Nasional

Performa Sektor Energi Seret IHSG ke Level 7.106 pada Awal Perdagangan Tahun 2026 Ini

Herdi Alif Al Hikam
×

Performa Sektor Energi Seret IHSG ke Level 7.106 pada Awal Perdagangan Tahun 2026 Ini

Sebarkan artikel ini
Performa Sektor Energi Seret IHSG ke Level 7.106 pada Awal Perdagangan Tahun 2026 Ini

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan dinamika yang cukup menantang pada perdagangan awal pekan. Penutupan pasar mencatatkan pelemahan sebesar 22,97 poin atau 0,32 persen ke level 7.106,52.

Kondisi serupa juga dialami oleh indeks LQ45 yang berisi jajaran saham unggulan. Indeks tersebut harus rela turun ke posisi 686,74 di tengah sentimen pasar yang masih fluktuatif.

Dinamika Pergerakan IHSG dan Tekanan Sektor Energi

Pergerakan IHSG pada hari ini sebenarnya sempat memberikan harapan bagi para pelaku pasar. Sempat berada di zona hijau hampir sepanjang sesi perdagangan, indeks justru tertekan aksi jual menjelang penutupan pasar.

Tekanan utama datang dari sektor energi yang mencatatkan penurunan paling dalam sebesar 1,21 persen. Kondisi ini seolah menjadi pemberat bagi laju indeks di tengah upaya pemulihan yang sedang dilakukan.

Berikut adalah daftar saham yang mencatatkan pergerakan signifikan pada penutupan perdagangan:

  • Saham dengan penguatan terbesar: JAWA, ESIP, IFSH, BOBA, dan SMMT.
  • Saham dengan pelemahan terdalam: HOPE, BABY, KDTN, BRNA, dan ENRG.

Tabel di bawah ini merangkum data statistik perdagangan saham pada penutupan sesi Senin:

Indikator Perdagangan Nilai/Data
Penutupan IHSG 7.106,52
Perubahan Poin -22,97 (-0,32%)
Total Nilai Transaksi Rp16,57 Triliun
Volume Perdagangan 33,17 Miliar lembar
2,20 Juta kali

Data di atas menunjukkan tingginya aktivitas perdagangan meskipun indeks mengalami koreksi. Sebanyak 408 saham tercatat menguat, sementara 264 saham melemah dan 147 saham lainnya tidak bergerak.

Sentimen Domestik dan Investasi Asing

Di balik koreksi indeks, terdapat kabar positif dari sektor investasi yang menjadi penyokong nasional. Data investasi asing langsung (FDI) di luar sektor keuangan dan migas tumbuh 8,5 persen secara tahunan menjadi Rp250 triliun pada kuartal I-2026.

Pertumbuhan ini menjadi sinyal positif karena terjadi selama dua kuartal berturut-turut. Sebelumnya, pada kuartal IV 2025, investasi tercatat meningkat sebesar 4,3 persen secara tahunan.

Untuk memahami lebih dalam mengenai arus modal masuk tersebut, berikut adalah rincian tahapan pertumbuhan investasi yang terjadi:

  1. Kuartal IV 2025: Mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,3 persen secara tahunan.
  2. Kuartal I 2026: Terjadi akselerasi pertumbuhan menjadi 8,5 persen secara tahunan.
  3. Sektor Utama: Industri logam dasar menjadi kontributor terbesar dengan nilai mencapai USD3,7 miliar.

Selain data investasi, pemerintah juga memberikan sinyal dukungan bagi pasar modal. Kementerian Keuangan mulai mempertimbangkan pemberian insentif berupa pengurangan pajak bagi pasar modal Indonesia.

Langkah ini diambil dengan catatan bahwa program yang dijalankan oleh otoritas bursa mampu menunjukkan hasil yang positif. Stimulus ini diharapkan menjadi angin segar bagi investor di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Pengaruh Geopolitik dan Kondisi Pasar Asia

di kawasan Asia cenderung menunjukkan yang berbeda dibandingkan dengan IHSG. Mayoritas indeks saham Asia justru ditutup menguat pada perdagangan Senin.

Indeks Nikkei 225 dan Kospi bahkan berhasil ditutup pada rekor tertinggi. Selain itu, data keuntungan industri di Tiongkok juga mengalami perbaikan menjadi 15,5 persen pada Maret 2026 dari sebelumnya 15,2 persen di bulan Februari.

Ketidakpastian geopolitik global tetap menjadi perhatian utama yang membayangi pergerakan pasar. Berikut adalah beberapa poin terkait dinamika geopolitik yang memengaruhi sentimen investor:

  1. Konflik -Iran: Belum adanya perundingan diplomatik resmi antara kedua negara.
  2. Harga Minyak: Harga minyak mentah global masih bertahan di level yang cukup tinggi.
  3. Proposal Iran: Adanya tawaran proposal baru dari Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
  4. Program Nuklir: Usulan penundaan pembicaraan terkait program nuklir yang masih menjadi perdebatan.

Meski isu geopolitik terus bergulir, pelaku pasar kini mulai mengalihkan fokus pada kebijakan moneter regional. Perhatian tertuju pada pertemuan Bank of Japan yang dijadwalkan berlangsung pada 28 .

Ekspektasi pasar menunjukkan bahwa acuan diperkirakan masih akan dipertahankan pada level 0,75 persen. Keputusan ini akan menjadi penentu arah pergerakan pasar modal di kawasan Asia pada hari-hari berikutnya.

Kombinasi antara sentimen domestik yang suportif dan ketidakpastian global yang masih tinggi menciptakan volatilitas pada IHSG. Investor disarankan untuk tetap memperhatikan rilis data ekonomi serta perkembangan kebijakan fiskal pemerintah.

Perlu diingat bahwa data dan informasi yang tersaji dalam artikel ini bersifat informatif dan dapat mengalami perubahan sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar yang dinamis. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pelaku pasar dengan mempertimbangkan analisis mandiri serta profil risiko masing-masing.

Herdi Alif Al Hikam
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.