Bank jumbo Tanah Air—BCA, BRI, Mandiri, dan BNI—telah merilis kinerja keuangan sepanjang 2025. Hasilnya beragam, ada yang tumbuh positif, tapi juga ada yang mengalami tekanan. Meski begitu, secara kolektif, kinerja perbankan tetap menunjukkan ketahanan di tengah dinamika ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa kondisi global masih menjadi tantangan utama bagi sektor perbankan. Namun, kredit perbankan tetap tumbuh positif sepanjang tahun lalu, mencapai 9,69% YoY. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) naik hingga 13,83% YoY, menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap produk perbankan masih tinggi.
Kinerja Laba Bersih Bank Jumbo 2025
Dari empat bank besar ini, BCA kembali memimpin dengan laba bersih tertinggi. Disusul BRI, Mandiri, dan BNI. Namun, tidak semua bank mencatatkan pertumbuhan laba yang positif. BNI justru mengalami penyusutan, meski volume kredit dan dana yang dihimpunnya tumbuh signifikan.
1. BCA: Pertumbuhan Laba dan Transaksi Terbaik
PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mencatatkan laba bersih sebesar Rp57,5 triliun, naik 4,9% YoY. Angka ini menjadikan BCA sebagai bank dengan laba bersih tertinggi di antara bank jumbo lainnya.
Pendapatan bunga bersih BCA naik 4,1% YoY, sementara pendapatan non-bunga melonjak 16% YoY. Total pendapatan operasional naik 5,4% YoY. Rasio cost to income (CIR) juga membaik, menunjukkan efisiensi operasional yang baik.
2. BRI: Laba Bersih Menyusut, Tapi Kredit Tumbuh Kuat
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mencatat laba bersih sebesar Rp57,13 triliun, turun dari Rp60,3 triliun di tahun sebelumnya. Penyusutan ini terjadi meski pendapatan bunga bersih naik 5,52% menjadi Rp150,50 triliun.
Namun, sisi intermediasi BRI tetap solid. Kredit tumbuh 12,67% YoY mencapai Rp1.517,07 triliun. DPK juga naik 7,42% YoY menjadi Rp1.466,84 triliun. Ini menunjukkan bahwa BRI tetap menjadi pilihan utama masyarakat untuk menyimpan dana.
3. Mandiri: Laba Naik Tipis, Kredit dan Dana Tumbuh Signifikan
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) mencatat laba bersih sebesar Rp56,3 triliun, naik tipis 0,93% YoY dari Rp55,78 triliun. Meski kenaikan laba kecil, Mandiri menunjukkan performa kuat di sisi kredit dan dana.
Kredit Mandiri tumbuh 13,4% YoY mencapai Rp1.895 triliun. DPK juga naik signifikan 23,9% YoY menjadi Rp2.106 triliun. Pendapatan non-bunga naik 14,5% YoY, menunjukkan diversifikasi pendapatan yang baik.
4. BNI: Laba Menyusut, Tapi Volume Dana Naik Tajam
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) mencatat laba bersih Rp20,11 triliun, turun 7,15% YoY dari Rp21,66 triliun. Penyusutan ini terjadi meski pendapatan bunga naik 4,22% YoY.
Namun, BNI menunjukkan performa kuat di sisi penghimpunan dana. DPK naik 29,21% YoY menjadi Rp1.040,83 triliun. Kredit juga tumbuh 15,94% YoY mencapai Rp899,53 triliun. Meski begitu, biaya operasional terhadap pendapatan operasional meningkat dari 70,05% menjadi 72,94%.
Perbandingan Kinerja Keuangan Bank Jumbo 2025
Berikut adalah perbandingan kinerja keuangan bank jumbo sepanjang 2025:
| Bank | Laba Bersih (Rp triliun) | Pertumbuhan Laba | Kredit (Rp triliun) | Pertumbuhan Kredit | DPK (Rp triliun) | Pertumbuhan DPK |
|---|---|---|---|---|---|---|
| BCA | 57,5 | +4,9% | 993 | +7,7% | 1.249 | +10,2% |
| BRI | 57,13 | -5,3% | 1.517 | +12,67% | 1.466 | +7,42% |
| Mandiri | 56,3 | +0,93% | 1.895 | +13,4% | 2.106 | +23,9% |
| BNI | 20,11 | -7,15% | 899,53 | +15,94% | 1.040 | +29,21% |
Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Bank Jumbo
1. Tekanan Suku Bunga Acuan
Salah satu faktor utama yang memengaruhi kinerja bank adalah fluktuasi suku bunga acuan BI. Kenaikan suku bunga bisa meningkatkan pendapatan bunga, tetapi juga bisa menekan permintaan kredit.
2. Biaya Operasional yang Meningkat
BNI mencatatkan peningkatan biaya operasional terhadap pendapatan operasional dari 70,05% menjadi 72,94%. Ini menunjukkan bahwa efisiensi biaya masih menjadi tantangan.
3. Kualitas Aset dan NPL
Rasio NPL juga menjadi indikator penting. BNI mencatat penurunan NPL net dari 0,74% menjadi 0,70%, menunjukkan kualitas kredit yang membaik meski laba menyusut.
4. Diversifikasi Pendapatan
Bank seperti BCA dan Mandiri menunjukkan pertumbuhan pendapatan non-bunga yang signifikan. Ini menunjukkan bahwa diversifikasi pendapatan bisa menjadi strategi jitu menghadapi tekanan margin bunga.
Strategi Bank Jumbo Menghadapi Tantangan 2025
1. Fokus pada Digitalisasi
BCA mencatat frekuensi transaksi mobile dan internet banking naik 19% YoY. Ini menunjukkan bahwa bank-bank besar terus berinvestasi pada layanan digital untuk menarik nasabah lebih banyak.
2. Ekspansi Kredit ke Segmen UMKM
Bank Mandiri menunjukkan pertumbuhan kredit UMKM yang tetap positif meski industri melambat. Ini menunjukkan bahwa fokus pada segmen inklusif bisa menjadi pendorong kinerja.
3. Pengelolaan Biaya yang Lebih Efisien
Meski BNI mengalami penyusutan laba, bank ini tetap menunjukkan pertumbuhan DPK yang tinggi. Ini menunjukkan bahwa pengelolaan biaya yang lebih efisien bisa menjadi kunci pemulihan kinerja ke depan.
Kesimpulan
Kinerja bank jumbo sepanjang 2025 menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan, sektor perbankan tetap menunjukkan ketahanan. BCA menjadi yang paling moncer dengan pertumbuhan laba dan transaksi tertinggi. BRI dan Mandiri juga menunjukkan performa solid meski laba BRI sedikit menyusut. BNI mengalami tekanan laba, tetapi volume dana dan kreditnya tumbuh sangat tinggi.
Dengan pendekatan yang tepat—baik dalam digitalisasi, pengelolaan biaya, maupun diversifikasi pendapatan—bank-bank ini punya potensi untuk terus tumbuh di tengah ketidakpastian global.
Disclaimer: Data dalam artikel ini bersumber dari laporan keuangan tahunan bank-bank terkait per Desember 2025. Angka dan kondisi bisa berubah seiring perkembangan ekonomi dan kebijakan makro.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













