Penyaluran kredit di sektor perbankan masih menghadapi tantangan yang tak bisa dianggap remeh. Meski likuiditas perbankan terus mengalir dengan baik, kuncinya kini justru terletak pada keyakinan pelaku usaha untuk kembali menggelindingkan roda ekspansi bisnis mereka. BRI, salah satu bank pelat merah terbesar di Tanah Air, justru menyoroti hal ini sebagai faktor utama yang memengaruhi pertumbuhan kredit di tahun-tahun mendatang.
Hery Gunardi, Direktur Utama BRI, menyampaikan bahwa tantangan utama bukan lagi soal ketersediaan dana. Likuiditas bank bahkan mencatat pertumbuhan yang solid, terutama dari dana pihak ketiga (DPK) yang naik hingga 13,83% secara tahunan di akhir 2025. Namun, pertumbuhan kredit justru melambat dibanding tahun-tahun sebelumnya, hanya mencatat kenaikan 9,69% YoY, lebih rendah dari 10,93% pada 2024.
Keyakinan Pelaku Usaha Jadi Faktor Penentu
Tantangan utama kini bukan dari sisi pasokan dana, melainkan dari sisi permintaan. Artinya, bank sudah siap menyalurkan kredit, tapi pelaku usaha belum sepenuhnya percaya diri untuk mengajukan pinjaman guna ekspansi. Ini jadi tantangan yang lebih dalam dan membutuhkan pendekatan yang lebih dari sekadar stimulus likuiditas.
1. Permintaan Kredit yang Lambat
Data dari Bank Indonesia menunjukkan bahwa perlambatan penyaluran kredit lebih dipicu oleh rendahnya permintaan. Banyak pelaku usaha masih menahan diri untuk mengajukan kredit karena belum melihat prospek usaha yang cukup cerah.
2. Keyakinan yang Belum Pulih Penuh
Keyakinan pelaku usaha terhadap kondisi ekonomi makro dan prospek bisnis mereka sendiri masih menjadi sorotan. Tanpa keyakinan ini, mesin pertumbuhan kredit akan terus tersendat.
3. Kebijakan Bank yang Lebih Selektif
BRI sendiri memilih untuk lebih selektif dalam menyalurkan kredit. Dengan target pertumbuhan kredit antara 7—9% YoY di tahun ini, bank ini ingin memastikan bahwa setiap rupiah yang disalurkan memberikan kontribusi positif terhadap kualitas aset dan laba perusahaan.
Strategi BRI Menghadapi Tantangan Kredit
Meski menghadapi tantangan dari sisi permintaan, BRI tidak tinggal diam. Perseroan mengambil pendekatan yang lebih selektif dan berbasis risiko dalam menyalurkan kredit. Langkah ini diambil agar kualitas portofolio kredit tetap terjaga meskipun pertumbuhan berada di kisaran yang moderat.
1. Fokus pada Sektor Berkualitas
BRI tidak lagi menyalurkan kredit secara luas. Bank ini lebih memilih sektor-sektor yang memiliki prospek usaha kuat dan potensi pengembalian yang baik. Dengan begitu, risiko kredit macet bisa diminimalkan.
2. Menjaga Kualitas Aset
Langkah selektif ini juga bertujuan untuk menjaga kualitas aset BRI. Dengan memastikan bahwa kredit yang disalurkan bermutu, bank ini bisa menjaga laba bersih dan rasio kecukupan modal yang sehat.
3. Mendorong Kredit Hijau
Di tengah fokus pada kualitas, BRI juga terus mengembangkan program kredit hijau. Pada 2025, bank ini berhasil menyalurkan kredit hijau sebesar Rp93,2 triliun, naik 7,62% dibanding tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa BRI tidak hanya fokus pada pertumbuhan, tapi juga pada keberlanjutan.
Data Kredit BRI: Gambaran Terkini
Berikut adalah rincian data kredit BRI hingga akhir 2025:
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Total Penyaluran Kredit | Rp1.521,49 triliun |
| Pertumbuhan Kredit YoY | 12,31% |
| Pertumbuhan DPK YoY | 13,83% |
| Target Pertumbuhan Kredit 2026 | 7—9% YoY |
Perbandingan Kinerja Kredit Tahun 2024 dan 2025
| Aspek | 2024 | 2025 |
|---|---|---|
| Pertumbuhan Kredit YoY | 10,93% | 9,69% |
| Pertumbuhan DPK YoY | 12,15% | 13,83% |
| Fokus Kredit | Umum | Selektif & Hijau |
Penutup
Meski menghadapi tantangan dari sisi permintaan kredit, BRI tetap menunjukkan kinerja yang solid. Dengan pendekatan yang lebih selektif dan berbasis risiko, bank ini berusaha menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas. Namun, pemulihan penuh akan tergantung pada seberapa cepat keyakinan pelaku usaha kembali pulih.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat simulasi berdasarkan informasi hingga Februari 2026. Angka dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi makro ekonomi dan kebijakan perusahaan.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













