Perbankan

OJK Pastikan Kualitas NPL KUR di Bank Himbara Tetap Terjaga dengan Baik

Herdi Alif Al Hikam
×

OJK Pastikan Kualitas NPL KUR di Bank Himbara Tetap Terjaga dengan Baik

Sebarkan artikel ini
OJK Pastikan Kualitas NPL KUR di Bank Himbara Tetap Terjaga dengan Baik

Usaha Rakyat (KUR) melalui bank Himbara masih menunjukkan performa yang stabil meski berada di tengah-tengah dinamika ekonomi yang terus bergerak. Otoritas Jasa () mencatat bahwa Non Performing Loan (NPL) KUR tetap terjaga, sejalan dengan pertumbuhan kredit secara nasional. Ini menunjukkan bahwa meski ada tantangan, perbankan syariah di Indonesia masih mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan risiko.

Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, menjelaskan bahwa kredit UMKM, termasuk KUR, memiliki karakteristik yang sangat bergantung pada kondisi ekonomi makro. Artinya, fluktuasi penyaluran dan kualitas kredit bisa naik turun seiring dengan perubahan daya masyarakat dan riil.

Kondisi Kredit UMKM dan KUR Saat Ini

Penyaluran kredit UMKM secara keseluruhan mencatat kontraksi sebesar 0,53 persen secara year-on-year. Meski begitu, KUR masih menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 0,16 persen yoy, dengan total penyaluran mencapai Rp439,40 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa KUR tetap menjadi instrumen penting dalam mendukung sektor usaha kecil meski dalam kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Rasio NPL KUR saat ini berada di level 2,37 persen. Angka ini memang sedikit naik dari posisi Desember 2025 yang sebesar 2,05 persen, namun masih dalam batas wajar dan tidak menunjukkan krisis. OJK menilai bahwa peningkatan NPL ini lebih merupakan dampak dari perlambatan ekonomi dan bukan karena masalah struktural dalam sistem perbankan.

Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Kredit

Beberapa faktor eksternal menjadi penyebab utama meningkatnya tekanan pada kualitas kredit. Di antaranya adalah:

  1. Penurunan daya beli masyarakat akibat inflasi dan kebutuhan pokok.
  2. Perlambatan aktivitas ekonomi di sektor riil, terutama yang berdampak langsung pada usaha kecil dan mikro.

Meski demikian, OJK menegaskan bahwa bank Himbara tetap menjalankan prinsip tata kelola yang baik. Termasuk dalam hal penerapan manajemen risiko yang ketat dan selektif dalam penyaluran kredit.

Strategi Manajemen Risiko Bank Himbara

Bank Himbara tidak hanya fokus pada penyaluran kredit, tetapi juga pada pengelolaan risiko yang berkelanjutan. Beberapa langkah yang dilakukan antara lain:

  1. Melakukan analisis kredit dan scoring secara ketat sebelum menyalurkan kredit.
  2. Membentuk Cadangan Kerugian Penyaluran Kredit (CKPN) yang memadai untuk menyerap risiko gagal bayar.
  3. Melakukan monitoring risiko konsentrasi dan portofolio kredit secara berkala.

Selain itu, bank juga memberikan opsi restrukturisasi kredit bagi debitur yang masih memiliki prospek usaha. Langkah ini membantu mencegah peningkatan NPL secara tiba-tiba dan memberikan ruang pemulihan bagi usaha kecil yang terdampak.

Perbandingan Kinerja Kredit Perbankan

Berikut adalah rincian kinerja kredit perbankan secara umum dan kredit UMKM/KUR pada Januari 2026:

Kategori Kredit Pertumbuhan (%) Total Penyaluran (Rp Triliun) NPL (%)
Kredit Perbankan 9,96 8.557 2,14
Kredit UMKM -0,53 1.482,99 4,60
Kredit KUR 0,16 439,40 2,37

Catatan: Data di atas merupakan data resmi dari OJK per Januari 2026. Angka dapat berubah seiring laporan terbaru dari masing-masing bank.

Kondisi Makro dan Dampaknya pada Kredit

Pertumbuhan ekonomi yang belum sepenuhnya stabil membuat sektor usaha kecil rentan terhadap risiko. Namun, OJK mencatat bahwa bank Himbara mampu menjaga portofolionya tetap sehat meski menghadapi tekanan eksternal.

Loan at Risk (LaR) yang mencatatkan level 9,01 persen menunjukkan bahwa sebagian kecil kredit masih memiliki potensi risiko. Namun, angka ini masih dalam batas toleransi dan tidak mengganggu stabilitas sistem perbankan secara keseluruhan.

Peran OJK dalam Menjaga Stabilitas

OJK terus melakukan pengawasan ketat terhadap bank-bank Himbara. Selain itu, OJK juga melakukan kajian secara berkala untuk memastikan bahwa bank tidak hanya tumbuh, tetapi juga tumbuh dengan risiko yang terkelola dengan baik.

Langkah-langkah pengawasan yang dilakukan antara lain:

  1. Evaluasi terhadap portofolio kredit secara berkala.
  2. Penilaian terhadap kapasitas bank dalam membentuk CKPN.
  3. Pengawasan terhadap konsentrasi risiko di sektor UMKM.

Kesimpulan

Meski berada dalam kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, bank Himbara tetap mampu menjaga kualitas penyaluran kredit, khususnya KUR. Rasio NPL yang terjaga dan pertumbuhan kredit yang positif menunjukkan bahwa sistem perbankan syariah di Indonesia masih solid dan responsif terhadap kebutuhan pelaku usaha kecil.

Namun, tetap perlu kewaspadaan karena kondisi ekonomi masih dinamis. Data dan angka yang disajikan bersifat dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan ekonomi makro serta kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah dan regulator.

Herdi Alif Al Hikam
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.