Ilustrasi emas. Foto: Dok Bappebti
Harga emas dunia cenderung stabil di kisaran USD5.000 per ons menjelang pertengahan Maret 2026. Pergerakan logam mulia ini cukup terbatas meski ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin memanas. Pasar tampak waspada, menunggu respons lebih lanjut dari berbagai pihak, termasuk langkah-langkah kebijakan moneter dari bank sentral besar dunia.
Emas tetap menjadi pilihan utama investor saat ketidakpastian global meningkat. Namun, kenaikan harga yang signifikan belum terjadi karena sentimen pasar masih terbelah. Di satu sisi, permintaan aset aman meningkat. Di sisi lain, tekanan dari inflasi dan suku bunga tinggi membuat emas kurang menarik sebagai instrumen tanpa yield.
Harga Emas Dunia Tetap di Zona Aman
Harga emas spot terpantau stabil di angka USD5.008,55 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas juga tidak menunjukkan pergerakan dramatis, tetap berada di kisaran USD5.011,96 per ons. Angka ini menunjukkan bahwa pasar sedang mencerna berbagai isu global yang tengah berkembang.
Perak dan platinum juga mengalami kenaikan kecil. Perak naik 0,4 persen menjadi USD79,6365 per ons, sedangkan platinum naik 0,2 persen ke level USD2.135,26 per ons. Meski demikian, kenaikan ini belum cukup untuk mengubah tren utama logam mulia yang masih berada dalam korelasi erat dengan dinamika geopolitik dan ekonomi global.
- Pergerakan Emas dalam Sebulan Terakhir
Dalam sebulan terakhir, harga emas berada di kisaran USD5.000 hingga USD5.200 per ons. Rentang ini mencerminkan keseimbangan antara permintaan safe haven dan tekanan dari kebijakan moneter ketat. Investor tampaknya belum siap untuk mengambil posisi agresif, meski situasi di Timur Tengah semakin memburuk.
- Faktor Pendorong Stabilitas Harga Emas
Beberapa faktor utama menjaga harga emas tetap stabil:
- Ketegangan antara AS-Israel dan Iran belum memicu lonjakan permintaan emas secara besar-besaran.
- Bank sentral dunia, termasuk Federal Reserve, belum mengubah kebijakan suku bunga secara drastis.
- Inflasi energi akibat gangguan pasokan minyak belum berdampak langsung pada permintaan emas fisik.
Konflik Timur Tengah dan Dampaknya pada Pasar Emas
Konflik di Timur Tengah semakin intens, terutama setelah serangan udara Israel yang menewaskan kepala keamanan Iran, Ali Larijani. Meski begitu, emas belum menunjukkan reaksi yang kuat. Investor tampaknya masih menahan diri, menunggu perkembangan lebih lanjut dari situasi di kawasan tersebut.
Harga minyak mentah tetap tinggi, berada di atas USD100 per barel. Lonjakan harga energi ini berpotensi memicu inflasi yang lebih luas. Namun, dampaknya terhadap pasar emas masih terbatas karena belum terlihat lonjakan permintaan emas fisik secara global.
- Dampak Inflasi Energi terhadap Emas
Inflasi energi yang dipicu oleh gangguan pasokan minyak di Selat Hormuz menjadi perhatian utama. Lonjakan harga minyak bisa memicu kenaikan harga barang dan jasa secara umum. Ini berpotensi membuat bank sentral menaikkan suku bunga, yang pada gilirannya bisa menekan harga emas.
- Respons Bank Sentral Global
Bank sentral dunia saat ini sedang memantau situasi dengan cermat. Beberapa bank, seperti Reserve Bank of Australia, bahkan baru saja menaikkan suku bunga. Langkah ini diambil sebagai antisipasi terhadap tekanan inflasi yang semakin besar.
Berikut adalah jadwal pertemuan penting bank sentral dalam beberapa hari ke depan:
| Bank Sentral | Tanggal Pertemuan | Fokus Utama |
|---|---|---|
| Federal Reserve | Rabu, 18 Maret 2026 | Kebijakan suku bunga dan proyeksi inflasi |
| Bank of Japan | Akhir pekan | Kebijakan moneternya |
| Bank Sentral Eropa | Akhir pekan | Inflasi dan pertumbuhan ekonomi |
| Bank Nasional Swiss | Akhir pekan | Stabilitas mata uang |
| Bank of England | Akhir pekan | Inflasi dan dampak geopolitik |
- Prediksi Pasar terhadap Kebijakan The Fed
Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini. Namun, fokus utama pasar adalah apakah bank sentral AS akan mengubah proyeksi inflasi akibat konflik Iran. Jika The Fed menunjukkan sikap lebih hawkish, harga emas bisa mengalami tekanan.
Perlambatan Lonjakan Permintaan Emas
Meski situasi global semakin tidak menentu, permintaan emas belum menunjukkan lonjakan besar. Investor tampaknya masih menunggu sinyal yang lebih jelas sebelum mengambil langkah signifikan. Ini menjelaskan mengapa harga emas tetap berada di kisaran yang relatif stabil meski ada ketegangan geopolitik.
- Faktor yang Menahan Permintaan Emas
Ada beberapa alasan mengapa permintaan emas belum melonjak:
- Investor masih menunggu kejelasan dari bank sentral.
- Suku bunga tinggi membuat emas kurang menarik sebagai aset tanpa yield.
- Pasar saham dan obligasi masih menawarkan potensi return yang kompetitif.
- Peran Emas sebagai Aset Refugia
Emas tetap dipandang sebagai aset refugia utama dalam situasi ketidakpastian. Namun, efektivitasnya sebagai safe haven bisa berkurang jika tekanan inflasi dan suku bunga terus tinggi. Dalam kondisi seperti ini, investor lebih memilih instrumen berimbang yang menawarkan return dan keamanan.
Penutup: Emas di Titik Kritis
Harga emas saat ini berada di titik kritis. Di satu sisi, ada tekanan dari ketegangan geopolitik yang bisa mendorong permintaan safe haven. Di sisi lain, kebijakan moneter ketat dan tekanan inflasi bisa menekan harga emas lebih lanjut.
Investor perlu terus memantau perkembangan di Timur Tengah serta kebijakan bank sentral global. Kombinasi faktor ini akan menentukan arah harga emas dalam beberapa pekan ke depan.
Disclaimer: Data harga emas dan kebijakan bank sentral dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi global. Informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan tidak dimaksudkan sebagai saran investasi.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













