank mencatatkan pertumbuhan laba yang melambat bahkan negatif. Meski begitu, komitmen terhadap investor lewat dividen tinggi tetap dijaga. Bank seperti BNI dan BRI menjadi contoh nyata. BNI mempertahankan rasio pembayaran dividen sebesar 65% meski laba bersihnya turun 6,6% year-on-year. Sementara BRI justru meningkatkan rasio dividen menjadi lebih dari 86%, meski laba juga terkoreksi 5,3%.
Perlambatan Laba, Dividen Tetap Tinggi
Pembagian dividen yang tinggi di tengah kinerja yang melambat memunculkan pertanyaan. Sebenarnya, apa yang mendorong bank untuk tetap “royal” membagikan keuntungan? Jawabannya terletak pada strategi jangka panjang untuk menjaga kepercayaan investor dan daya tarik saham di pasar modal.
Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, menjelaskan bahwa pembagian dividen merupakan bagian dari corporate action yang bertujuan memberikan return kepada pemegang saham. Selain itu, dividen juga menjadi alat untuk menjaga kepercayaan investor dan meningkatkan nilai perusahaan di mata pasar.
Namun, OJK menegaskan bahwa pembagian dividen harus tetap mengacu pada ketentuan yang berlaku, khususnya POJK Nomor 17 Tahun 2023 tentang Penerapan Tata Kelola bagi Bank Umum. Dalam aturan ini, bank diwajibkan memiliki kebijakan dividen yang mempertimbangkan faktor internal dan eksternal serta kinerja profitabilitas.
1. Kebijakan Dividen Harus Sehat dan Berkelanjutan
Bank tidak boleh sembarangan membagikan dividen. Regulator menilai bahwa kebijakan ini harus berbasis pada kondisi keuangan yang sehat dan berkelanjutan. Artinya, meski ingin menarik investor, bank tetap harus menjaga rasio kecukupan modal dan likuiditas agar tidak mengganggu operasional.
2. Faktor Eksternal dan Internal Harus Dipertimbangkan
Sebelum memutuskan pembagian dividen, bank wajib mempertimbangkan berbagai faktor, seperti kondisi ekonomi makro, tekanan likuiditas, dan proyeksi kinerja ke depan. Ini penting agar tidak terjadi ketidakseimbangan antara pembagian keuntungan dan kemampuan bank untuk tumbuh.
3. OJK Terus Awasi Kesehatan Perbankan
Meski pembagian dividen tinggi terlihat positif bagi investor, OJK tetap melakukan pengawasan ketat. Tujuannya adalah memastikan bahwa bank tetap menjalankan operasional dengan prinsip kehati-hatian dan tidak mengorbankan stabilitas demi menarik investor jangka pendek.
Kondisi Perbankan Nasional Masih Solid
Secara umum, OJK menilai kondisi industri perbankan nasional masih dalam posisi yang solid. Pertumbuhan bisnis tetap positif, kualitas aset terjaga, permodalan kuat, dan likuiditas mencukupi. Ini menjadi dasar bahwa meski ada perlambatan laba, bank masih bisa membagikan dividen tanpa membahayakan operasional.
Namun, OJK tetap memastikan bahwa pengawasan dilakukan secara efektif. Tujuannya adalah menjaga stabilitas sektor perbankan sebagai agen pembangunan dan penggerak ekonomi nasional. Dengan pengawasan yang ketat, diharapkan bank tidak terlalu agresif dalam membagikan dividen jika kondisi keuangan belum memungkinkan.
Dividen Tinggi, Apakah Itu Tanda Baik?
Bagi investor, dividen tinggi terdengar sangat menarik. Tapi, apakah ini selalu menjadi indikator kesehatan perusahaan? Tidak selalu. Dividen tinggi bisa jadi strategi jangka pendek untuk menarik minat investor, terutama di tengah pasar modal yang kompetitif.
Investor ritel, yang jumlahnya terus meningkat di pasar modal Indonesia, sangat terbantu dengan kebijakan dividen yang atraktif. Ini bisa menjadi katalis bagi semakin banyaknya minat masyarakat umum untuk berinvestasi di saham-saham perbankan.
Namun, dari sisi manajemen bank, penting untuk tidak terjebak pada ekspektasi investor jangka pendek. Kebijakan dividen harus seimbang dengan rencana investasi jangka panjang, pengembangan bisnis, dan penguatan struktur permodalan.
Perbandingan Dividen Bank Besar di Tahun 2025
Berikut adalah rincian pembagian dividen beberapa bank besar di tahun buku 2025:
| Bank | Rasio Dividen | Pertumbuhan Laba Bersih |
|---|---|---|
| BNI | 65% | -6,6% |
| BRI | >86% | -5,3% |
| Mandiri | 70% | -2,1% |
| BCA | 60% | -1,8% |
Catatan: Data bersifat estimasi dan dapat berubah sesuai laporan tahunan masing-masing bank.
1. Evaluasi Kebijakan Dividen Tiap Triwulan
Bank perlu mengevaluasi kebijakan dividen setiap triwulan berdasarkan kinerja keuangan dan kondisi pasar. Ini memastikan bahwa pembagian dividen tetap realistis dan tidak membebani struktur keuangan.
2. Konsultasi dengan Regulator
Bank juga disarankan untuk berkonsultasi dengan OJK sebelum menetapkan kebijakan dividen. Ini membantu memastikan bahwa kebijakan tersebut tidak bertentangan dengan prinsip tata kelola perbankan yang baik.
3. Transparansi Informasi kepada Investor
Transparansi menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan investor. Bank wajib menyampaikan informasi terkait kebijakan dividen, kondisi keuangan, dan proyeksi kinerja secara jelas dan akurat.
Kesimpulan
Bank di Indonesia tetap menjaga komitmen terhadap investor dengan membagikan dividen tinggi meski kinerja laba sedang melambat. OJK mengakui hal ini sebagai bagian dari strategi menarik investor, namun tetap mengingatkan pentingnya menjaga prinsip tata kelola yang sehat.
Investor pun perlu cerdas dalam melihat kebijakan dividen. Angka tinggi tidak selalu berarti baik, terutama jika tidak diimbangi dengan kinerja keuangan yang stabil dan prospek pertumbuhan yang jelas.
Sebagai lembaga pengawas, OJK akan terus memastikan bahwa bank menjalankan kebijakan dividen secara bertanggung jawab. Tujuannya adalah menjaga stabilitas sektor perbankan dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan laporan resmi masing-masing bank dan kebijakan regulator terkait.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













