Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok ke level 7.022 pada penutupan perdagangan Senin, 16 Maret 2026. Pergerakan ini terjadi seiring ketegangan geopolitik yang semakin memanas, khususnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Sentimen negatif langsung dirasakan di pasar modal domestik, dengan IHSG yang sempat berada di level tertinggi 7.120 namun akhirnya terdorong turun ke posisi 6.917 sebelum ditutup di kisaran 7.022.
Penurunan indeks mencatatkan angka 114,924 poin atau sekitar 1,61 persen. Volume transaksi yang tercatat cukup tinggi, yakni mencapai 32,073 miliar saham senilai Rp15,984 triliun. Dari total saham yang diperdagangkan, hanya 180 saham yang mengalami kenaikan, sementara 542 saham lainnya justru melemah. Sebanyak 98 saham lainnya stagnan, tidak menunjukkan pergerakan signifikan.
Sentimen Global Tekan Pergerakan IHSG
Kondisi ini tidak terlepas dari situasi ketidakpastian global yang semakin tinggi. Fokus pasar kini tertuju pada sejumlah agenda penting, terutama pertemuan The Fed dalam rangkaian kebijakan Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan berlangsung pada 17-18 Maret 2026 mendatang. Pertemuan ini akan merilis proyeksi ekonomi terbaru dan memberikan sinyal arah kebijakan suku bunga, terutama di tengah lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah.
Lonjakan harga energi global mulai mengubah ekspektasi investor terhadap kebijakan moneter. Pasar kini memperkirakan bahwa The Fed hanya akan melakukan satu kali pemangkasan suku bunga hingga akhir tahun, turun dari ekspektasi sebelumnya yang memproyeksikan dua kali pemangkasan. Perubahan ini menunjukkan bahwa bank sentral AS mungkin akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk menekan inflasi yang masih tinggi.
1. Data Ekonomi AS Picu Kekhawatiran
Data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat memperkuat kekhawatiran tersebut. Produk Domestik Bruto (PDB) AS pada kuartal IV 2025 direvisi turun menjadi 0,7 persen, menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang melambat. Di sisi lain, inflasi inti (core PCE) pada Januari 2026 mencatatkan kenaikan 3,1 persen, jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2 persen.
2. Kebijakan Moneter Diprediksi Tetap Ketat
Kombinasi pertumbuhan yang melambat dan inflasi yang tetap tinggi membuat investor makin waspada. Kebijakan moneter yang ketat diperkirakan akan berlangsung lebih lama, yang pada akhirnya memengaruhi aliran modal global dan kinerja pasar saham secara keseluruhan.
Perang AS-Iran Sentuh Sentimen Pasar
Di tengah situasi ini, perhatian investor juga tertuju pada perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Serangan terhadap fasilitas energi dan ancaman penutupan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz menjadi fokus utama. Gangguan pada jalur energi global ini berpotensi memicu kenaikan harga minyak mentah dan komoditas lainnya, yang berimbas langsung pada stabilitas ekonomi dunia.
3. Ancaman Terhadap Jalur Energi Global
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur paling strategis untuk distribusi minyak global. Penutupan atau gangguan di jalur ini bisa memicu lonjakan harga energi secara signifikan, yang berdampak pada biaya produksi dan inflasi di berbagai negara.
4. Potensi Serangan Lanjutan Jadi Sorotan
Investor juga terus memantau potensi serangan lanjutan dari Iran, terutama terhadap infrastruktur energi di kawasan. Ketidakpastian ini membuat pasar cenderung waspada dan memilih strategi investasi yang lebih konservatif.
Dinamika Geopolitik Asia Pasifik
Selain konflik Timur Tengah, perhatian juga tertuju pada dinamika geopolitik di kawasan Asia Pasifik. Pertemuan antara pejabat ekonomi AS dan Tiongkok di Paris menjadi sorotan, terutama terkait rencana pembahasan mekanisme perdagangan menjelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada akhir Maret 2026.
5. Rencana Pertemuan Trump-Xi Jadi Harapan
Pertemuan ini diharapkan bisa membuka ruang dialog untuk mengurangi ketegangan perdagangan antara kedua negara. Diskusi yang melibatkan sektor pertanian, energi, dan mineral kritis menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat hubungan ekonomi bilateral.
6. Investasi Energi di Kawasan Asia Pasifik Naik
Sementara itu, sekutu AS di kawasan Asia Pasifik sepakat melakukan investasi energi senilai USD57 miliar melalui 22 kesepakatan dengan perusahaan AS. Forum ini, yang diselenggarakan dalam rangka Indo-Pacific Energy Security Forum di Tokyo, menunjukkan upaya AS untuk memperkuat keamanan energi sekutu dan meningkatkan pasokan global.
Reaksi Pasar Saham Domestik
Di tengah gejolak global ini, pasar saham domestik juga menunjukkan respons yang cukup cepat. Investor cenderung memilih posisi wait and see, terutama menjelang libur Lebaran yang menyebabkan bursa saham Indonesia (IDX) tidak beroperasi untuk beberapa hari. Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, menyarankan agar investor menyimpan lebih banyak cash untuk mengantisipasi potensi gejolak di pasar global.
7. Strategi Investor: Simpan Cash dan Hindari Spekulasi
Dengan banyaknya ketidakpastian global, investor lebih memilih menjaga likuiditas daripada terjun ke pasar yang fluktuatif. Hal ini terlihat dari jumlah saham yang melemah jauh lebih banyak dibandingkan saham yang menguat.
8. Fokus pada Emiten Defensif
Saham-saham defensif seperti sektor konsumsi dan kesehatan cenderung lebih tahan terhadap gejolak pasar. Investor mencari aset yang memiliki kinerja stabil meski dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu.
Tabel Pergerakan IHSG Hari Ini
Berikut rincian pergerakan IHSG pada perdagangan Senin, 16 Maret 2026:
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Penutupan IHSG | 7.022 |
| Perubahan Poin | -114,924 |
| Persentase Perubahan | -1,61% |
| Level Tertinggi | 7.120 |
| Level Terendah | 6.917 |
| Volume Transaksi | 32,073 miliar saham |
| Nilai Transaksi | Rp15,984 triliun |
| Kapitalisasi Pasar | Rp12,439 triliun |
| Frekuensi Transaksi | 1.674.897 kali |
| Jumlah Saham Menguat | 180 |
| Jumlah Saham Melemah | 542 |
| Jumlah Saham Stagnan | 98 |
Disclaimer
Data dan informasi yang disajikan dalam artikel ini bersifat terbatas pada kondisi perdagangan hingga penutupan Senin, 16 Maret 2026. Angka dan situasi pasar dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada dinamika global yang terus berkembang. Pembaca disarankan untuk selalu memantau perkembangan terkini dari sumber resmi terkait sebelum membuat keputusan investasi.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













